Psikologi Uang dalam Islam

 Psikologi Uang dalam Islam
by: orang awam (mohon petunjuk)



Sebagaimana ditekankan oleh Morgan Housel dalam buku Psychology of Money bahwa setiap keputusan keuangan baik didasarkan untuk bangun setiap hari mengetahui bahwa kita dapat melakukan apa pun yang kita inginkan dengan cara kita sendiri, juga untuk bisa tidur nyenyak di malam hari.  Tidak ada alasan untuk mempertaruhkan apa yang kita miliki dan butuhkan untuk apa yang tidak kita miliki dan tidak butuhkan. Dari itu, dibutuhkan kesadaran akan pengtingnya merasa cukup.


Dalam Islam, pengtingnya rasa cukup disebut sebagai Qana’ah. Hal ini telah diterangkan dalam sebuah Hadits:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya, diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib).


Hadits tersebut menegaskan bahwa kemampuan untuk melakukan apa yang kita inginkan, kapan pun kita mau, dengan siapa pun yang kita inginkan, selama yang kita inginkan, merupakan hal yang tidak ternilai harganya.  Dimana tidak seorang pun—tidak satu pun dari seribu orang—mengatakan bahwa untuk bahagia kita harus berusaha bekerja sekeras mungkin untuk menghasilkan uang.  Sehingga dikatakan bahwa controlling your time is the highest dividend money pays (mengendalikan waktu kita merupakan pengembalian terbaik dari uanng).


Dalam Islam, pentingnya waktu ini terlihat sangat jelas dalam Sholat di setiap harinya. Dimana Islam menghormati waktu kedatangan hari (matahari) dengan Shalat Shubuh, menghormati puncak ketinggian hari (matahari) dengan Shalat Dhuhur, menghormati kesamaan bayangan hari (matahari) dengan Shalat Ashar, menghormati berakhirnya hari (terbenamnya matahari) dengan Shalat Maghrib, dan menghormati benar-benar berakhirnya hari (matahari benar-benar terbenam) dengan Shalat Isya’.


Bukankah Islam (keselamatan) sangat menghormati (menghargai) waktu?!


Paradoks Pria dalam sebuah Mobil (kita melihat diri kita merasa nyaman mengendarai mobil mewah saat melihat seseorang mengendarai mobil mewah tanpa peduli dengan keadaan pengendaranya, entah ia terlilit hutang atau semacamnya) mengungkapkan bahwa kerendahan hati, kebaikan, dan empati, akan memberi kita lebih banyak rasa hormat daripada tenaga kuda. Dari itu, Islam menekankan sedekah (memberi kepada orang lain), sebagaimana al-Qur’an memberikan perintah Zakat bersandingan dengan perintah Sholat:

وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا۟ لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 110)


Hal ini menandakan bahwa shalat sebagai ibadah (pengabdian) seorang hamba terhadap Tuhan tidak terlepas dari keharusan untuk peduli pada kondisi masyarakat di sekitarnya, menyandingi ibadah individual (pengabdian pribadi) dengan ibadah social (pengabdian bersama). Dari itu, umat Islam (selamat) adalah mereka yang senantiasa memberikan keselamatan tidak hanya pada diri sendiri, tapi juga orang lain. Amiin.


Dikisahkan bahwa para sahabat yang miskin pergi menemui Nabi disebabkan kecemburuan mereka dengan orang-orang kaya yang banyak bersedekah. Untuk itu Nabi bersabda:

تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HR at-Tirmidzi no. 1956, Ibnu Hibban no. 474 dan 529 dll, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, dan dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi, juga syaikh al-Albani dalam “ash-Shahihah” no. 572).

 

Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, amin.

 

 

Note:

-        Penjelasan seadanya, maklum orang awam (mohon petunjuk), tak perlu terlalu dipikirkan (feel it).

-    Intinya: Lailahaillallah muhammadurrasulullah, patuhilah Allah (al-Qur;an) dan Rasul-Nya (Hadits), juga Uril Amri (aturan) di antara kalian (bukan orang awam).

-        Dan “Tidak peduli siapa pun yang memberikan fatwa pada Anda, tanyakanlah pada hati Anda.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

When Life Gives You Tangerines dalam Iman

  When Life Gives You Tangerines dalam Iman by: alidnobilem Presents & Orang Awam ...