Lihat, betapa banyak uangku?!
“Woow”
by: alidnobilem.co.id
Pagi ini, aku akan melakukan
perjalanan bersama Eddy dan Roki ke Bank atas perintah atasan dalam rangka
proyek. Kami hendak mencairkan uang sebesar $185jt (2.7 triliun rupiah). Tapi
boonk! (well, jangan terlalu diambil hati, Namanya juga fiksi).
Selama menunggu, seperti biasa,
ada wanita cantik di antara kami, yang juga ikut menunggu (ku menunggu, ku
menunggu kau putus dengan kekasihmu; kata Rosa dalam lagu “Ku Menunggu” [percaya
atau tidak, Rossa nggak nungguin gua]), tanpa menghitung resepsionisnya, mereka
yang selalu enak untuk dilihat—diraba—dicelupin, hastag: oskadon (pusing
ngeliatinnya, karena ia membuatku teringat pada si dia yang nggak teringat sama
gua, cuit-cuit epret).
Lelah menunggu sesuatu yang tidak
jelas (mohon penjelasannya suhu; 39 derajat kebosanan), Eddy menunjukkan foto
uang, mengungkapkan betapa banyak uangnya (terus gua harus bilang “Woow”
gitu?!). *Uang merupakan sebuah kertas yang dipercaya oleh setiap orang
(termasuk setan) bisa ditukar dengan apa saja, termasuk diri; harga diri. Pertanyaanya
adalah: Berapa harga diri Anda?! (tak perlu terlalu dipikirkan, nanti capek,
pizz).
Aku kemudian berkata: “Yah cuman
foto, aku juga punya, pake banyak lagi (di google)”. *Google merupakan titik
titik titik, kalian tau lah (ya iyalah, masa enggak).
Dengan sedikit kesal (diluar sikapku
yang seringkali mengesalkan), ia membuka tas selempangnya, dimana di dalamnya
terdapat uang lebih dari $30jt (440 milyar masa’) [pake boonk, again].
Demi untuk memenuhi keinginan untuk dibilang “Woow”, aku pun berkata dengan
ekspresi se-’Woow’mungkin:
“Woow…” (selamat membayangkan,
mencoba bisa jadi lebih menyenangkan, bisa jadi), diikuti lanjutan pertanyaan:
“Uangnya pasti buat bangun
masjid?!”. *Masjid merupakan tempat orang-orang bersujud kepada sang Pencipta (ingat
sujud, merendah, merendah diri, ga usah begaya, bukan panggung).
“Bukan” (tentu saja), jawab Eddy,
dengan sedikit tersinggung dan sedikit penyesalan (masa’).
“Kalau begitu, pasti buat fakir
miskin (golongan terendah dalam kasta ekonomi di dunia kapitalisme non-sosial
ini [apa ini?!]).
“Bukan” (sekali lagi, tentu saja),
Eddy kembali menjawab dalam diam seribu angan.
“Ini pasti, pasti buat para
janda?!” tanyaku untuk yang terkahir kalinya, penuh harap (pake boonk).
Namun dengan mantap Eddy menjawab
disertai jabatan tangan hangat: “Pastinya!!” (disertai amin dalam hati).
PS:
Teruntuk para janda; jangan lupa napas (biar nggak mati), aku kan selalu ada
untuk kalian, di mana pun kalian berada, amiin.
Terinspirasi
dari kisah nyata, nyata-nyata menginspirasi (semoga). Kisah ini merupakan
implementasi dari filosofi: Hidup adalah apa yang kita lakukan atas apa yang
kita miliki.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar