Kalau Suka, Bilang!
by: alidnobilem.co.id
Semarang
menyambut Al dengan panas yang jujur dan bau laut yang tidak minta izin masuk.
Ia baru tiga hari menjadi pelancong—belum benar-benar tahu apa yang dicarinya,
hanya tahu bahwa ia perlu pergi.
Ia menginap
di Quaint Hostel, sebuah bangunan kolonial tua dengan lantai kayu yang selalu
berderit gelisah setiap kali diinjak. Di dinding common room, ratusan
coretan tamu terdahulu saling bertumpuk seperti jejak orang-orang yang pernah
singgah lalu menghilang. Kopi di sana terlalu pahit, tetapi selalu tandas
sebelum pukul sembilan pagi.
Pada
malam pertama, Al duduk sendiri di sudut ruangan dengan jurnal kosong yang
terbuka di hadapannya.
"Kosong
banget," kata sebuah suara tiba-tiba. Seorang perempuan tahu-tahu sudah
duduk di seberang mejanya.
Al
mendongak, agak terkejut.
"Aku
ngomongin jurnalnya, bukan hidupmu," perempuan itu tertawa kecil sebelum
Al sempat menyusun jawaban.
Namanya
Rana. Ia datang dari Magelang, sebuah kota di kaki Gunung Merbabu yang,
menurutnya, terlalu penuh oleh orang-orang yang merasa berhak tahu urusan orang
lain. "Maka sesekali aku lari ke Semarang, cuma buat bernapas,"
ujarnya malam itu. Mereka akhirnya berbicara—tentang hal-hal acak yang tidak
penting—sampai penjaga hostel mematikan lampu utama.
Hari-hari
berikutnya bergulir dengan ritme yang asing bagi Al. Besoknya, mereka berebut
potongan babat di warung nasi goreng pinggir jalan. Sore harinya, mereka
berdiri di Bukit Gombel, memandangi kerlip Semarang bawah yang tampak seperti puzzle
raksasa yang belum selesai. Di Lawang Sewu, mereka menyusuri lorong-lorong
panjang, menyaksikan cahaya matahari sore menerobos jendela-jendela tinggi dan
membentuk garis-garis dramatis di lantai.
Di sela
perjalanan itu, Al menyadari sebuah kecemasan baru yang tumbuh diam-diam.
Ia
mendapati dirinya selalu menunggu cerita Rana setiap pagi. Menunggu tawa renyah
perempuan itu setiap kali ia melontarkan lelucon garing. Menunggu bunyi langkah
kaki yang familier di tangga kayu hostel setiap malam.
Kesadaran
itu menakutinya. Al tahu benar kutukan para pelancong: orang datang untuk
singgah, bukan menetap. Rana akan kembali ke Magelang, sementara Al sendiri
bahkan belum tahu ke mana kakinya akan melangkah setelah ini.
Beberapa
kali Al ingin mengatakan sesuatu yang lebih dari sekadar komentar tentang
makanan atau arsitektur tua. Namun, setiap kali kesempatan itu mengambang di
udara, ia membiarkannya lewat begitu saja.
Pada
malam terakhir, mereka duduk di common room lebih lama dari biasanya.
Dari speaker gantung di sudut ruangan, lagu “Penyangkalan” tengah
diputar dengan volume rendah, melantunkan lirik yang rasanya terlalu pas
menyindir isi kepala Al. Di seberang meja, Rana bercerita dengan mata berbinar
tentang warung mi goreng favoritnya di Magelang.
Al ingin
berkata, "Antar aku ke sana suatu hari." Tetapi lidahnya kelu.
Ketika
Rana menatap keluar jendela dan menggumam bahwa Kota Lama selalu sukses
membuatnya rindu rumah, Al ingin menyahut, "Aku juga ingin jadi
alasanmu untuk pulang." Namun, diiringi petikan lagu yang masih
mengalun, ia kembali memilih diam dan menyangkal perasaannya sendiri.
Keesokan
paginya, sisi meja di seberang Al sudah kosong. Rana telah pergi.
Di atas
meja kayu panjang, tidak ada cangkir kopi, hanya ada secarik kertas kecil yang
ditindih asbak. Al meraihnya dan membaca tulisan tangan yang rapi di sana:
"Kalau suka, bilang. Jarak bisa diakali. Diam yang tidak
bisa."
Al
membaca kalimat itu sampai tiga kali, meresapi setiap hurufnya yang terasa
menampar.
Di luar
ruangan, lantai kayu hostel kembali berderit. Seseorang baru saja datang
membawa koper baru. Seseorang singgah, seseorang pergi.
Perlahan,
Al melipat kertas itu dengan rapi, lalu menyelipkannya di halaman pertama
jurnalnya—yang akhirnya, tidak lagi benar-benar kosong.
Note:
- Ini hanyalah cerita fiksi, jadi tak perlu diambil hati.

0 komentar: