LIMA CARA AGAR AKU MATI Sebuah Kumpulan Cerita tentang Cinta, Dosa, dan Orang-Orang yang Tidak Mau Menyerah by: alidnobilem.co.id   PR...

LIMA CARA AGAR AKU MATI

LIMA CARA AGAR AKU MATI
Sebuah Kumpulan Cerita tentang Cinta, Dosa, dan Orang-Orang yang Tidak Mau Menyerah
by: alidnobilem.co.id

 

PROLOG

Aku pernah mencoba menjadi orang baik.

Aku menghadiri pengajian seminggu sekali. Menikah dengan cara yang sah. Mencari nafkah sampai pinggang encok. Membayar pajak tepat waktu tanpa protes. Bahkan, aku pernah ikut donor darah meskipun harus menahan malu karena hampir pingsan begitu melihat ujung jarum suntik.

Tetapi hidup ini punya selera humor yang bajingan. Hidup sama sekali tidak tertarik pada orang yang ingin berjalan lurus dan tenang. Hidup justru berbisik di telingaku, "Mari kita lihat seberapa keras kau bisa tertawa sebelum seluruh dunaimu terbakar."

Dan benar saja. Aku hampir mati lima kali.

Sialnya, tidak satu pun dari ancaman maut itu datang karena musuh bebuyutan atau dendam lama. Semuanya terjadi karena orang-orang yang kucintai. Karena dalam hidupku, garis batas antara cinta sejati dan bahaya fana ternyata setipis benang jahit.

 

CERITA PERTAMA: Jaran Goyang Tidak Berlaku untuk Wanita Arab

"Kau yakin dia belum menikah, Farid?" "Demi Allah, belum." "Sudah tanya langsung?" "Belum." "Lalu kau tahu dari mana, Malik?" "Feeling spiritual seorang jomblo."

Aku memandangi Farid dengan tatapan lelah. Orang ini terlalu sering mempertaruhkan sisa harga dirinya pada intuisi selangkangan.

Malam itu, kami baru saja keluar dari pengajian akbar di masjid agung. Udara dingin pasca-hujan masih terasa ketika kami melihat seorang perempuan berdiri sendirian di halte remang-remang pinggir kota. Ia mengenakan kerudung hitam polos. Matanya sepekat malam, kulitnya putih kecokelatan, dengan hidung yang begitu tajam hingga mampu menembus ego lelaki mana pun. Paras Timur Tengah yang tegas.

Itu bukan jenis kecantikan yang membuat lelaki ingin menggoda, melainkan jenis kecantikan yang membuat para pendosa mendadak ingin berwudu dan memperbaiki posisi duduk.

Farid menyenggol lenganku keras-keras. "Kalau kita tidak kenalan, hukumnya dosa." "Kitab mana yang bilang begitu?" tembakku. "Kitab Penyesalan Lelaki, bab satu ayat dua."

Sebelum sempat kucegah, Farid sudah melangkah maju dengan dada membusung. "Assalamu'alaikum."

Perempuan itu menoleh. Matanya sedingin es kutub. "Wa'alaikumussalam." "Saya Farid. Dan ini teman saya, Malik. Mukanya mirip takmir masjid yang lupa pasang pelantang suara."

Aku terpaksa mengangkat tangan kaku sambil tersenyum kecut. "Halo."

Perempuan itu mengangguk formal, luar biasa sopan, namun sedetik kemudian ia kembali menatap layar ponselnya. Menganggap kami layaknya angin malam yang numpang lewat.

Farid pantang mundur. "Boleh minta nomor teleponnya? Untuk... silaturahmi antar-umat." "Tidak."

Singkat. Padat. Meruntuhkan harga diri dalam satu ketukan.

Saat kami berjalan mundur dengan teratur, Farid berbisik frustrasi dengan wajah frustrasi, "Apa kita pakai jalur alternatif saja? Jaran goyang?"

Aku langsung memukul jidatnya. "Astaghfirullah! Pulang pengajian malah mau main dukun. Kalau jaran goyangmu mempan ke wanita Arab, yang ada kamu bukan dikasihi, tapi langsung diruqyah sama seluruh paman dan sepupunya!"

Kami pulang malam itu sambil tertawa, menganggapnya sekadar lelucon pengusir kantuk. Aku mengira cerita itu selesai di halte. Namun, takdir ternyata suka melawak.

Dua tahun kemudian, di sebuah seminar bisnis yang membosankan, takdir tertawa di depanku. Perempuan itu duduk dua kursi di depan sebelah kananku. Masih dengan tatapan dingin yang sama. Aku yakin dia tidak mengingatku. Namun, saat istirahat makan siang, ia justru melangkah menghampiriku sambil membawa segelas kopi hitam.

