Kata-Kata Kehidupan

Laivisfan in Sumber Pocong by: alidnobilem.co.id PROLOG: Tentang Orang-Orang Biasa S...

Laivisfan in Sumber Pocong
by: alidnobilem.co.id

PROLOG: Tentang Orang-Orang Biasa

Sebagian besar pahlawan lahir dari rahim legenda yang megah, ditempa oleh ramalan, atau dipersenjatai warisan garis darah bangsawan.

Laivisfan tidak memiliki satu pun dari itu.

Ia lahir dari labirin gang sempit yang pengap, tumbuh di kamar kos murah beratap bocor, dan memiliki dompet yang lebih sering berisi struk tagihan daripada lembaran uang. Jika seseorang bertanya apa keistimewaannya, tidak akan ada jawaban yang memuaskan. Ia bukan atlet dengan otot kawat, bukan ilmuwan jenius, bukan pula lelaki dengan rupa menawan yang mampu membuat orang menoleh dua kali.

Namun, ia memiliki satu hal yang mulai langka di dunia modern: keras kepala yang mutlak. Ia tidak tahu cara menyerah. Dan terkadang, sejarah dunia justru dibelokkan oleh arah melangkah orang-orang keras kepala seperti dia.

BAB I: Dua Kantong Kering

Kamar kos itu begitu sempit. Jika Laivisfan meregangkan kedua tangannya lebar-lebar, ujung jarinya akan langsung menabrak dinding semen yang catnya sudah mengelupas. Di dalam kotak pengap itulah ia tinggal bersama Bramantyo, sahabatnya sejak masa sulit di awal kuliah.

Mereka bertahan hidup dari pekerjaan serabutan—mulai dari menerjemahkan dokumen, mendesain logo murah, hingga menjadi kuli panggul digital. Kadang mereka makan layak, namun lebih sering mereka membagi satu bungkus mi instan untuk berdua.

Malam itu adalah akhir bulan, waktu untuk ritual sakral mereka: menumpahkan koin-koin receh di atas tikar pandan.

Bramantyo memegang buku catatan kecil yang kumal. Di dalamnya tertulis angka-angka rumit: biaya obat jantung ibunya, sisa uang kuliah adiknya, dan tagihan listrik. Sementara Laivisfan hanya memegang secarik kertas minyak berisi daftar utang di Warung Bu Teti.

"Kalau hidup ini adalah balapan, Fan," kata Bramantyo sambil menghela napas, menatap koin seratus rupiah yang menggelinding, "kita ini penonton yang bahkan nggak punya tiket buat masuk sirkuit. Udah kalah dari awal."

Laivisfan terkekeh, memasukkan sebutir kacang garing terakhir ke mulutnya. "Kalau emang kalah dari awal, ya lanjut jalan aja, Bram. Nggak ada bendera finish yang melarang orang miskin buat tetep melangkah, kan? Siapa suruh berhenti?"

Bramantyo tersenyum tipis. Kalimat konyol itu, entah bagaimana, selalu berhasil menambal dinding semangat mereka yang keropos.

BAB II: Putri yang Tidak Pernah Hilang dari Ingatan

Jauh sebelum terjebak dalam realitas kantong kering, Laivisfan pernah merasakan sejumput keberuntungan. Tiga tahun lalu, ia berhasil lolos program pertukaran pelajar singkat ke Yogyakarta. Di sanalah ia bertemu dengan Putri Anindya, seorang gadis dengan senyum tenang yang seolah mampu meredam riuh rendahnya dunia.

Mereka sering menghabiskan sore di sudut perpustakaan kuno, berbicara tentang melodi lagu indie yang asing, halaman-halaman buku sastra, dan betapa rumitnya ekspektasi orang dewasa.

Diam-diam, Laivisfan jatuh cinta. Namun, setiap kali menatap sepatu kainnya yang jebol, keberaniannya menguap. Ia merasa tidak pantas. Hingga program berakhir, mereka berpisah tanpa satu pun kata pengakuan.

Yang tersisa hanyalah selembar surat ungkapan hati yang ditulis Laivisfan dengan tangan gemetar. Surat itu berakhir di laci paling bawah meja kosnya, terkunci bersama waktu. Ia tidak pernah tahu bahwa di sudut kota yang lain, di dalam sebuah kotak beludru, Putri Anindya juga menyimpan sepucuk surat dengan isi yang sama persis.

BAB III: Teman dari Balik Layar

Ketika dunia nyata terlalu bising dan menekan, Laivisfan menemukan pelarian di dunia maya. Lewat sebuah forum diskusi geopolitik internasional, ia berkenalan dengan akun bernama Laivislaip.

Awalnya mereka hanya berdebat tentang teori konspirasi global. Lalu, percakapan bergeser menjadi rutinitas harian. Laivislaip selalu tahu kapan Laivisfan sedang terpuruk hanya dari ritme ketikannya. Ia selalu mengirimkan untaian kalimat penenang yang janggal namun tepat sasaran di saat-saat paling gelap.

Tanpa sadar, mengetuk layar ponsel dan menunggu notifikasi dari Laivislaip setiap pukul sebelas malam telah menjadi napas buatan bagi Laivisfan. Mereka tidak pernah bertukar foto wajah, tidak pernah tahu nama asli masing-masing. Mereka hanya dua jiwa yang saling menyembuhkan lewat untaian piksel.

BAB IV: Gelombang Hilangnya Para Putri

Dunia mendadak diguncang oleh teror yang aneh namun mematikan. Satu per satu, putri-putri dari keluarga terpandang dan bangsawan di berbagai belahan dunia menghilang tanpa jejak. Satu putri dari Eropa, dua dari Asia, hingga dalam sebulan, belasan putri lenyap.

Kelompok yang bertanggung jawab menamakan diri mereka Putri Lovers. Sebuah nama yang terdengar seperti klub penggemar animasi fiksi, namun manifesto yang mereka sebarkan di internet dipenuhi ancaman pembunuhan berdarah dingin.

Sore itu, Laivisfan sedang menyeduh kopi instan ketika siaran berita di televisi warung menampilkan daftar korban terbaru. Matanya terpaku pada layar. Jantungnya serasa dihantam godam baja ketika pasfoto seorang gadis muncul.

Putri Anindya. Diculik dari kediamannya dua hari lalu.

Gelas kopi di tangan Laivisfan jatuh, pecah berantakan di lantai.

BAB V: Undangan Berdarah

Seminggu setelah berita penculikan itu, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan gang sempit kos Laivisfan. Seorang pria berjas rapi turun dan menyerahkan sebuah amplop tebal dengan segel lilin berwarna emas murni.

Surat itu menyatakan bahwa Laivisfan, berdasarkan keaktifan dan analisisnya yang tajam di forum diskusi internasional (yang ternyata merupakan alat skrining terselubung milik pemerintah), terpilih sebagai delegasi sipil mandiri untuk menghadiri Upacara Pertemuan Antarnegara.

"Ini pasti seminar internasional, Fan! Kamu bakal dapat sertifikat, bisa buat melamar kerja di perusahaan multinasional!" seru Bramantyo bersemangat, melihat tiket pesawat gratis yang disertakan.

Laivisfan hanya menatap segel emas itu dengan firasat buruk. Pikirannya melayang pada Putri Anindya. Ada benang merah yang tidak kasat mata, dan ia tahu ia harus berangkat.

BAB VI: Aliansi yang Terpaksa

Dalam penerbangan menuju lokasi pertemuan—sebuah wilayah terisolasi di pulau terpencil—Laivisfan terkejut saat mendapati siapa yang duduk di kursi sebelahnya.

Raditya Kresna.

Lelaki parlente, anak orang kaya yang dulu menjadi musuh bebuyutan Laivisfan semasa sekolah; orang yang tiada hari tanpa mengejek kemiskinan Laivisfan. Namun, Raditya yang sekarang tampak berbeda. Wajahnya kusut, matanya merah karena kurang tidur.

"Kamu? Ngapain anak miskin kayak kamu ada di penerbangan kelas bisnis ini?" desis Raditya, mencoba mempertahankan keangkuhannya.

"Aku delegasi. Kamu sendiri?"

Raditya terdiam lama, jemarinya meremas sandaran kursi. "Kekasihku... dia salah satu putri yang diculik. Pemerintah bilang, kalau aku ikut pertemuan ini sebagai perwakilan pemuda, aku bisa mendapat informasi akses langsung ke penculik."

Laivisfan menatapnya lurus. "Putri Anindya juga diculik. Aku ke sana untuk dia."

Raditya menoleh, rasa terkejut kilat melintas di matanya, diikuti oleh keheningan yang panjang. "Aku tetap tidak menyukaimu, Laivisfan."

"Aku juga tidak sudi berteman denganmu, Radit."

"Lalu?"

"Kita kerja sama sampai mereka aman," kata Laivisfan sambil mengulurkan tangannya yang kasar.

Raditya menatap tangan itu, lalu menyambutnya dengan cengkeraman kuat. Permusuhan masa kecil mereka hangus, digantikan oleh keputusasaan yang sama.

BAB VII: Rahasia di Balik Upacara

Setibanya di kompleks kuno yang dikelilingi hutan pekat, kebenaran pahit langsung menghantam mereka. Upacara Pertemuan Antarnegara bukanlah forum diplomasi atau seminar dunia. Itu adalah kedok dari turnamen hidup-mati yang dikelola secara klandestin selama berabad-abad.

Setiap sepuluh tahun, perwakilan yang dipilih dari berbagai negara dipaksa bertarung dalam arena brutal untuk menentukan dominasi pengaruh ekonomi dan politik bawah tanah global. Pemenang membawa kejayaan dan miliaran dana cair untuk negaranya. Pecundang pulang di dalam peti mati.

"Dan para putri yang diculik..." Raditya berbisik dengan tubuh gemetar saat melihat proyeksi hologram di aula utama.

"Mereka adalah sandera," potong Laivisfan dengan rahang mengeras. "Selama para putri berada di tangan Dewan Penjaga Upacara, negara-negara peserta tidak akan berani menarik diri atau membocorkan kegilaan ini kepada publik."

BAB VIII: Pertemuan di Balik Tirai

Malam sebelum turnamen dimulai, para peserta diizinkan mengunjungi area sosialisasi di taman tengah. Di sanalah, di bawah rintik hujan tipis, Laivisfan melihat seorang gadis bergaun putih dengan syal rajut yang sangat ia kenali dari deskripsi foto di forum internet.

"Laivislaip?" panggil Laivisfan ragu.

Gadis itu berbalik. Wajahnya cantik, namun memancarkan keletihan yang amat sangat. Matanya membelalak mendengarkan nama samaran itu. "Kau... Kantong Kering? Laivisfan?"

Dunia seolah berhenti berputar. Teman curhatnya di balik layar, jiwa yang menguatkannya selama setahun terakhir, kini berdiri nyata di hadapannya. Mereka menghabiskan malam itu dengan berjalan di sepanjang koridor batu, berbicara tanpa henti, menyatukan potongan-potongan teka-teki digital mereka ke dalam realitas.

Untuk pertama kalinya, Laivisfan menyadari getaran di dadanya bukan lagi sekadar rasa terima kasih antar sahabat fiksi. Ada rasa cinta yang tumbuh subur di sana. Dari binar mata Laivislaip, ia tahu gadis itu merasakan hal yang sama. Namun, di bawah bayang-bayang kematian turnamen esok hari, tak satu pun dari mereka berani mengucapkannya.

BAB IX: Benang Merah Konspirasi

Malam itu juga, Bramantyo tiba-tiba muncul di barak mereka dengan napas terengah-engah. Menggunakan sisa uang tabungannya, ia nekat menyusul sebagai staf logistik gelap demi menjaga nyawa sahabatnya.

Bertiga dengan Raditya, mereka melakukan investigasi kilat terhadap sistem keamanan digital kompleks tersebut. Menggunakan keahlian retas amatir Laivisfan dan alat komunikasi yang diselundupkan Bramantyo, mereka berhasil menembus dokumen rahasia.

"Kelompok Putri Lovers itu omong kosong!" Bramantyo menunjuk layar gawai. "Mereka cuma faksi buatan yang sengaja diciptakan untuk menjadi kambing hitam. Dalang aslinya adalah Dewan Penjaga Upacara—para elite global yang ingin mempertahankan tradisi taruhan nyawa ini demi mengontrol roda kapitalisme dunia!"

BAB X: Tragedi yang Mengubah Segalanya

Hari pembukaan turnamen tiba dengan atmosfer yang mencekam. Ribuan penonton bertopeng dari kalangan elite duduk di tribun melingkar. Laivisfan berdiri di koridor pembatas bersama Laivislaip yang memberikan senyum penyemangat terakhirnya.

DOR! DOR! DOR!

Suara tembakan gencar memecah keriuhan, bukan dari arena, melainkan dari arah menara pengawas. Dewan Penjaga mendeteksi adanya kebocoran data dan melakukan pembersihan instan terhadap peserta yang dicurigai sebagai pembangkang.

Tubuh Laivislaip terjerembap ke depan. Gaun putihnya dengan cepat ternoda oleh warna merah pekat yang berhamburan.

"Tidak! Tidak!" Laivisfan berlutut, menangkap tubuh gadis itu yang terasa mendingin dengan cepat. Tangannya gemetar hebat, mencoba menahan darah yang terus mengalir dari dadanya. Lelaki yang biasanya penuh kata-kata itu kini mendadak bisu oleh rasa syok.

Laivislaip tersenyum lemah, jemarinya yang berdarah menyentuh pipi Laivisfan. "Aku... senang... akhirnya bisa menatap matamu langsung, Fan."

"Bertahanlah, kumohon, aku belum sempat bilang kalau aku—"

"Aku sudah tahu," bisik gadis itu, napasnya memendek, menyisakan binar redup di matanya. "Selamatkan mereka... hancurkan tempat ini..."

Tangan itu terjatuh. Napasnya berhenti. Di tengah kekacauan raung sirine, air mata Laivisfan jatuh membasahi wajah sahabat layarnya. Sesuatu di dalam diri Laivisfan patah, dan dari patahan itu, lahir kemarahan yang membakar habis rasa takutnya.

BAB XI: Sumpah di Masjid Al-Muchtar

Malamnya, turnamen ditunda akibat insiden tersebut. Kompleks diselimuti ketegangan. Di sudut terjauh area penahanan, terdapat sebuah bangunan ibadah tua yang dibangun oleh pekerja lokal puluhan tahun lalu: Masjid Al-Muchtar.

Di bawah pendar lampu gantung yang temaram, seluruh peserta dari berbagai negara berkumpul dalam kesunyian yang mencekam. Mereka berdoa menurut keyakinan masing-masing demi keselamatan yang semu.

Laivisfan bersujud lama di atas karpet hijau yang berdebu. Di dalam rumah ibadah yang damai itu, ia melafalkan sumpah di dalam hatinya. Ia tidak lagi peduli pada medali, kejayaan, atau uang taruhan. Ia bersumpah demi darah Laivislaip yang tumpah untuk menghancurkan seluruh sistem biadab ini hingga ke akar-akarnya.

BAB XII: Neraka di Sumber Pocong

Fase final turnamen dipindahkan ke Sumber Pocong, sebuah situs pemandian kuno beraliran air belerang panas yang diselimuti kabut tebal abadi di dasar lembah. Tempat itu sunyi, mistis, dan mematikan.

Pertarungan jarak dekat pecah di antara bebatuan berlumut. Asap belerang mengaburkan pandangan, sementara raung kesakitan menggema. Satu per satu peserta berguguran, darah mereka mengalir, bercampur dengan mata air panas yang mengepulkan uap putih. Laivisfan bertarung bagai kesurupan, hanya bermodalkan pisau taktis dan keteguhan hati yang keras kepala.

BAB XIII: Bahu-Membahu

Dalam satu kepungan kabut, seorang pembunuh bayaran sewaan Dewan berhasil menyudutkan Laivisfan. Bilah pedang hampir saja menebas lehernya ketika sebuah balok kayu besar menghantam kepala sang pembunuh hingga pingsan.

Raditya berdiri di sana, napasnya memburu dengan baju yang robek-robek. Ia baru saja mempertaruhkan nyawanya sendiri demi menarik Laivisfan dari ambang maut.

Keduanya jatuh terduduk di atas tanah basah, saling memandang dengan napas terengah-engah, lalu entah mengapa, mereka tertawa bersama di tengah desing peluru yang masih terdengar di kejauhan.

"Kita waktu sekolah dulu bodoh banget ya, Dit," ujar Laivisfan sambil menyeka darah di sudut bibirnya.

"Sampai sekarang pun kita masih bodoh, Fan. Mau-maunya mati di tempat kayak begini," balas Raditya sambil tersenyum kecut.

"Benar juga. Tapi setidaknya kita bodoh bersama."

BAB XIV: Menembus Sangkar besi

Memanfaatkan kekacauan di permukaan, Bramantyo berhasil meledakkan panel kontrol pintu generator utama menggunakan bom rakitan sederhana. Pintu baja di balik dinding batu Sumber Pocong terbuka, memperlihatkan fasilitas bawah tanah tempat para putri disekap di dalam sangkar-sangkar kaca.

Laivisfan berlari menerobos asap, matanya liar mencari hingga akhirnya ia berhenti di depan sebuah sangkar bernomor dua belas.

Putri Anindya ada di sana, terduduk lemas namun matanya langsung menyala saat melihat siluet lelaki yang sangat ia kenali. Laivisfan menghantam kaca tebal itu dengan tabung pemadam api hingga retak dan hancur berantakan.

Mereka saling menatap. Jarak waktu tiga tahun dan sekat keraguan yang dulu membentang luas di antara mereka menguap begitu saja dalam hitungan detik.

"Aku sempat mikir kamu nggak bakal datang, anak kos," kata Putri Anindya dengan suara serak, mencoba bercanda di tengah tangisnya.

"Aku emang datang," Laivisfan mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri, "tapi maaf, aku selalu telat."

BAB XV: Pengakuan di Tengah Runtuhan

Alarm bahaya melengking tinggi, lampu-lampu merah berputar liar menandakan fasilitas tersebut mulai runtuh akibat sabotase Bramantyo. Di tengah lorong yang berguncang dan dipenuhi kepulan asap tebal, Laivisfan mendadak menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuh Putri Anindya agar menghadapnya.

Ia tahu, jika ia tidak mengatakannya sekarang, dunia mungkin tidak akan memberinya kesempatan lagi.

"Aku mencintaimu, Putri. Sejak sore-sore di perpustakaan itu. Sampai hari ini."

Di sekeliling mereka, langit-langit beton mulai runtuh, namun bagi mereka berdua, waktu kembali melambat. Putri Anindya tersenyum di balik air matanya yang mengalir.

"Aku tahu, Fan."

"Hah? Kok tahu?" Laivisfan melongo di tengah situasi genting.

"Aku juga menulis surat yang sama waktu itu."

"Tapi... suratku kan nggak pernah aku kirim?"

"Suratku juga nggak pernah dikirim. Kita berdua sama-sama penakut," Putri Anindya tertawa bebas, lalu menggandeng erat tangan Laivisfan. "Sekarang ayo keluar dari neraka ini."

BAB XVI: Runtuhnya Dinasti Topeng

Dengan bantuan keahlian taktis Raditya, sisa data enkripsi yang berisi seluruh nama anggota Dewan Penjaga, bukti transaksi keuangan hitam, dan rekaman pembunuhan berhasil diunggah oleh Bramantyo ke jaringan satelit global yang tidak bisa diblokir.

Dunia gempar malam itu juga. Gelombang protes masif pecah di berbagai negara. Pasukan militer gabungan internasional yang digerakkan oleh desakan publik mengepung kompleks turnamen.

Dewan Penjaga Upacara runtuh dalam semalam; para anggotanya diseret ke pengadilan internasional. Faksi Putri Lovers ditumpas habis, dan tradisi berdarah ratusan tahun itu akhirnya resmi dihapus dari sejarah manusia.

EPILOG: Mereka yang Tetap Berdiri

Enam bulan berlalu semenjak badai internasional itu mereda.

Laivisfan kembali ke kota asalnya. Ia tidak mendapatkan medali kehormatan yang berkilau, tidak juga mendadak menjadi miliarder. Ia masih tinggal di kamar kos sempit berukuran dua kali tiga meter yang sama. Masih harus memutar otak setiap akhir bulan untuk membayar tagihan warung.

Namun, ada banyak hal yang telah berubah di sekelilingnya. Bramantyo kini bisa bernapas lega karena seluruh biaya pengobatan ibunya dan kuliah adiknya ditanggung oleh beasiswa penuh dari yayasan rehabilitasi korban. Raditya, sang mantan musuh, kini sering memarkir mobil sport mewahnya di depan gang sempit hanya untuk mengajak Laivisfan makan mi ayam di pinggir jalan.

Dan Putri Anindya? Gadis itu kini tak lagi berjarak. Ia sering berkunjung ke kosan dengan pakaian kasual sederhana, membawa rantang makanan, dan duduk di tikar pandan tanpa sedetik pun merasa risi.

Sore itu, sebelum bersiap pergi keluar, Laivisfan berdiri di depan cermin retak yang tertempel di dinding kosnya. Ia merapikan kerah kemeja murahnya, menatap pantulan dirinya sendiri, lalu melakukan ritual lamanya.

"Masih ganteng," bisiknya sambil tersenyum simpul.

Mungkin aslinya tidak. Tapi itu tidak lagi menjadi masalah baginya. Karena pada akhirnya, jalannya dunia ini tidak diubah oleh orang-orang berwajah sempurna atau mereka yang memiliki kuasa mutlak sejak lahir.

Dunia diubah oleh orang-orang biasa yang memilih untuk tetap tegak berdiri, melangkah maju, dan menolak untuk menyerah ketika seluruh semesta memberi mereka alasan untuk kalah. Dan Laivisfan, si anak kos kantong kering itu, adalah salah satu dari mereka.


TAMAT.

 

Note: Ini hanyalah cerita fiksi, jadi jangan terlalu diambil hati.

 

Sedekah itu Tidak Menyakiti dan Tidak Diingat-Ingat Oleh: Achrome Presents (Orang Awam) Sumber: Syarah Sullamut Taufiq & Guru yang menga...

Sedekah itu Tidak Menyakiti dan Tidak Diingat-Ingat
Oleh: Achrome Presents (Orang Awam)
Sumber: Syarah Sullamut Taufiq & Guru yang mengajarkan syarah tersebut

 

·       Hakikat dan Makna Sedekah

Sedekah merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Melalui sedekah, seorang muslim tidak hanya dapat membantu sesama, tetapi juga mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, Islam tidak sekadar menganjurkan umatnya untuk gemar memberi, melainkan juga menekankan pentingnya menjaga adab dalam prosesnya.

Secara bahasa, sedekah berasal dari kata shadaqa yang berarti benar atau jujur. Dinamakan demikian karena amalan ini menjadi bukti nyata dari kebenaran iman seseorang. Adapun secara istilah, sedekah adalah pemberian yang dilakukan dengan tujuan murni mencari ridha Allah SWT. Bentuknya pun tidak terbatas pada harta, melainkan bisa berupa bantuan tenaga, ilmu, nasihat yang baik, hingga senyuman tulus kepada sesama.

Makna kebahasaan tersebut mencerminkan adanya kejujuran dari kedua belah pihak: penerima benar-benar membutuhkan bantuan, dan pemberi tulus mengulurkan tangan sesuai kemampuannya. Dengan demikian, Islam menghadirkan sedekah sebagai wujud kejujuran sosial yang menumbuhkan kepedulian serta solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat.

·       Larangan Menyakiti Hati Penerima

Salah satu esensi penting yang sering terlupakan dalam bersedekah adalah kewajiban untuk menjaga perasaan orang yang menerima bantuan. Allah SWT secara tegas melarang seorang mukmin merusak nilai pahala amalannya melalui ucapan atau tindakan yang melukai perasaan. Larangan ini diabadikan dalam Al-Qur'an:

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima)..." (QS. Al-Baqarah: 264).

Dalam kehidupan sehari-hari, pelanggaran terhadap adab ini sering kali mewujud dalam ucapan yang merendahkan dan membusungkan dada. Contoh nyatanya adalah ketika seseorang memberikan bantuan, lalu di kemudian hari berkata, “Kalau bukan karena saya, kamu tidak akan bisa kuliah.” Kalimat semacam itu tidak hanya menunjukkan kesombongan, tetapi juga meruntuhkan harga diri pihak yang dibantu serta menghapus nilai keikhlasan yang seharusnya menyertai sedekah.

·       Tantangan Adab Sedekah di Era Digital

Di era digital saat ini, tindakan menyakiti hati penerima sering kali hadir dalam wujud yang lebih halus namun vulgar. Kita sering melihat kemiskinan atau air mata anak yatim dijadikan objek dokumentasi demi konten publikasi untuk mendulang perhatian publik.

Meskipun dokumentasi terkadang diperlukan sebagai bentuk transparansi laporan kegiatan sosial (seperti prasarana atau yayasan), batasannya harus tetap dijaga ketat. Menampilkan kondisi penerima bantuan secara berlebihan berpotensi mengikis martabat dan kehormatan mereka, sekaligus menjebak si pemberi dalam jerat riya (pamer) dan pencitraan.

Islam mengajarkan bahwa kehormatan manusia adalah hal yang sakral, bahkan ketika mereka berada dalam kondisi paling bawah sekalipun. Sedekah yang benar bukan hanya meringankan beban ekonomi, melainkan juga merawat martabat dan harga diri sesama.

Oleh karena itu, demi menjaga kemuliaan kedua belah pihak, adab menerima pun perlu diperhatikan. Penerima sedekah seyogianya menerima bantuan dengan penuh rasa syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada perantara-Nya, tanpa harus larut dalam budaya eksploitasi kemiskinan. Menjaga harga diri saat membutuhkan bantuan adalah bentuk marwah (kehormatan) yang diajarkan dalam Islam.

·       Bahaya Penyakit Al-Mann (Mengungkit Kebaikan)

Selain menyakiti perasaan, penyakit hati lain yang harus dihindari adalah al-mann, yaitu mengingat-ingat dan menyebut kembali kebaikan yang pernah diberikan. Terkadang, ego manusia merasa memiliki jasa besar setelah membantu, lalu mengharapkan penghormatan, perlakuan khusus, atau balasan tersembunyi. Sikap pamrih seperti ini menjadi alarm dan indikator kuat bahwa keikhlasannya masih ternoda oleh kepentingan ego pribadi.

Sebaliknya, orang yang ikhlas sepenuhnya sadar bahwa seluruh harta yang dimilikinya hanyalah titipan Allah SWT. Ketika memberi, ia tidak merasa sedang berjasa kepada manusia, melainkan sedang menunaikan amanah dan kewajiban dari Sang Pencipta. Karena sadar bahwa balasan terbaik hanya datang dari Allah, ia tidak akan sibuk menghitung-hitung kebaikannya, melainkan akan segera "melupakan" kebaikan tersebut begitu bantuan berpindah tangan.

·       Hakikat Akhir dari Sedekah

Pada akhirnya, muara dari ibadah sedekah adalah mencari ridha Allah SWT—bukan pujian, tepuk tangan, atau pengakuan manusia. Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya terus memeriksa kebersihan niatnya. Jangan sampai lelahnya kita mencari nafkah dan besarnya harta serta pengorbanan yang telah dikeluarkan sirna tak berbekas begitu saja akibat lisan yang tajam atau hati yang terus mengungkit pemberian.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang gemar bersedekah dengan hati yang bersih dan lapang, mampu menjaga perasaan sesama, serta senantiasa mengharapkan ridha-Nya dalam setiap embusan napas dan amal kebajikan yang kita lakukan. Amin.

 

Wallahu a'lam bish-shawab.

 

Note:

  • Penjelasan seadanya, maklum orang awam (mohon petunjuk), tak perlu terlalu dipikirkan (fell it).
  • Intinya: Lailahaillallah muhammadurrasulullah; patuhilah Allah (al-Qur;an) dan Rasul-Nya (Hadits), juga Uril Amri (aturan) di antara kita (bukan orang awam).
  • Dan “Tidak peduli siapa pun yang memberikan fatwa pada Anda, tanyakanlah pada hati Anda.”

  

Psikologi Uang dalam Islam: Menemukan Ketenangan di Antara Angka dan Makna Oleh: Achrome Presents ...

Psikologi Uang dalam Islam: Menemukan Ketenangan di Antara Angka dan Makna
Oleh: Achrome Presents

Uang sebagai Alat, Bukan Tujuan

Dalam bukunya The Psychology of Money, Morgan Housel menjelaskan bahwa keputusan keuangan yang baik bukan semata-mata tentang bagaimana menjadi kaya, melainkan tentang memperoleh ketenangan hidup. Salah satu kemampuan finansial terpenting yang sering diabaikan modernitas adalah kemampuan untuk merasa cukup—mengetahui kapan harus berhenti mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan.

Di dalam Islam, seni merasa cukup ini dikenal dengan istilah qana'ah. Ia adalah jangkar yang menjaga hati dari kerakusan tanpa ujung. Rasulullah ï·º bersabda:

"Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya, diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu, maka seakan-akan dunia telah dikumpulkan untuknya." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Hadis ini menantang standar kebahagiaan modern. Kekayaan sejati ternyata bukan tentang angka di rekening, melainkan tentang rasa aman, kesehatan, dan pemenuhan kebutuhan dasar—tiga nikmat yang sering kali jauh lebih mahal daripada kemewahan material.

Otonomi Waktu dan Kemerdekaan Hidup

Salah satu tesis terbaik Housel adalah bahwa nilai tertinggi dari uang adalah kemampuannya untuk membeli kendali atas waktu Anda. Memiliki tabungan berarti memiliki kebebasan untuk memilih pekerjaan, mengambil jeda, atau menghadapi darurat tanpa kepanikan.

Islam pun memandang waktu sebagai modal terbesar manusia. Namun, Islam melangkah lebih jauh: kebebasan waktu yang dibeli oleh uang bukanlah untuk digunakan tanpa batas, melainkan untuk mengoptimalkan penghambaan kepada Allah.

Pola hidup seorang Muslim diatur dengan presisi melalui shalat lima waktu. Ketika kebutuhan finansial tercukupi dan seseorang memiliki kendali atas waktunya, ia dapat menjalankan tanggung jawab spiritual dan sosial ini dengan lebih khusyuk, teratur, dan sadar. Uang, dalam konteks ini, memerdekakan manusia dari perbudakan rutinitas duniawi agar bisa fokus pada esensi hidup yang lebih tinggi.

Jebakan Status dan Paradoks Kemewahan

Housel memperkenalkan konsep menarik bernama "Man in the Car Paradox". Ketika kita melihat seseorang mengendarai mobil mewah, kita cenderung mengagumi mobilnya dan membayangkan betapa hebatnya jika kita yang berada di sana. Paradoxnya, kita sebenarnya tidak benar-benar mengagumi orang tersebut. Kita hanya egois memproyeksikan diri kita pada objek kemewahannya.

Lebih jauh lagi, kita tidak pernah tahu apa yang ada di balik layar: apakah mobil itu dibeli dari aset yang sehat, ataukah dari utang menumpuk yang menggerogoti ketenangan jiwa demi sebuah validasi semu.

Islam sejak awal telah memperingatkan bahaya mengejar status sosial (gengsi). Simbol kemewahan sering kali menjebak manusia pada perilaku israf (berlebih-lebihan) dan riyak (pamer). Islam menggeser indikator kesuksesan dari apa yang kasat mata ke apa yang ada di dalam dada:

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu." (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Menyembuhkan Harta Melalui Fungsi Sosial

Jika qana'ah bertugas menjaga hati dari dalam, maka zakat dan sedekah adalah instrumen luar yang menjaga agar harta tidak mandek dan berputar di lingkaran itu-itu saja. Di dalam Al-Qur'an, perintah menegakkan shalat hampir selalu digandengkan dengan perintah menunaikan zakat:

ÙˆَØ£َÙ‚ِيمُوا الصَّÙ„َاةَ Ùˆَآتُوا الزَّÙƒَاةَ

"Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat." (QS. Al-Baqarah [2]: 110)

Kombinasi ini menegaskan sebuah pesan kuat: hubungan vertikal dengan Sang Pencipta (habluminallah) tidak boleh dipisahkan dari tanggung jawab sosial horisontal sesama manusia (habluminannas). Harta dalam Islam bukanlah kepemilikan mutlak, melainkan amanah pengetesan yang di dalamnya ada hak orang-orang yang membutuhkan.

Menariknya, Islam tidak mengunci pintu kebaikan ini hanya untuk mereka yang bermodal besar. Bagi mereka yang belum memiliki kelebihan harta, kontribusi sosial tetap bisa mewujud dalam bentuk paling sederhana. Rasulullah ï·º mengingatkan:

"Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah." (HR. Tirmidzi)

Psikologi Uang Islam

Psikologi uang dalam Islam melampaui sekadar rumus matematika finansial atau cara melipatgandakan aset. Ini adalah tentang menata ulang cara pandang kita terhadap dunia.

Qana'ah memberi kita batas atas untuk merasa cukup, pengelolaan uang yang bijak memberi kita kebebasan waktu, ketakwaan menyelamatkan kita dari jebakan status, dan zakat/sedekah membersihkan harta kita melalui dimensi sosial. Pada akhirnya, uang di tangan seorang Muslim bukanlah tujuan untuk dipamerkan, melainkan kendaraan strategis untuk menjemput rida-Nya dan memberi manfaat bagi semesta.

 

Wallahu a'lam bish-shawabi.

 

Note:

-        Penjelasan seadanya, maklum orang awam (mohon petunjuk), tak perlu terlalu dipikirkan (fell it).

-        Intinya: Lailahaillallah muhammadurrasulullah, patuhilah Allah (al-Qur;an) dan Rasul-Nya (Hadits), juga Uril Amri (aturan) di antara kalian (bukan orang awam).

-        Dan “Tidak peduli siapa pun yang memberikan fatwa pada Anda, tanyakanlah pada hati Anda.

 

Menghidupkan Harapan: Mengapa Kompas Saja Tidak Cukup untuk Melangkah? Setiap orang pernah berharap. Berharap hidup lebih baik, rezeki leb...

Menghidupkan Harapan: Mengapa Kompas Saja Tidak Cukup untuk Melangkah?

Setiap orang pernah berharap. Berharap hidup lebih baik, rezeki lebih lancar, atau masa depan berjalan sesuai impian. Harapan adalah bagian alami dari cara manusia bertahan hidup. Namun, sebuah pertanyaan penting perlu diajukan: di dunia yang penuh ketidakpastian ini, apakah harapan saja cukup untuk mengubah nasib?

 Hakikat Harapan dan Jebakan Coping Mechanism

Harapan pada dasarnya adalah keyakinan bahwa masa depan bisa menjadi lebih baik. Dalam bentuk yang sehat, ia memberi energi psikologis untuk bertahan di tengah situasi sulit. Namun, batas antara harapan yang sehat dan angan-angan pasif sering kali kabur.

Ketika seseorang menghadapi masalah berat—seperti tumpukan utang atau karier yang mandek—kecemasan yang luar biasa sering kali memicu respons defensif. Di sinilah harapan pasif muncul sebagai tempat persembunyian. Seseorang mulai mengandalkan keajaiban instan atau keberuntungan mendadak. Secara psikologis, ini adalah bentuk pelarian sementara (coping mechanism) dari realitas yang menyakitkan. Sayangnya, memelihara kenyamanan semu ini justru menunda tindakan nyata dan membuat masalah semakin menumpuk.

 Antara Usaha Individu dan Realitas Lapangan

Kita sering melihat nasihat motivasi yang menyederhanakan masalah: "Jika kamu belum sukses, artinya usahamu kurang." Contoh klasik adalah karyawan yang mendambakan promosi jabatan, namun tidak meningkatkan keterampilan barunya. Dalam kasus ini, harapan memang hanya menjadi keinginan yang terus diulang tanpa aksi.

Namun, kita juga harus jujur melihat realitas yang lebih luas. Kerja keras dan harapan terkadang membentur dinding tebal bernama keterbatasan sistemik—seperti pasar kerja yang lesu, minimnya hak istimewa (privilege), atau lingkungan yang tidak mendukung. Oleh karena itu, kritik terbesar terhadap harapan bukan sekadar "mengapa kamu tidak bertindak?", melainkan "bagaimana kamu bertindak secara strategis di tengah situasi yang tidak ideal?"

 Harapan dan Usaha: Simbiosis Dua Arah

Benjamin Franklin pernah menulis: "He that lives on hope will die fasting." (Ia yang hidup hanya dari harapan akan mati kelaparan). Ungkapan ini mengingatkan bahwa harapan tidak bisa mengenyangkan perut yang kosong. Perut yang lapar harus diisi dengan usaha nyata untuk mencari makan.

Meski begitu, usaha yang tanpa arah juga akan melelahkan. Di sinilah harapan mengambil peran krusial. Jika usaha adalah mesinnya, maka harapan adalah bahan bakarnya. Harapan memberi kita ketahanan mental (resilience) untuk tetap mengetuk pintu peluang baru, bahkan setelah ditolak belasan kali. Keduanya tidak bisa dipisahkan; harapan memberi arah, sementara usaha strategis mengubah arah tersebut menjadi kenyataan.

 Kesimpulan

Harapan adalah anugerah yang membuat manusia mampu melihat kemungkinan di tengah kegelapan. Namun, mengharapkan perubahan tanpa mengambil langkah nyata—sekecil apa pun itu—adalah sebuah kesia-siaan.

Pada akhirnya, harapan bukanlah kendaraan yang otomatis membawa kita ke tempat tujuan. Harapan hanyalah kompas. Kompas memberi tahu kita ke mana arah utara, tetapi kaki kitalah yang harus melangkah, menembus semak belukar, dan mendaki tanjakan jalan kehidupan setiap harinya.

 

Akhir kata, seringkali mengatakan lebih mudah daripada melakukan (it’s all complicated)!!!
Maka dari itu, tetaplah semangat untuk melakukan setiap sesuatu Sebaik Mungkin!!
Dan tetaplah “Menikmati Hidup!


1 Muharram: Bukan Sekadar Tahun Baru, tetapi Momentum Hijrah dan Perubahan Diri Oleh: Achrome Presents (Orang Awam) Mengapa 1 Muharram Pen...

1 Muharram: Bukan Sekadar Tahun Baru, tetapi Momentum Hijrah dan Perubahan Diri
Oleh: Achrome Presents (Orang Awam)

Mengapa 1 Muharram Penting?

Ketika mendengar kata "tahun baru", benak kita kerap kali langsung menangkap bayangan selebrasi, keriuhan kembang api, atau tumpukan resolusi di atas kertas. Namun dalam Islam, 1 Muharram menyimpan resonansi yang jauh lebih dalam. Ia bukan sekadar penanda rotasi angka pada kalender, melainkan sebuah jeda kosmis untuk merenungkan arah pulang, mengevaluasi perjalanan spiritual, dan menyusun ulang kompas kehidupan.

Muharram adalah gerbang pembuka dalam kalender Hijriah. Namun, keistimewaannya tidak lahir secara kebetulan karena posisinya di nomor urut pertama. Jauh sebelum peradaban Islam merumuskan penanggalannya, Allah SWT telah memahat Muharram sebagai ruang waktu yang sakral. Memahami Muharram adalah seni memahami hubungan antara waktu yang bergerak linier, sejarah yang membentuk peradaban, dan transformasi batin seorang hamba.


Arti Kata Muharram dan Kedudukannya dalam Islam

Secara etimologi, kata Muharram berakar dari bahasa Arab harama yang berarti "diharamkan", "disucikan", atau "dilarang". Penamaan ini merupakan maklumat bahwa Muharram adalah satu dari empat bulan suci (al-asyhur al-hurum) yang otoritas kesuciannya dipatok langsung oleh langit.

Empat bulan eksklusif tersebut adalah:

  • Dzulqa’dah
  • Dzulhijjah
  • Muharram
  • Rajab

Allah SWT menegaskan kedudukan waktu-waktu sunyi ini dalam Al-Qur'an:

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan ... di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu." — (QS. At-Taubah: 36)

Para ulama otoritatif menjelaskan bahwa pada bulan-bulan haram ini, setiap distorsi spiritual—seperti maksiat dan kezaliman—akan berdampak lebih destruktif bagi jiwa. Sebaliknya, setiap investasi kebaikan, sekecil apa pun, akan dilipatgandakan nilainya. Di sini kita memahami satu hal: kemuliaan Muharram bukan produk budaya atau konsensus manusia, melainkan ketetapan teologis yang sakral.


Sejarah Lahirnya Kalender Hijriah: Menolak Romantisisme, Memilih Perjuangan

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab RA, bentang kekuasaan Islam meroket pesat. Surat-menyurat birokrasi antar-wilayah menuntut adanya ketertiban administrasi. Abu Musa Al-Asy'ari kemudian melayangkan surat kepada Khalifah Umar, mengeluhkan rancunya sistem pengarsipan akibat dokumen yang tidak berpemilik angka tahun.

Umar segera mengonsolidasikan para sahabat senior untuk bermusyawarah. Di atas meja diskusi, muncul empat opsi besar untuk dijadikan tonggak awal penanggalan Islam:

  1. Tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW (Miladun-Nabi).
  2. Tahun pengangkatan beliau sebagai Utusan Allah (Bi'tsah).
  3. Peristiwa wafatnya beliau.
  4. Peristiwa Hijrah dari Makkah ke Madinah.

Setelah dialektika yang mendalam, para sahabat sepakat memilih peristiwa Hijrah sebagai titik nol kalender Islam.

Mengapa Hijrah, bukan Kelahiran Nabi? Kelahiran (Milad) adalah takdir biologis yang berada di luar kendali manusia (given). Sementara Hijrah adalah sebuah pilihan sadar (action), manifestasi dari keberanian, pengorbanan, risiko, dan kalkulasi strategi yang matang. Para sahabat ingin agar fondasi peradaban Islam dibangun di atas narasi perjuangan dan transformasi, bukan sekadar romantisisme figur.


Mengapa Muharram Menjadi Bulan Pertama?

Secara kronologis-historis, Nabi Muhammad SAW menjejakkan kaki di Madinah pada bulan Rabiul Awal. Namun, mengapa kalender Hijriah justru dimulai pada bulan Muharram?

Khalifah Umar dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib melihat Muharram sebagai starting point yang paling presisi dalam siklus sosiologis masyarakat Arab. Muharram adalah waktu di mana tirai ibadah Haji (di bulan Dzulhijjah) baru saja ditutup. Orang-orang kembali ke rumah mereka dengan lembaran jiwa yang bersih, siap memulai siklus hidup, bisnis, dan rencana baru. Muharram adalah simbol fajar baru setelah manusia menyelesaikan puncak spiritualitasnya.


Tiga Fragmen Epik di Bulan Muharram

Peristiwa

Esensi & Hikmah Spiritual

Hijrah Marhalah Madinah

Simbol transisi dari fase tertindas (mustadh'afin) menuju fase kemandirian, kedaulatan, dan pembentukan tatanan sosial yang berkeadilan.

Penyelamatan Musa (Asyura)

Tenggelamnya Firaun di Laut Merah pada 10 Muharram mengajarkan bahwa fajar kemenangan selalu eksis bagi mereka yang konsisten dalam kebenaran meski dikepung kemustahilan.

Lahirnya Konsensus Hijriah

Bukti historis bahwa Islam adalah agama yang menghargai sistem, administrasi modern, kemandirian identitas, dan manajemen waktu yang rapi.


Filosofi Waktu di Era Modern: Menggugat Eksistensi Diri

Di era distorsi digital saat ini, waktu bergerak terasa lebih cepat namun sering kali kehilangan maknanya. Kita terjebak dalam hustle culture—sibuk bergerak namun kehilangan arah tujuan. 1 Muharram hadir memutus ritme melelahkan tersebut.

Waktu adalah aset yang mengalami penyusutan mutlak (depreciating asset). Ia tidak bisa didepositokan atau dibeli kembali. Orang terkaya di dunia dan seorang pekerja kasar memiliki kuota waktu yang presisi: 24 jam sehari. Yang membedakan derajat mereka di mata pencipta waktu adalah kualitas isinya.

Di gerbang Muharram, pertanyaan eksistensial yang harus kita ajukan bukan lagi:

  • "Apa saja materi yang sudah berhasil saya kumpulkan?"

Melainkan sebuah gugatan batin:

  • "Menjadi manusia sekualitas apa saya dalam setahun terakhir ini, dan kontribusi apa yang sudah saya tinggalkan untuk bumi?"

Rekontekstualisasi Hijrah: Dari Fisik ke Mental

Di abad ke-21, hijrah tidak lagi menuntut kita mengemas koper dan berpindah koordinat geografis. Hijrah hari ini adalah migrasi psikologis, kultural, dan spiritual:

  • Hijrah Kognitif: Berpindah dari mentalitas malas membaca dan mudah termakan hoaks menuju budaya literasi dan ilmu yang berbasis data.
  • Hijrah Emosional: Berpindah dari hati yang dipenuhi dengki, cyber-bullying, dan jempol yang beracun di media sosial menuju empati dan keteduhan.
  • Hijrah Produktivitas: Berpindah dari ketergantungan pada stimulasi instan (scrolling tanpa batas) menuju karya nyata yang solutif.
  • Hijrah Teologis: Berpindah dari ibadah yang bersifat formalitas rutinitas menuju penghayatan iman yang berdampak pada kesalehan sosial.

Panduan Amalan & Peta Transformasi Muharram

Untuk menerjemahkan semangat Muharram ke dalam tindakan konkret, kita dapat membaginya ke dalam tiga level penetrasi diri:

1. Level Dasar (Amalan Sunnah & Refleksi)

  • Muhasabah & Taubat: Mengambil waktu sunyi (solitude) untuk menuliskan dosa-dosa setahun lalu, menyesalinya, dan melafalkan istighfar secara mendalam.
  • Puasa Sunnah Utama: Melaksanakan puasa hari Asyura (10 Muharram) dan dilengkapi dengan puasa Tasu'a (9 Muharram) sebagai pembeda dari ritual umat lain. Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa Muharram adalah seutama-utamanya puasa setelah Ramadan.
  • Eskalasi Sedekah: Menyalurkan bantuan logistik atau finansial kepada mereka yang membutuhkan sebagai simbol syukur atas jatah umur yang diperpanjang.

2. Level Penguatan (Sistemasi Ibadah)

  • Audit Kualitas Ibadah: Membuat jurnal atau checklist evaluasi pribadi (misal: seberapa sering shalat tepat waktu, konsistensi membaca Al-Qur'an, dan shalat malam).
  • Restorasi Hubungan Sipil: Menghubungi kembali kerabat atau teman yang hubungannya sempat renggang karena ego atau salah paham. Hijrah vertikal ke Allah tidak akan sempurna tanpa selesainya urusan horizontal manusia (habluminannas).

3. Level Transformasi (Desain Ulang Hidup)

  • Amputasi Kebiasaan Buruk: Memilih satu saja kebiasaan paling toksik dalam hidup Anda (misal: menunda pekerjaan, pornografi, atau lisan yang tajam) lalu berkomitmen penuh untuk menghentikannya total di tahun ini.
  • Inisiasi Proyek Kebaikan Jangka Panjang: Memulai satu program yang memiliki dampak sosial berkelanjutan, baik dalam skala mikro keluarga maupun makro masyarakat.

Penutup: Tahun Baru atau Manusia Baru?

Kalender akan terus berganti rupa, jarum jam akan terus berdetak tanpa kompromi, dan usia kita dipastikan terus menyusut. Namun, seluruh momentum dramatis 1 Muharram ini akan menguap menjadi sekadar teks sejarah jika ia gagal melahirkan "manusia baru" di dalam cangkang diri kita yang lama.

Hijrah yang autentik bukanlah perpindahan kosmetik pada pakaian atau jargon semata, melainkan evolusi batin yang membuat kita lebih peka terhadap kebenaran dan lebih welas asih kepada sesama.

Maka, saat fajar 1 Muharram menyingsing, simpan sejenak ambisi keduniawian Anda, tatap cermin jiwa Anda, dan katakan: "Tahun ini, dengan pertolongan Allah, saya memilih untuk lahir kembali menjadi hamba yang lebih takwa dan manusia yang lebih bermanfaat."

 

Wallahu a'lam bish-shawab.


Note:

  • Penjelasan seadanya, maklum orang awam (mohon petunjuk), tak perlu terlalu dipikirkan (fell it).
  • Intinya: Lailahaillallah muhammadurrasulullah; patuhilah Allah (al-Qur;an) dan Rasul-Nya (Hadits), juga Uril Amri (aturan) di antara kita (bukan orang awam).
  • Dan “Tidak peduli siapa pun yang memberikan fatwa pada Anda, tanyakanlah pada hati Anda.”

 

About