Di Balik Riuh Riak Takdir by: alidnobilem.co.id & Achrome Presents Bagian 1: Ayu Rahma ​ Baru dua minggu Ayu Rahma menjalani progra...

Di Balik Riuh Riak Takdir

Di Balik Riuh Riak Takdir
by: alidnobilem.co.id & Achrome Presents

Bagian 1: Ayu Rahma

Baru dua minggu Ayu Rahma menjalani program magang di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Sentra Harapan—rumah sakit rujukan terbesar di wilayah timur negeri. Namun, ia sudah merasa seperti melewati waktu berbulan-bulan. IGD ini adalah sebuah organisme yang tidak pernah tidur. Di balik dindingnya yang beraroma antiseptik, batas antara siang dan malam lebur begitu saja di antara derit roda brankar dan kepanikan yang konstan.

Ketika pertama kali mengenakan jas putihnya, Ayu membayangkan profesi dokter sebagai jalan mulia yang penuh senyuman terima kasih. Kenyataan menamparnya lebih cepat; menolong manusia ternyata berarti bersiap menjadi saksi dari rentetan kesedihan yang datang tanpa jeda.

Malam itu, sirene ambulans kembali melolong, memecah kesunyian koridor. Seorang anak laki-laki berusia delapan tahun dibawa masuk dalam kondisi biru, henti napas akibat tenggelam.

"Ayu, ambil alih! Lanjutkan kompresi dada!" teriak Dokter Han, peluh sudah membanjiri dahinya.

Tangan Ayu gemetar saat menumpu di atas dada kecil yang dingin itu. Satu menit, dua menit, lima menit... jemari Ayu mulai mati rasa, namun ia terus menekan berirama. Dari balik pintu kaca yang buram, sayup-sayup terdengar suara rintihan seorang ibu yang pecah oleh tangis, "Ya Allah... selamatkan anak saya... Ya Allah..."

Suara itu menghantam dada Ayu lebih keras daripada kelelahannya. Ia tersadar, di bawah telapak tangannya bukan sekadar tubuh ringkih yang sedang sekarat, melainkan seluruh harapan sebuah keluarga yang sedang dipertaruhkan di hadapan Sang Pencipta.

Pada menit kedua puluh, keajaiban itu datang. Monitor jantung yang semula bergaris lurus tiba-tiba memekik, menampilkan irama sinus yang kembali stabil.

"Alhamdulillah... ada nadi," bisik seorang perawat, menyeka dahi Ayu.

Namun, napas lega mereka belum sempat terlepas seutuhnya ketika seorang petugas masuk dengan napas memburu. "Korban kecelakaan beruntun di jalan lintas! Lima pasien kategori merah menuju ke sini!"

Kelelahan dipaksa mengalah. Penderitaan manusia kembali mengantre di depan pintu.

Menjelang pergantian shift subuh, Ayu menemukan Dokter Han duduk menyendiri di sudut lorong yang temaram. Matanya merah, kantung matanya menghitam. Di atas pangkuannya, terbuka sebuah mushaf kecil yang ujung-ujungnya sudah menguning.

"Dokter belum pulang?" tanya Ayu pelan, takut mengganggu.

Dokter Han mendongak, lalu tersenyum tipis. "Aku sedang menata hati, Ayu. Mengingat satu ayat."

"Ayat apa, Dok?"

Dokter Han menyentuh baris ayat di mushafnya. "Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar." (QS. At-Talaq: 2).

Beliau menatap Ayu dengan pandangan teduh yang dalam. "Dalam pekerjaan ini, kita akan sering kalah melawan kematian. Kita tidak bisa menyelamatkan semua orang. Kalau aku hanya mengandalkan kepintaran atau fisikku sendiri, aku sudah gila sejak bertahun-tahun lalu. Yang membuatku tetap tegak di IGD ini adalah keyakinan bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan sepersen pun usaha yang kita lakukan dengan ikhlas."

Malam itu, Ayu pulang dengan sebuah pemahaman baru. Kesehatan mental seorang dokter bukan sekadar perkara manajemen stres atau jam tidur. Ini tentang ke mana arah kiblat hati ketika ia sudah berada di batas kemampuan manusianya. Tempat bersandar yang paling kokoh, memang hanya Dia.

 

Bagian 2: Achmad Singgirei

Ratusan kilometer dari kesibukan IGD Sentra Harapan, di wilayah barat yang dirundung konflik agrarian, Achmad Singgirei berdiri menembus kabut pagi pegunungan. Di sekelilingnya, para pemuda desa menatapnya dengan wajah-wajah yang didera kecemasan.

Tanah adat mereka, hutan yang menghidupi leluhur mereka, kini dikepung oleh alat-alat berat atas nama eksploitasi korporasi. Sungai-sungai mulai keruh oleh limbah, dan perlawanan mereka selama ini selalu berbenturan dengan dinding kekuasaan yang tebal.

"Kita mungkin akan kalah hari ini, Mad," bisik seorang kawan di sebelahnya, jemarinya gemetar memegang spanduk kain.

Achmad mengangguk pelan. Ia tidak buta logika. Kekuatan mereka kalah segalanya. Namun, sekelebat nasihat almarhum ayahnya terngiang di kepala, mengutip sebuah hadis: "Katakanlah yang benar walaupun itu pahit."

Bagi Achmad, perjuangan ini bukan lagi soal kalkulasi menang atau kalah di atas kertas dunia. Ini adalah soal bagaimana ia akan menjawab pertanyaan Allah di mahkamah akhirat kelak tentang di mana posisinya saat kezaliman merajalela.

Fajar pecah bersamaan dengan pecahnya bentrokan. Suara letupan gas air mata dan benturan tameng besi mengguncang lereng gunung. Asap hitam mengepul, mengaburkan pandangan. Dalam hitungan menit, kekacauan merebak. Kawan-kawan yang semalam masih makan singkong rebus bersamanya kini bertumbangan, ditarik paksa, atau terluka.

Sebuah dentuman keras di dekat semak membuat tubuh Achmad terpental. Rasa panas yang membakar langsung menjalar dari bahu hingga ke dadanya, disusul cairan hangat yang merembes cepat menembus baju kaosnya yang dekil.

Saat relawan medis darurat berhasil menarik tubuhnya ke dalam mobil ambulans yang bergerak cepat, kesadaran Achmad mulai timbul tenggelam. Rasa sakitnya luar biasa, seolah dadanya dihimpit batu besar. Namun, di antara deru napasnya yang putus-putus, bibirnya yang berlumur debu tetap bergerak melafalkan satu kalimat:

"Hasbunallahu wa ni'mal wakil..." (Cukuplah Allah menjadi penolong kami).

Achmad memejamkan mata saat ambulans melesat membelah jalanan. Ia tidak tahu apakah esok tanah desanya akan tetap hilang. Namun ia tahu, Allah telah mencatat di pihak mana ia jatuh tersungkur.

 

Bagian 3: Alid Mu'min

Sementara itu, di ibu kota yang berkilau oleh cahaya gedung pencakar langit, Alid Mu'min sedang menikmati sup hangat buatan ibunya. Momen yang teramat mewah bagi seorang pemuda yang tergabung dalam satuan pasukan taktis pertahanan udara kota. Tawa ayahnya memenuhi ruang makan, mengaburkan sejenak ketegangan politik luar negeri yang belakangan menghiasi layar televisi.

Lalu, kedamaian itu pecah berkeping-keping.

Sirene pertanda serangan udara kota meraung panjang—nada statis yang mengerikan. Alat komunikasi di pergelangan tangan Alid bergetar hebat, menampilkan status: Ancaman Udara Level Merah. Invasi Terkonfirmasi.

Langit malam ibu kota mendadak berubah merah akibat rentetan ledakan. Bangunan-bangunan ikonik berguncang, debu dan kepanikan massal tumpah ke jalanan dalam hitungan detik.

Alid berdiri dengan tegang, menatap kedua orang tuanya. Ibunya, dengan tangan yang dingin namun mantap, menggenggam jemari Alid. "Pergilah, Nak. Jika perlindungan orang banyak adalah jalan kebaikanmu, maka Allah yang akan menjaga kami di sini."

Alid mengangguk seraya menahan buncah di dada. "Doakan Alid, Bu, Yah."

Dengan baju zirah taktisnya, Alid melesat ke tengah kekacauan malam. Berjam-jam berikutnya adalah neraka dunia. Alid bertarung di antara puing-puing, menahan reruntuhan gedung demi menyelamatkan anak-anak yang terjebak, mengoordinasikan evakuasi, dan menjadi tameng bagi ribuan warga sipil yang bahkan tidak tahu siapa namanya.

