‘Nyaman’ itu Ada pada Orang Lain
by: alidnobilem Presents
Ada
kisah menarik, seorang pria sedang makan malam bersama keluarganya, dimana ia
mendapati sebuah mobil dengan seorang pria di dalamnya melintas. Ia pun berkata
dalam hati; “Nyamannya orang itu, punya mobil untuk bepergian.” Jadi, ceritanya
pria ini merupakan ayah dari keluarga sederhana, tidak kaya, tapi tidak juga
miskin (semoga).
Lalu
ada kisah lain, seorang pria tengah berkendara untuk pulang menggunakan mobil,
dengan seorang sopir, dimana ia mendapati seorang pria tengah makan bersama
keluarganya. Ia pun berkata dalam hati; “Nyamannya orang itu, bisa makan
bersama keluarganya.” Jadi, ceritanya pria ini merupakan seorang ayah dari
kelurga kaya, dimana sang istri tentu memiliki kesibukan sendiri selain gemar
berbelanja, dengan anak yang juga disibukkan oleh harapan orangtua (atau sibuk
bermain), sehingga acara makan bersama menjadi hal yang tidak mudah dilakukan.
Kedua
kisah tersebut menegaskan bahwa ‘Nyaman’ itu cenderung dirasakan oleh orang
lain. Saat seorang melihat orang lain mengendarai mobil bagus, orang cenderung
membayangkan dirinya merasa nyaman mengendarai mobil tersebut sebagaimana si
pemilik mobil tanpa peduli dengan kenyamanan si pemilik mobil itu sendiri. Begitu
pula saat seseorang melihat sebuah keluarga makan bersama, orang cenderung
membayangkan dirinya merasa nyaman makan bersama keluarga tanpa peduli dengan
kenyamanan orang yang mereka lihat.
Kisah-kisah
tersebut mengungkapkan pentingnya merasa ‘Nyaman’ di posisi kita saat ini,
menerima ketentuan Tuhan (yang Maha Mengetahui) yang menempatkan Anda di posisi
Anda saat ini.
Hal
ini juga sebagaimana seorang anak SD yang merasa Nyaman membayangkan dirinya
sebagai anak SMP, dan anak SMP yang merasa ‘Nyaman’ membayangkan dirinya
sebagai anak SMA, dan anak SMA yang merasa ‘Nyaman’ membayangkan dirinya
sebagai anak kuliahan, dan begitulah seterusnya (biasanya).
Kita
pun menyadari bahwa “Setiap orang memiliki ‘nyaman’ dan ‘tidak nyaman’-nya
sendiri-sendiri”, semisal anak SD memiliki kenyamanan dan ketidak-nyamanan
anak SD, anak SMP memiliki kenyamanan dan ketidak-nyamanan anak SMP (pubertas
dsb), anak SMA memiliki kenyamanan dan ketidak-nyamanan anak SMA (sakit hati
dkk), dan anak Kuliah memiliki kenyamanan dan ketidak-nyamanan Anak Kuliah,
dst.
Sekali
lagi, kami tekankan pentingnya ‘Penerimaan Diri’, menerima keadaan diri
sendiri, entah sebagai orang kaya atau miskin, sehat atau sakit, muda atau tua,
dsb. Karena hanya dengan menerima diri sendiri, kita bisa mulai menjalani
hidup, hidup yang berarti, yakni hidup dalam kehidupan (amiin).
Akhir kata, seringkali mengatakan lebih mudah
daripada melakukan (it’s all complicated)!!!
Maka dari itu, tetaplah semangat untuk lakukan
setiap sesuatu Sebaik Mungkin!!
Dan tetaplah “Bersenang-Senang!”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar