Sokrates
dan Imam Malik
by: alidnobilem Presents
Sokrates (Yunani:
Σωκράτης, Sǒkratēs)
(sekitar 470 SM–399 SM) adalah salah seorang filsuf
dari Yunani, salah satu pemikir antroposentrisme yang hidup pada masa Yunani
Klasik. Pemikiran filsafat Sokrates bertujuan untuk mengenal manusia dengan
memahami alam semesta melalui teori. Perhatian utama dalam pemikiran filsafat
Sokrates adalah mengenai hakikat dari kehidupan manusia. ia merupakan salah
satu tokoh yang mulai memperkenalkan istilah "filsafat" di lembaga
pendidikan. Pemikiran Sokrates mempengaruhi muridnya yaitu Plato dan kemudian
ke Aristoteles yang merupakan murid dari Plato. Pengaruh pemikiran Sokrates
menyebar dari negaranya yaitu Athena hingga ke dunia Barat. Pemikirannya yang
utama adalah mengenai filsafat moral atau etika.
Ia pernah
mengungkapkan: “Hanya satu yang saya tahu, yakni
saya tidak tahu apa-apa.” "Aku tahu bahwa aku tidak
mengetahui apa pun" merupakan sebuah perkataan dari tulisan Plato tentang
filsuf Yunani kuno Socrates yang juga merupakan gurunya. Frasa ini terkadang
disebut juga sebagai Paradoks Sokratik. Socrates sering berpura-pura tidak tahu
apa-apa (ini sering disebut sebagai ironi Socrates: “Yang saya tahu hanyalah
bahwa saya tidak tahu apa-apa”). Ia akan meyakinkan mereka untuk menilai
kembali asumsi mereka dan memecahkan masalah secara filosofis.
*****
Imam Malik: Mālik
ibn Anas bin Malik bin 'Āmr al-Asbahi atau Malik bin Anas (lengkapnya: Malik
bin Anas bin Malik bin `Amr, al-Imam, Abu `Abd Allah al-Humyari al-Asbahi
al-Madani), Imam Malik dilahirkan di Kota Madinah 79 tahun setelah wafatnya
Nabi Besar Muhammad saw, tepatnya tahun 93 H. Tahun kelahirannya bersamaan
dengan tahun wafatnya salah seorang sahabat Nabi yang paling panjang umurnya,
Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Ia adalah pakar ilmu fikih dan hadis, serta
pendiri Mazhab Maliki, juga merupakan guru dari Muhammad bin Idris; pendiri
Madzhab Syafi'i.
Dalam sebuah
kisah yang cukup populer, Ibn Abdil Barr menuliskan bahwa Imam Malik pernah dihadapkan
pada empat puluh pertanyaan. Dari empat puluh pertanyaan tersebut, Imam Malik
menjawab untuk tiga puluh enam pertanyaannya dengan jawaban, “La Adri” (Saya
Tidak Tahu).
*****
Dari keduanya;
Socrates dan Imam Malik, kita menyadari bahwa orang yang berilmu tinggi tidak
selalu mengetahui jawaban dari setiap pertanyaan, bahwa Tak Ada yang
Mengetahui Segala Sesuatu selain Pengetahuan itu sendiri. sehingga
dikatakan, semakin tinggi ilmu seseorang semakin ia menyadari bahwa banyak hal
yang tidak ia ketahui, sebagaimana orang ahli ilmu matematika tidak mengetahui
ilmu ahli kedokteran, begitu juga sebaliknya.
Dari itu, marilah
kita membuka pikiran kita (bersikap open mind) dan menyadari bahwa: “Hanya
satu yang saya tahu; yakni saya tidak tahu apa-apa.”
Akhir kata, seringkali mengatakan lebih mudah daripada melakukan
(it’s all complicated)!!!
Maka dari itu, tetaplah semangat untuk melakukan setiap sesuatu Sebaik
Mungkin!!
Dan tetaplah “Bersenang-Senang!”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar