Don’t Think, Feel it! : Jangan Dipikirkan, Rasakan!
Pikiran merupakan sebuah alat yang
digunakan untuk memikirkan apa yang terbaik, sementara perasaan merupakan alat
perasa untuk memahami diri sendiri.
Sampai pada kami bahwa kita tidak melakukan
apa yang terbaik menurut pikiran kita, melainkan kita melakukan apa yang
terbaik menurut perasaan kita. Iyakah?!
Dikatakan juga bahwa perasaan lebih
tinggi kedudukannya dibandingkan pikiran, sebagaimana contoh di bawah ini:
-
Saat kita merasa baik, kita cenderung
menanggapi hal-hal yang terjadi di sekitar kita dengan baik, sebagaimana saat
main game, jika suasana hati kita baik, maka meskipun kalah bermain kita tetap
merasa baik, menerima dengan lapang dada, bahkan kadang tertawa (mobile legend
experient)
-
Saat kita merasa tidak baik, maka kita
cenderung menanggapi hal-hal yang terjadi di sekitar kita dengan tidak baik,
sebagaimana saat main game (lagi), jika suasana hati sedang tidak baik meskipun
kita menang dalam permainan, kita cenderung menyalahkan teman atau bahkan musuh
(mobile legend experient, again).
Contoh lain yang lebih menarik ialah
lukisan Mona Lisa (ˈmɔnna ˈliːza) karya
Leonardo da Vinci pada abad ke-16. “Bagaimana pendapat (pikiran) Anda tentang
lukisan tersebut?”, simpan jawaban Anda. Dan sekarang kami tanya sekali lagi
“Bagaimana perasaan Anda tentang lukisan tersebut?”. Jika kita berada di
frekuensi (pikiran dan perasaan) yang sama, maka kita cenderung tidak menyukai
lukisan tersebut dalam pikiran, namun berbeda dalam perasaan.
Hal ini juga berlaku dalam keluarga,
sebagaimana orangtua; Ayah dan Ibu. Tanyakanlah pada diri Anda: “Bagaimana
pendapat (pikiran) Anda tentang Ayah dan Ibu Anda?”, sekali lagi silahkan
simpan jawaban Anda. Dan sekarang pertanyaannya: “Bagaimana perasaan Anda
tentang Ayah dan Ibu Anda?”. Lagi-lagi, Jika kita berada di frekuensi (pikiran
dan perasaan) yang sama, maka kita cenderung mengedepankan Ayah dibandingkan
Ibu dalam pikiran, namun mengedapkan Ibu dibandingkan Ayah dalam perasaan.
Sebagaimana perasaan
mempengaruhi (menentukan) pikiran, kita pun bisa menggunakan pikiran untuk
mempengaruhi (menentukan) perasaan kita. Hal ini biasa disebut dengan “mood
changer” (perubah suasa hati), seperti mendengarkan musik favorit (disarankan
untuk memutar musik-musik kekiniaan untuk menciptakan ingatan/perasaan baru), jalan-jalan
selama sepuluh menit, atau hanya menarik nafas (meditation mode: Tarik napas
dalam, Tarik lagi ke dalam perut, dan hembuskan pelan melalui mulut).
Akhir kata,
seringkali mengatakan lebih mudah daripada melakukan (it’s all complicated)!!!
Maka dari itu,
tetaplah semangat untuk lakukan setiap sesuatu Sebaik Mungkin!!
Dan tetaplah “Bersenang-Senang!”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar