Masjid Bukanlah Panggung Sandiwara

 "Masjid Bukanlah Panggung Sandiwara"
by: Orang Awam (mohon petunjuk)


“Masjid”, secara bahasa, adalah tempat sujud. Adapun secara syar’i, masjid adalah tempat untuk shalat. Dari itu, baik diartikan bahwa Masjid merupakan tempat kita bersujud dalam shalat, dimana sujud merupakan bentuk kerendahan diri secara fisik. Dari itu itu, dalam Masjid, lakukanlah ibadah dengan merendakan diri, tidak hanya fisik, tapi juga hati (diutamakan), ke hadapan sang Pecipta.

Adapun “panggung” merupakan tempat kita memamerkan kemampuan diri kepada orang lain. Tempat dimana orang-orang menunjukkan kemampuan mereka ke hadapan orang lain, sekali lagi.. ke hadapan orang lain.

Dan “sandiwara” merupakan sebuah pertunjukan dimana seseorang melakukan sesuatu atas keinginan orang lain, untuk orang lain (untuk mendapatkan pujian, atau bayaran), dimana hal itu dilakukan tidak dengan mengikuti keinginan hati (seperti film-film).

Dari ketiga pengertian tersebut di atas, dapat dipahami bahwa Masjid bukanlah tempat bagi seseorang untuk memamerkan kemampuan diri kepada orang lain untuk mendapatkan pujian, apalagi bayaran. Tidaklah selayaknya kita bersandiwara di hadapan Tuhan (naudhzubillah; semoga kita dijauhkan darinya).

Lalu bagaimana bisa sebuah masjid menjadi tempat orang memamerkan kemampuan mereka (dalam melakukan ibadah) kepada bukan hanya orang-orang yang hadir, tapi juga mereka yang berada di sekitarnya, mereka yang tidak hadir, atau bahkan tidak berkenan hadir, tidak bisa hadir, karena mereka melakukan ibadah sendiri?

Bukankah amalan yang sangat ditekankan setelah Sholat Wajib adalah Sholat Malam, dimana kita bisa menghadap sang Pencipta dengan sepenuh hati tanpa diketahui orang lain. Hal ini telah ditekankan saat berbuat baik: Jika tanganmu melakukan sesuatu, maka jangan biarkan tangan kirimu mengetahuinya. Sebagaimana contoh sedekah yang disebutkan dalam sebuah hadits:

 ورجل تصدق بصدقة فاخفاها حتى لا تعلم شماله ما صنعت يمينه

“Seseorang yang mengeluarkan shadaqah lantas disembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya.”

Lalu bagaimana jika apa yang kita lakukan (Sholat), selalu kita lakukan untuk orang lain, bahkan kita paksakan orang lain untuk mengetahuinya, tidakkah itu sebagaimana kita memenuhi panggilan penguasa sambil melakukan rekaman langsung (live record), untuk dipertunjukkan pada orang lain? Bukankah riya’ merupakan bagian dari syirik?! [Riya’: mengerjakan sesuatu ibadah bukan atas nama Allah] [Syirik: perbuatan menyekutukan Allah].

Pertanyaan lainnya: “Bagaimana bisa sebuah kebaikan (sholat berjemaah) menghalangi kebaikan-kebaikan (sholat jamaah – sholat jamaah) lainnya?”

Bukankah setiap sesuatunya bergantung pada niat?! Lalu apakah niat menggunakan pengeras suara dalam sholat berjemaah sementara seluruh jamaah mampu mendengar tanpa pengeras suara, bukankah ini hanya bentuk pamer (riya’)?

Seumpama Anda memenuhi panggilan penguasa (presiden misalnya), lalu Anda menggunakan pengeras suara untuk memberikan pujian di hadapan sang penguasa tersebut, bahkan dalam melakukan permintaan. Pertanyaannya: Anda memberikan pujian (meminta) yang tulus atau Anda hanya sedang manggung (bersandiwara), sehingga orang-orang di sekitar Istana (ceritanya menghadap Presiden di istana negara) ikut mendengar pujian (permintaan) tersebut dan tentu akan--sedikit--terganggu dalam mengerjakan perintah sang penguasa (dimana orang-orang tersebut berada di istana dalam rangka mengerjakan tugas dari presiden; ceritanya). Tidakkah ini berlebihan?!  Q.S Al-A’raf: 31

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap kali memasuki masjid. Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”

Sekali lagi, kami tekankan, masjid merupakan tempat beribadah (bersujud), merendahkan—bukan meninggikan—diri ke hadapan sang Pencipta, sang Maha Kuasa. Ia bukanlah tempat bagi riya’; memamerkan diri pada orang lain dan melupakan diri di hadapan sang Pencipta [innalillah]. Rasulullah bersabda:

أَنْ تَعْبـــُدَ اللَّهَ كَأَنَّــكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya, maka bila engkau tak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihat engkau.”

 

Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, amin. 

 

Note:

-       Penjelasan seadanya, maklum orang awam (mohon petunjuk), tak perlu terlalu dipikirkan.
-   Intinya: Lailahaillallah muhammadurrasulullah, patuhilah Allah (al-Qur;an) dan Rasul-Nya (Hadits), juga Uril Amri (aturan) di antara kalian (bukan orang awam).
-   Dan “Tidak peduli siapa pun yang memberikan fatwa pada Anda, tanyakanlah pada hati Anda.”

When Life Gives You Tangerines dalam Iman

  When Life Gives You Tangerines dalam Iman by: alidnobilem Presents & Orang Awam ...