Ketika fajar menyingsing dan sisa-sisa armada musuh berhasil dipukul mundur, kota itu meledak dalam sorak-sorai. Kamera media langsung menyorot wajah Alid yang kelelahan. Narasi berita pagi itu seragam: Alid Mu'min, sang pahlawan, penyelamat ibu kota.

Namun, ketika langkah kai yang berat membawa Alid kembali ke rumahnya di pinggiran kota, ia tidak menemukan pesta sambutan. Yang menyambutnya hanyalah meja makan dengan sisa sup yang sudah mendingin membeku. Kursi-kursi kosong. Di kamar, kedua orang tuanya telah tertidur pulas dengan wajah yang teramat lelah—sisa dari semalaman diliputi kecemasan yang mencekik.

Alid duduk sendirian di meja makan yang sunyi. Riuh tepuk tangan warga kota di luar sana mendadak menguap, menyisakan ruang hampa yang besar di dadanya. Di sudut meja, tergeletak mushaf usang milik ayahnya. Alid meraihnya, membuka lembarannya secara acak, dan matanya terpaku pada sebuah untaian ayat:

"Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." (QS. Ar-Ra'd: 28).

Air mata Alid menetes, jatuh di atas permukaan meja. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia menyadari sebuah kebenaran yang mutlak: pujian seluruh dunia tidak akan pernah bisa mengobati rasa sepi dan rapuhnya jiwa manusia. Popularitas dan medali kemenangan adalah fatamorgana. Ketenangan yang sejati hanya datang ketika jiwa ini bersujud di hadapan Sang Pemilik Semesta.

 

Bagian 4: Epilog

Dua hari setelah rangkaian peristiwa besar tersebut, IGD Rumah Sakit Sentra Harapan menjelma menjadi muara dari berbagai fragmen takdir manusia. Rumah sakit ini menampung segalanya; luka dari konflik agraria di barat, korban luka-luka akibat invasi di ibu kota, hingga penyakit-penyakit harian yang tak kalah mematikan.

Di salah satu ranjang observasi, Achmad Singgirei berbaring tenang dengan dada yang dibalut perban berlapis. Di ruang tunggu yang padat, Alid Mu'min duduk menyandar pada dinding, setia menunggu rekannya yang sedang berjuang di dalam ruang operasi.

Sementara itu, Ayu Rahma berjalan menyusuri koridor sibuk sambil mendekap tumpukan berkas pasien. Langkahnya terhenti sejenak, matanya menyapu ruangan.

Ia melihat Dokter Han yang masih memeriksa pasien dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya. Ia melihat Achmad Singgirei yang melempar senyum tulus kepada perawat meski napasnya masih dibantu selang oksigen. Ia juga melihat Alid Mu'min, sang pahlawan televisi, yang kini duduk tertunduk seolah melepaskan seluruh beban keangkuhan dunia di lantai rumah sakit.

Pada titik itulah, Ayu akhirnya memahami makna sejati dari kata bertahan.

Bertahan ternyata bukan sekadar urusan biologis—tentang jantung yang masih berdenyut atau napas yang belum putus. Bertahan adalah manifesto iman: tetap menabur kebaikan saat raga didera lelah yang hebat, tetap menggenggam kejujuran di bawah tekanan yang menghimpit, tetap rida saat takdir berjalan tidak sesuai rencana, dan tetap mengetuk pintu langit ketika seluruh pintu di bumi telah tertutup rapat.

Dunia mungkin akan selalu sibuk memuja kekuatan fisik, kilau kekuasaan, atau riuhnya popularitas. Namun di hadapan Allah, seluruh hiasan itu luruh. Yang tersisa hanyalah sekeping hati yang takwa.

Pahlawan sejati bukanlah mereka yang selalu berdiri tegak di atas panggung kemenangan dengan sorot lampu. Melainkan jiwa-jiwa yang berjuang dalam heningnya malam, menelan air mata mereka sendiri, lalu dalam setiap sujudnya tetap berbisik dengan penuh kepasrahan:

"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan hanya kepada-Nyalah kami akan kembali."

  

Note: Ini hanyalah cerita fiksi, jadi jangan terlalu diambil hati.

 

0 komentar:

About