A Minimarket Girl (Again!)
by:
alidnobilem.co.id
Sebuah
Minimarket terletak di sebuah pertigaan jalan, bukankah itu merupakan lokasi
yang strategis?! (bisa jadi). Minimarket merupakan toko kelontong kecil yang
biasanya menjual pilihan bahan makanan pokok dan barang rumah tangga dalam
jumlah terbatas (masa’, perasaan gak habis-habis deh), biasanya ditemukan di
daerah perumahan dan melayani kebutuhan mendesak masyakarat (oh, gitu..).
Seorang
pria sederhana memasuki minimarket tersebut untuk sekedar menukar uang dengan
membeli sebungkus permen. Ceritanya ia baru saja membeli dua bungkus es buah
dan mendapati si penjual tidak memiliki uang kembalian untuk uang besar yang dimilikinya
(sebesar itukah uangnya?!).
Seorang
wanita (cantik ceritanya) memasuki minimarket tersebut bersama sang ibu (ibunya)
dalam rangka berbelanja bahan makanan, atau pelengkap bahan makanan, begitulah
kiranya. Wanita tersebut berpakaian biru langit berbunga dengan kerudung pink
muda (terlihat sekali ia berpakaian dengan baik masa’).
Mendapati
keberadaan seorang wanita cantik (ceritanya), si pria pun memerhatikan wanita
tersebut dan mendapati ketiadaan cincin di jari manis si wanita manis (cantiek).
Dalam budaya Inggris, cincin di jari manis kiri menandakan seorang wanita
sudah terikat pertunangan (oh, gitu..), sementara di negara-negara Barat
khususnya Amerika Serikat, bisa juga berarti status pernikahan dan pertunangan
(bisa gitu..). Cincin di jari manis juga merupakan simbol pernikahan (asyiap), biasanya
di budaya Asia atau Timur; cincin yang menandakan seseorang sudah menikah
dipakai di jari manis kanan (amiin..). Jari manis dalam mitologi Yunani
bermakna cinta sejati, kreativitas dan kecantikan (so sweet kah?!).
“Wow,
beruntungnya diriku”, ujar si pria dalam hati, dan ia pun mencoba melakukan
insisiatif (melihat kesempatan, membuat rencana singkat, dan langsung
menjalankan rencana tersebut). Si pria pun memutuskan untuk menyapa;
“Hai,
inget aku nggak?!” sapa si pria pada si wanita disertai seulas senyum sumringah.
Si wanita menatapnya dengan heran, dan si pria tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya
melihat tatapan itu (epret!), dimana pria tersebut kemudian beralih menyapa
sang ibu “bu..”, dengan anggukan, yang diikuti oleh anggukan balik
(alhamdulillah..).
Si
pria kemudian agak mendekati si wanita (yang terlihat agak menjaga jarak
disertai perasaan aneh bin janggal), dan berkata dengan pelan: “ini aku, calon
suamimu!?” (cuit cuit cuit, gubrak!).
Note:
-
Ini hanyalah cerita fiksi, jadi tak perlu diambil
hati.
-
Mohon maaf jika foto tak sesuai dengan cerita, susah
nyari yang cocok ternyata google agak gob*.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar