Emas
Si-Alan
by:
alidnobilem.co.id
Sebagai sopir di
mobil tank tantara yang tengah menjalankan invasi, dimana kami menertawakan
seorang tua penambang emas yang ternyata baru saja mendapatkan banyak emas, aku
tak bisa berbuat banyak, atau mungkin tidak terlalu peduli, mengingat apa yang
telah kami lewati. Sungguh melelahkan, peperangan telah merenggut banyak nyawa,
termasuk mereka yang tidak ikut berperang, dan sekarang kami dipanggil untuk
kembali, untuk menerima kekalahan.
Pemimpin kami
dengan bangga menertawakan wanita tua tersebut, merampas emas yang didapatkan
si wanita tua, menendangnya hingga terjatuh dan menyuruhnya pergi. Aku tidak
jadi tidak peduli, kurasa emas itu akan menjadi hadiah yang baik untuk dibawa
pulang, entah aku akan mendapatkan bagian atau tidak. Atau haruskan kubunuh
mereka semua dan kubawa pulang emas itu untuk diriku sendiri?, sepertinya ide
itu tidak cocok denganku. “sialan!” kesalku menyadari bahwa aku sepertinya tidak
akan mendapatkan bagian.
Namun, diluar dugaan,
si wanita tua menggenggam pasir tempat ia terjatuh, melemparkan pasir tersebut
pada pemimpin kami, dan langsung menyerang dengan menggunakan pisau di
tangannya, tepat mengenai kepala pemimpin kami. Aku termangu, tak sanggup
memberikan reaksi, diikuti dengan teman-temanku yang lainnya, yang ikut menemui
ajal mereka. Menyadari bahwa wanita tua itu bukan wanita tua biasa, Aku pun
menyembunyikan diri, menyempitkan diri dalam kendaraan, berharap si wanita tua
menghiraukanku dan beranjak pergi melanjutkan perjalanannya.
Namun, bisa
kudengar langkah kaki, yang bukannya semakin menjauh tapi semakin dekat. Aku pun
mengarahkan senapanku ke sisi pintu, dan segera kutembakkan ketika mendapati sebuah
tangan berusaha membuka pintu tersebut.
Peluru
kutembakkan hingga habis, dan aku pun terengah-engah karena ketakutan. Setelah
keheningan yang cukup lama, aku pun mengecek apa yang terjadi dan mendapati si
wanita tua terkapar mati, peluruku telah menghantam leher dan sebagian wajahnya,
bukan pemandangan yang indah, tapi dapat kurasakan seulas senyum tersimpul di
wajahku. Perang sering mematikan empati dan membangkitkan apati.
Setelah bernafas
lega, aku pun meneriakkan kata kemenangan. Kudapati banyaknya emas yang ada di
sana, dengan sebuah kartu identitas atas nama Alan. Namun “Duar”, dalam
kebahagiaan yang tiada arti, suara ledakan menghantamku, dan kusadari bahwa aku
baru saja mendatangi ladang ranjau yang kubuat sendiri, bahkan menginjaknya. Terimakasih.
*****
Beberapa waktu
kemudian: Terlena dengan sinar kemilau yang dilihatnya, seekor ular pengembara membunyikan
diri, dan kemudian datang menghampiri asal kemilau tersebut hanya untuk
mendapati dirinya berantakan, tubuh tercerai ke berbagai arah, tanpa tahu kesalahan
apa yang telah ia perbuat. Kembalikasih.
*****
Beberapa tahun
kemudian: Seorang dokter pengelana asal Kamboja yang kehilangan arah, tak mampu
menahan diri melihat kilauan sinar yang menyilaukan mata, juga pikirannya...
*****