"Maaf," ujarnya datar. "Kita pernah bertemu?" Aku menelan ludah, gugup. "Halte bus dua tahun lalu?"

Ia terdiam sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis—sebuah pemandangan yang nyaris membuatku lupa cara bernapas. "Ah, yang temannya mau pakai jaran goyang?"

Ya Allah. Dia ingat.

"Temanmu itu... bagaimana kabarnya?" tanyanya kemudian. "Masih jomblo. Masih hobi cari penyakit," jawabku jujur.

Untuk pertama kalinya, ia tertawa lepas. Dan dari tawa itulah, "neraka" termanis dalam hidupku dimulai. Dua tahun setelah seminar itu, aku menikahinya. Dan baru pada malam pertama aku menemukan fakta paling mengerikan dalam kehidupan laki-laki: jaran goyang memang tidak mempan pada wanita Arab, karena dialah pemilik mantra sihir sesungguhnya yang bernama: Wanita Selalu Benar.

 

CERITA KEDUA: Wanita, Bantu Kami Membantu Kalian

Hari pertama setelah resepsi pernikahan selesai, istriku memberikan pidato kebangsaan di kamar tidur: "Kamu bebas melakukan apa saja di rumah ini, Malik. Asal kamu tahu apa yang harus dilakukan."

Itu adalah kalimat paling manipulatif dan menjebak dalam sejarah linguistik manusia. Kata "bebas" disandingkan dengan "harus tahu". Sebagai seorang komedian yang terbiasa mengandalkan logika dan observasi, aku mulai menyadari bahwa dalam pernikahan, logika adalah barang haram.

Untuk bertahan hidup, aku mulai menulis jurnal ilmiah darurat yang kunamai The Wife Code:

Hari ke-43: Istriku cemberut di depan TV. Aku bertanya ada masalah apa. Dia menjawab, "Tidak ada apa-apa." Aku mempercayainya dan lanjut bermain PlayStation dengan tenang. Hasil: Aku tidur di sofa ruang tamu selama tiga hari berturut-turut ditemani nyamuk. Kesimpulan: "Tidak apa-apa" adalah kode darurat bahwa nyawamu sedang di ujung tanduk.

Hari ke-81: Dia pulang kerja dengan wajah ditekuk. Aku tidak menawarkan solusi atau nasihat logis. Aku hanya memeluknya dari belakang dan berbisik, "Kamu mau seblak level lima atau sate kambing muda?" Hasil: Aku dipeluk erat. Malam berjalan damai. Kesimpulan: Wanita tidak selalu mencari solusi matematika; mereka hanya ingin didengar dan diberi asupan karbohidrat.

Aku membawa seluruh isi riset domestik ini ke atas panggung stand-up comedy. Di bawah lampu sorot kafe yang penuh sesak, aku melempar hook andalanku:

"Saudara-saudara sesama korban... Wanita itu misteri yang dibungkus teka-teki. Kami, para suami, tidak minta banyak. Kami hanya punya satu permohonan sederhana: Wanita, tolong bantu kami membantu kalian! Katakan apa mau kalian dengan subjek, predikat, dan objek yang jelas! Jangan pakai bahasa isyarat batin atau getaran frekuensi gaib!"

Penonton pecah. Ruangan bergemuruh. Para suami bertepuk tangan sampai menangis, sementara para istri ikut tertawa keras sambil mencubit pinggang suami mereka masing-masing. Aku merasa berada di puncak dunia. Bahan komedi terbaik ternyata bukan politik korup atau gosip artis, melainkan penderitaan indah dalam pernikahan.

Namun, saat aku sibuk menertawakan hidup di atas panggung, badai sesungguhnya sedang menggulung istriku di luar sana. Dan kali ini, sama sekali tidak ada yang lucu.

 

CERITA KETIGA: The Arab Girl

Istriku bekerja sebagai asisten kepala di sebuah rumah mode elit ternama. Namun, industri fashion kelas atas tidak diisi oleh keindahan kain sutra belaka; itu adalah sarang ular berbisa yang dibalut beludru mahal. Perusahaan pertamanya bangkrut secara misterius, dan sekarang, tempat kerjanya yang baru mengumumkan akan melakukan PHK massal akibat skandal plagiarisme dan pencucian uang yang dilakukan oleh para investor tinggi.

Dia pulang malam itu dengan maskara yang luntur oleh air mata. "Aku capek, Malik. Aku tidak mau mulai dari nol lagi." Aku memeluknya erat, membiarkan bajuku basah. "Kita bisa cari jalan lain." "Tidak," matanya yang tajam kembali menyala di balik sisa tangisnya. "Ini tidak adil. Bosku tahu siapa yang menjebak perusahaan ini."

Tepat pukul sebelas malam, Madame Elena—atasan istriku yang eksentrik, dingin, dan ditakuti di industri kreatif—menelepon.

"Kita keluar malam ini juga, Arab Girl. Kita bawa semua draf desain utama, daftar vendor rahasia, dan bukti audit internal. Kita bangun studio kita sendiri dari garasimu, atau kita hancur ditindas mereka. Kau ikut?"

Istriku menatapku, mencari kepastian di mataku. Aku hanya tersenyum dan berkata, "Kalau kau percaya padanya, aku ada di belakangmu."

Mereka nekat membelot. Bermodalkan satu laptop, dua mesin jahit tua di garasi rumah kami, dan utang bank yang terlalu besar untuk dipikirkan saat waras. Namun, keputusan berani itu membawa kami masuk ke dunia yang jauh lebih kejam daripada sekadar kehilangan pekerjaan.

Industri mode papan atas ternyata memiliki sisi spionase yang gelap. Mantan bos istriku menyewa firma hukum hitam dan preman bayaran untuk merebut kembali aset data desain tersebut. Studio kecil kami mulai dimata-matai, kaca jendela garasi kami dilempar batu, dan istriku berada di garis depan, memegang rahasia dagang bernilai jutaan dolar yang siap dipertahankan oleh musuh, bahkan jika mereka harus menggunakan kekerasan fisik.

 

CERITA KEEMPAT: Darah Saudara

Untuk mendanai pergerakan studio fashion istriku yang terus ditekan dan membutuhkan biaya sewa pengacara, aku butuh uang cepat. Sialnya, setan tahu persis kapan harus mengetuk pintu rumahmu.

Telepon itu datang pukul dua pagi dari adik kandungku, parau dan gemetar. "Kak... aku terjebak. Tolong aku di gudang pelabuhan lama."

Saat aku tiba di lokasi, bau keringat, darah, asap rokok, dan perputaran uang haram menyengat hidung. Tempat itu adalah arena pertarungan underground boxing ilegal. Adikku yang bodoh terlilit utang judi besar pada seorang bandar bernama gembong mafia lokal. Yang lebih mengerikan, arena itu dilindungi oleh oknum kepolisian berpangkat tinggi dan seorang intel hitam yang mengatur jalannya taruhan.

"Satu-satunya cara agar adikmu pulang dengan kepala utuh," ujar si bandar sambil menghisap cerutunya di balik ring, "adalah jika kau menggantikan petinju kami yang tewas kemarin. Kau punya riwayat tinju amatir, kan? Kalah di ronde keempat sesuai skenario taruhan kami, maka utang adikmu lunas."

Aku menatap adikku yang sudah babak belur di pojokan. Aku tidak punya pilihan. Aku mengikatkan handwrap ke buku-buku jariku yang sudah lama tidak memukul orang. Aku harus turun ke neraka demi darah dagingku sendiri.

Namun, skenario itu berubah menjadi bencana. Di ronde ketiga, aku melihat pergerakan aneh di sudut penonton. Instingku berteriak. Intel korup yang mengawasi jalannya pertandingan ternyata tidak berniat membiarkan siapa pun keluar hidup-hidup malam itu. Mereka berencana menghabisi seluruh orang di dalam gudang setelah taruhan besar selesai terkumpul—termasuk para petinju—untuk menghapus jejak digital dan keterlibatan aparat.

Pertandingan ini diatur bukan untuk menghasilkan pemenang, melainkan untuk mengeksekusi semua saksi mata. Saat lampu gudang mendadak mati dan desingan peluru pertama terdengar, aku melompat keluar ring, menarik adikku, dan menggunakan sisa-sisa tenagaku untuk bertarung menembus kepungan aparat korup yang menembak membabi buta di tengah kegelapan hujan pelabuhan.

 

CERITA KELIMA: Neraka Para Pencari

Pelarian dari kejaran intel korup malam itu berakhir tragis. Mobil kami dihadang, dan alih-alih dibawa ke kantor polisi, aku disergap oleh faksi rahasia bentukan para oligarki kota—yang di dalam kepalaku yang mulai trauma dan gila, kusebut sebagai "Kerajaan".

Sang Pemimpin, seorang pria tua zhalim berjas rapi, memberikan ultimatum di sebuah ruangan bawah tanah: "Masuk ke Pulau Sebatik terdalam, wilayah tak bertuan yang dilarang oleh hukum petualang. Tempat itu disebut 'Neraka Para Pencari'. Di sana, sebuah tim ilmuwan menyembunyikan 'Air Kehidupan'—sebuah kode untuk flashdisk berisi data konsorsium hitam, skandal korupsi, dan bukti pencucian uang mutlak milik seluruh tiran di negeri ini. Bawa itu kembali padaku dalam tujuh hari, atau seluruh keluargamu kami ratakan dengan tanah."

Aku dikirim ke pulau terisolasi itu bersama sembilan orang buangan lainnya. Kami tidak dibiarkan sendiri; setiap kelompok dikawal oleh seorang Pengawas Kelas S—sebutan untuk para pembunuh bayaran berdarah dingin yang bertugas mengeksekusi siapa saja yang melangkah mundur atau mencoba kabur dari misi.

Pengawas kelompokku adalah seorang wanita bertopeng kain hitam dengan tatapan mata yang membuat jantungku berhenti. Dingin, misterius, tajam. Namanya Laila.

Anehnya, setiap kali jebakan ranjau militer atau binatang buas di pulau itu hampir merenggut nyawaku, Laila selalu mengayunkan belatinya tepat waktu untuk menyelamatkanku.

"Kenapa kau terus melindungiku?" tanyaku saat kami terjebak badai di dalam sebuah gua batu yang basah. Laila tidak menoleh saat membersihkan darah di pisaunya. "Karena ada seorang wanita Arab di kota yang sedang menangis menunggumu pulang. Dan aku benci melihat wanita yang tulus harus menangis karena kebodohan suaminya."

Di titik terdalam pulau itu, di dalam reruntuhan laboratorium terbengkalai, aku berhasil menemukan 'Air Kehidupan' tersebut. Namun, setelah membaca sekilas isinya, aku membeku. Dokumen itu bukan hanya kunci keselamatanku; itu adalah senjata pemusnah massal. Jika kubawa pulang dan kuberikan pada sang tiran, keluargaku selamat, tetapi dokumen itu akan digunakan untuk memeras semua penguasa lain, membuat lingkaran setan tirani itu abadi dan tak tersentuh hukum selamanya. Jika kuhancurkan, aku akan dieksekusi mati di tempat ini oleh Laila.

Aku berbalik, menatap Laila, dan meletakkan flashdisk itu di atas meja lab. Aku siap pasrah.

Laila perlahan menurunkan laras senjatanya. Ia membuka topeng kainnya, memperlihatkan guratan luka di pipinya, namun matanya memancarkan senyuman tipis—senyuman dingin yang persis sama dengan senyuman istriku di halte bus empat tahun lalu.

"Lakukan apa yang menurutmu benar, Malik. Biar aku yang urus sisanya," bisik Laila.

 

EPILOG

Aku tidak mati di pulau itu.

Aku memilih menghancurkan data tersebut, memicu sistem peledakan otomatis laboratorium, dan entah bagaimana—berkat kombinasi trik panggung, insting bertahan hidup yang nekat, serta bantuan sabotase dari Laila—aku berhasil merangkak keluar dari ledakan dan kembali ke peradaban dengan menumpang kapal nelayan.

Kini, kakiku agak pincang, tubuhku dipenuhi tato luka bakar, dan adikku berhasil selamat dari kejaran mafia setelah lingkaran judi itu digerebek faksi militer saingan. Studio fashion istriku pun akhirnya memenangkan gugatan hak cipta di pengadilan berkat dokumen cadangan yang diam-diam diselundupkan oleh Laila sebelum laboratorium di pulau itu rata dengan tanah.

Teman-teman komikaku di klub stand-up sering bertanya padaku setelah aku kembali naik panggung dengan setelan jas mahal tertutup untuk menyembunyikan bekas luka, "Malik, dari semua maut yang pernah kau hadapi—mafia tinju, intel korup, konspirasi fashion, sampai algojo kelas S di pulau terkutuk—mana yang paling membuatmu ingin mati karena takut?"

Aku memegang mikrofon erat-erat, menatap ratusan penonton di depanku, lalu berbisik dengan kejujuran yang luar biasa traumatis:

"Bukan bandar judi ilegal. Bukan moncong senjata intel. Yang paling menakutkan dalam hidupku adalah ketika aku berhasil pulang ke rumah jam dua malam, membuka pintu, dan mendapati istri Arab-ku sudah duduk diam di meja makan yang gelap gulita. Ia melipat tangannya di dada, menatapku lurus-lurus, lalu berkata dengan nada suara yang sangat datar..."

"Malik, kita perlu ngobrol."

Dan di detik itu juga, seluruh ruangan kafe terdiam. Para suami di barisan depan mendadak bergidik ngeri dan berkeringat dingin. Karena mereka semua tahu, di hadapan satu kalimat sakti itu, seluruh ilmu bela diri, taktik bertahan hidup, bahkan mantra jaran goyang paling ampuh di dunia pun mendadak kehilangan fungsinya.


Note: Ini hanyalah cerita fiksi, jadi jangan terlalu diambil hati.


0 komentar:

About