Ide
Bahasa Pemateri
by: alidnobilem.co.id
Dalam kisah ini,
kami hadir sebagai salah satu peserta pelatihan dalam rangka pemberdayaan
Masyarakat, yang dianggap tidak berdaya (benarkah?!). Bersama dengan
teman-teman seperjuangan (se-undangan) lainnya, kami pun menghadiri pelatihan
tersebut sebagai berikut.
Dalam proses
pembelajaran (pemberdayaan), ruangan disiapkan dengan melingkar, sehingga
memudahkan pemateri untuk berinteraksi dengan para peserta. Meski begitu, kami
yang hadir sebagai berikut dalam pembelajaran ini tidak bermaksud untuk
benar-benar ikut berinteraksi, mengingat posisi kami sendiri (benarkah?!).
Pemateri kali ini
seorang yang cukup asyik, ia seringkali mencerikan kisah sebagai selingan untuk
menghilangkan rasa jemu yang datang menjamu. Salah satu kisahnya ialah tentang
bagaimana orang-orang tua bisa menguasai beberapa Bahasa, seperti Bahasa Jawa,
Bahasa Madura, dan Bahasa Belanda, sekaligus (pake’ bagus). Mengingat bagaimana
orang-orang sekarang, ia pun menyarankan agar orang-orang Madura bisa diajarkan
Bahasa Jawa dan orang-orang Jawa bisa diajarkan Bahasa Madura.
Menanggapi hal
itu, kami pun mengungkapkan bahwa hal-hal seperti itu sudah menjadi bagian
(tugas) Menteri Pendidikan. Kalau kita ikut serta memikirkan hal-hal seperti
itu, hanya akan menambah beban pikiran. Penuturan tersebut diikuti dengan
sebuah pengakuan bahwa pikiran kami sendiri, bisanya terbebani karena; “mikirin
dia, yang nggak mikirin gua.” Pengakuan tersebut diakhiri dengan desahan
kecil (peniupan lepas udara penat di dada dari mulut) sebagai penutup perasaan
(feel changer).
Mendapati
tenangnya podium, kami pun menoleh dan bertanya pada teman seperjuangan kami; “gimana
bacotan gua?”. Teman seperjuangan pun dengan enggan (sudah lelah
mendengarkan bacotan kami) berkata; “sudahlah bang, bacot terus, diam aja lah.”
Kami pun dengan malu-malu senang tertawa kecil, berharap Tuhan memaafkan kami
atas apa yang telah kami lakukan, amiin.
Mendengarkan
percakapan tersebut, teman seperjuangan kami yang lain bertanya; “Anda bacot
bang?” kami pun dengan senang hati menanggapi; “Anda kira saya ceramah?
Emangnya Anda mau dengerin saya ceramah?” dengan spontan pun ia menjawab dengan
enggan; “gah (ogah)”. Kami pun dengan senang hati mengungkapkan bahwa kami
hanyalah seorang bacoters (buka titik joss).
Note:
- Ini hanyalah kisah fiksi, jadi jangan terlalu diambil hati.
- Mohon maaf jika foto tak sesuai dengan
cerita, susah nyari yang cocok, ternyata google agak gob*.
