"Sungguh Sebuah Kehormatan. Bagaimana dengan Secangkir Teh?!"
by: alidnobilem.co.id
Prolog: Seorang
pemuda baik hati (ceritanya), bekerja pada seorang pria kaya (tentunya), dimana
pria kaya tersebut baru saja menikahi seorang gadis muda (enaknya).
*******
Gue adalah orang
kaya dalam kisah ini, bukan kaya karna berjuang, berusaha sendiri dari nol itu
menyusahkan. Gue kaya karena orangtua gue kaya, begitulah. Bukan Cuma itu,
orangtua gue termasuk orang yang dihormati di masyarakat, bukan cuma karena
mereka kaya, tapi terutama karena jabatan ayah gue sebagai seorang hakim dan
ibu gue sebagai pengacaranya.
Dengan senang
hati, gue manfaatin keadaan gue yang baik ini untuk mendapatkan apa-apa yang gue
inginin, meski tentu tak semua keinginan bisa tercapai. Keadaan ini juga membuat
gue populer di sekolah, ditemani beberapa teman yang tentu mendekati gue karena
ceritanya gue kaya, dan beberapa cewek dengan senang hati menerima ajakan gue
untuk diajak jalan-jalan gratis.
Terlepas dari itu
semua, gue tidak menjerumuskan diri ke dalam hal-hal yang berbahaya, hal-hal
yang berbau kenakalan remaja, maklum seperti yang diceritakan, pekerjaan
orangtua gue memaksa gue untuk mematuhi peraturan, padahal gue suka sama
slogan: peraturan ada untuk dilanggar.
Saat ini, gue
mendapatkan jabatan sebagamana ayah gue; seorang hakim, sementara kedua
orangtua gue telah meninggal dunia. Keduanya mengalami kecelakaan disebabkan menghindari
seorang gadis yang asal menyeberang. Saat itu gue baru dua bulan menjabat
sebagai hakim.
Meskipun sudah memiliki
dua orang istri, gue berusaha mendapatkan istri ketiga. Ia adalah seorang gadis
cantik yang gue temui pas mobil gue mogok di desanya, dimana ternyata gadis
tersebut merupakan seorang gadis cantik yang tengah populer di desa tersebut. Setelah
mendapatkan informasi, gue pun mengajukan lamaran, dimana pandangan kami telah
bertemu di awal pertemuan kami. Memang, pandangan tersebut hanyalah pandangan
biasa, namun gue yakin itu bukanlah pandangan kebencian. Dan, eluarga-nya pun
menerima gue, Terimakasih.
*******
Sebagai seorang
gadis dari keluarga sederhana, ayah Bertani dan ibu sebagai ibu rumah tangga,
yang seringkali membantu pekerjaan tetangga, aku tentu tidak memiliki banyak
pilihan dalam hidup selain menerima, menerima seorang pria kaya yang datang
meminang, meskipun pria tersebut telah beristri, dua pula.
Sebagai seorang
gadis yang dianggap cantik dan dianggap sebagai kembang di desa, aku belum
pernah mendapatkan pernyataan semacam ini: “aku jatuh cinta padamu, maukah kau
menjadi pacarku?”. Hal ini terjadi karena orangtuaku memasukkanku ke sekolah
asrama religi sejak lulus SD. Dan setelah lulus, tidak sampai satu bulan, pria itu
datang melakukan lamaran kepada orangtuaku, diantar oleh sesepuh desa kami.
Aku tidak
menyalahkan kedua orangtuaku, aku percaya mereka melakukan hal ini demi
kebaikanku, terlepas dari kebaikan untuk mereka sendiri yang tak mampu untuk
melakukan penolakan. Hanya saja, rasanya seperti ada yang kurang, padahal pria
itu cukup tampan, meskipun umurnya hampir dua kali umurku.
Pernikahan
berlangsung dengan mewah, mengikuti keinginan pria itu, dan orangtuaku pun
terlihat berbeda dengan pakaian yang berglamor itu, begitu juga dengan diriku
sendiri. Tapi aku tidak membencinya, dan terasa sedikit aneh untuk menyukainya.
Hanya saja, melihat keluargaku yang lain yang ikut hadir dalam acara tersebut,
membuatku merasa sedikit berbeda.
Pernikahan kami
berjalan baik, pria itu ternyata merupakan pria yang baik, memperlakukanku
dengan baik meskipun tidak memberikan perhatian lebih, dan aku pun berusaha
memberikan pelayananan yang baik. Keseharian berlangsung sederhana, tak banyak
yang bisa kulakukan, dimana pria itu membayar beberapa pekerja untuk mengurus
rumah kami.
Dan suatu hari,
seorang pria muda datang ke rumah, dan mata kami bertatapan. Tatapan itu
mengungkapkan bahwa ia juga mengagumi kecantikanku, tapi ia menahan diri, dan
entah kenapa aku merasakan sesuatu yang bergejolak. Ia ternyata menggantikan
ayah yang sedang sakit untuk memperbaiki pipa air yang rusak di rumah kami,
dimana ia kemudian juga seringkali datang untuk membantu pekerjaan di rumah
ini.
Diam-diam aku
seringkali memperhatikannya, dan kurasa dia juga seringkali memperhatikanku
saat aku sibuk dengan sesuatu, atau hanya berjalan melewatinya. Pikiran itu pun
menghantui pikiranku, dan pria itu, suamiku, sudah seminggu ini tidak datang ke
rumah kami. Aku pun menjalankan rencana itu.
*******
Saya hanyalah seorang
pria biasa-biasa saja, bahkan tidak lulus SMA. Seperti biasanya, saya pergi
bekerja ke rumah itu, sementara ayah sudah sakit-sakitan, maklum ia sudah tua.
Adapun ibu, sudah meninggal 17 tahun yang lalu, karena sakit, entah sakit apa,
ia enggan dibawa ke rumahsakit.
Meskipun hidup
saya terlihat seperti kehidupan orang miskin, saya lebih suka menyebutnya
sederhana, kehidupan yang sederhana. Dengan memelihara kambing, dan sesekali membantu
tetangga-tetangga melakukan pekerjaan, saya hidup dengan baik, menyibukkan diri
dengan kehampaan ini.
Meski begitu, ada
sesuatu yang menyenangkan setiap kali melakukan pekerjaan di rumah itu, istri
dari pria yang kaya itu merupakan kembang desa di desa kami, sehingga
menyenangkan untuk hanya melihatnya sekilas. Terlebih ia baru beberapa bulan
menikah, tidak banyak perubahan yang terjadi. Meskipun ia sudah tidak gadis
lagi, saya senang menyebutnya sebagai gadis dalam kisah ini. Dan yang lebih
menyenangkan ialah, saya rasa gadis itu juga suka melihat saya.
Hari hari
berjalan baik, dengan malam yang sunyi, terlintas bayangan gadis itu dalam
benak, membuat saya kadang bertanya-tanya; “Akankah sebuah kesempatan datang
pada saya di kemudian hari, atau mungkin di masa depan yang akan datang?”
Suatu hari, saya
melakukan pekerjaan di rumah gadis tersebut, dan gerimis datang, sementara
pekerja wanita-nya sedang pergi ke pasar. Saya pun duduk duduk di teras sambil
menikmati secangkir teh, dimana saya segera memenuhi panggilan gadis tersebut
hanya untuk mendapati gadis tersebut melepaskan handuk pakaiannya, dan tubuh
indah itu pun terlihat jelas.
Saya tertegun,
termangu, tak mampu menahan diri. Namun, saat hendak beranjak mendekat,
perasaan suka itu menghalangi, saya rasa saya begitu menyukai gadis tersebut
hingga tak bersedia menorehkan noda. Saya pun tersadar dan melangkah mundur,
kemudian berkata: “Sungguh sebuah kehormatan Nyonya, Bagaimana dengan secangkir
teh?!”
*******