Laivisfan in Sumber Pocong by: alidnobilem.co.id PROLOG: Tentang Orang-Orang Biasa S...

Laivisfan in Sumber Pocong

Laivisfan in Sumber Pocong
by: alidnobilem.co.id

PROLOG: Tentang Orang-Orang Biasa

Sebagian besar pahlawan lahir dari rahim legenda yang megah, ditempa oleh ramalan, atau dipersenjatai warisan garis darah bangsawan.

Laivisfan tidak memiliki satu pun dari itu.

Ia lahir dari labirin gang sempit yang pengap, tumbuh di kamar kos murah beratap bocor, dan memiliki dompet yang lebih sering berisi struk tagihan daripada lembaran uang. Jika seseorang bertanya apa keistimewaannya, tidak akan ada jawaban yang memuaskan. Ia bukan atlet dengan otot kawat, bukan ilmuwan jenius, bukan pula lelaki dengan rupa menawan yang mampu membuat orang menoleh dua kali.

Namun, ia memiliki satu hal yang mulai langka di dunia modern: keras kepala yang mutlak. Ia tidak tahu cara menyerah. Dan terkadang, sejarah dunia justru dibelokkan oleh arah melangkah orang-orang keras kepala seperti dia.

BAB I: Dua Kantong Kering

Kamar kos itu begitu sempit. Jika Laivisfan meregangkan kedua tangannya lebar-lebar, ujung jarinya akan langsung menabrak dinding semen yang catnya sudah mengelupas. Di dalam kotak pengap itulah ia tinggal bersama Bramantyo, sahabatnya sejak masa sulit di awal kuliah.

Mereka bertahan hidup dari pekerjaan serabutan—mulai dari menerjemahkan dokumen, mendesain logo murah, hingga menjadi kuli panggul digital. Kadang mereka makan layak, namun lebih sering mereka membagi satu bungkus mi instan untuk berdua.

Malam itu adalah akhir bulan, waktu untuk ritual sakral mereka: menumpahkan koin-koin receh di atas tikar pandan.

Bramantyo memegang buku catatan kecil yang kumal. Di dalamnya tertulis angka-angka rumit: biaya obat jantung ibunya, sisa uang kuliah adiknya, dan tagihan listrik. Sementara Laivisfan hanya memegang secarik kertas minyak berisi daftar utang di Warung Bu Teti.

"Kalau hidup ini adalah balapan, Fan," kata Bramantyo sambil menghela napas, menatap koin seratus rupiah yang menggelinding, "kita ini penonton yang bahkan nggak punya tiket buat masuk sirkuit. Udah kalah dari awal."

Laivisfan terkekeh, memasukkan sebutir kacang garing terakhir ke mulutnya. "Kalau emang kalah dari awal, ya lanjut jalan aja, Bram. Nggak ada bendera finish yang melarang orang miskin buat tetep melangkah, kan? Siapa suruh berhenti?"

Bramantyo tersenyum tipis. Kalimat konyol itu, entah bagaimana, selalu berhasil menambal dinding semangat mereka yang keropos.

BAB II: Putri yang Tidak Pernah Hilang dari Ingatan

Jauh sebelum terjebak dalam realitas kantong kering, Laivisfan pernah merasakan sejumput keberuntungan. Tiga tahun lalu, ia berhasil lolos program pertukaran pelajar singkat ke Yogyakarta. Di sanalah ia bertemu dengan Putri Anindya, seorang gadis dengan senyum tenang yang seolah mampu meredam riuh rendahnya dunia.

Mereka sering menghabiskan sore di sudut perpustakaan kuno, berbicara tentang melodi lagu indie yang asing, halaman-halaman buku sastra, dan betapa rumitnya ekspektasi orang dewasa.

Diam-diam, Laivisfan jatuh cinta. Namun, setiap kali menatap sepatu kainnya yang jebol, keberaniannya menguap. Ia merasa tidak pantas. Hingga program berakhir, mereka berpisah tanpa satu pun kata pengakuan.

Yang tersisa hanyalah selembar surat ungkapan hati yang ditulis Laivisfan dengan tangan gemetar. Surat itu berakhir di laci paling bawah meja kosnya, terkunci bersama waktu. Ia tidak pernah tahu bahwa di sudut kota yang lain, di dalam sebuah kotak beludru, Putri Anindya juga menyimpan sepucuk surat dengan isi yang sama persis.

BAB III: Teman dari Balik Layar

Ketika dunia nyata terlalu bising dan menekan, Laivisfan menemukan pelarian di dunia maya. Lewat sebuah forum diskusi geopolitik internasional, ia berkenalan dengan akun bernama Laivislaip.

Awalnya mereka hanya berdebat tentang teori konspirasi global. Lalu, percakapan bergeser menjadi rutinitas harian. Laivislaip selalu tahu kapan Laivisfan sedang terpuruk hanya dari ritme ketikannya. Ia selalu mengirimkan untaian kalimat penenang yang janggal namun tepat sasaran di saat-saat paling gelap.

Tanpa sadar, mengetuk layar ponsel dan menunggu notifikasi dari Laivislaip setiap pukul sebelas malam telah menjadi napas buatan bagi Laivisfan. Mereka tidak pernah bertukar foto wajah, tidak pernah tahu nama asli masing-masing. Mereka hanya dua jiwa yang saling menyembuhkan lewat untaian piksel.

BAB IV: Gelombang Hilangnya Para Putri

Dunia mendadak diguncang oleh teror yang aneh namun mematikan. Satu per satu, putri-putri dari keluarga terpandang dan bangsawan di berbagai belahan dunia menghilang tanpa jejak. Satu putri dari Eropa, dua dari Asia, hingga dalam sebulan, belasan putri lenyap.

Kelompok yang bertanggung jawab menamakan diri mereka Putri Lovers. Sebuah nama yang terdengar seperti klub penggemar animasi fiksi, namun manifesto yang mereka sebarkan di internet dipenuhi ancaman pembunuhan berdarah dingin.

Sore itu, Laivisfan sedang menyeduh kopi instan ketika siaran berita di televisi warung menampilkan daftar korban terbaru. Matanya terpaku pada layar. Jantungnya serasa dihantam godam baja ketika pasfoto seorang gadis muncul.

Putri Anindya. Diculik dari kediamannya dua hari lalu.

Gelas kopi di tangan Laivisfan jatuh, pecah berantakan di lantai.

BAB V: Undangan Berdarah

Seminggu setelah berita penculikan itu, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan gang sempit kos Laivisfan. Seorang pria berjas rapi turun dan menyerahkan sebuah amplop tebal dengan segel lilin berwarna emas murni.

Surat itu menyatakan bahwa Laivisfan, berdasarkan keaktifan dan analisisnya yang tajam di forum diskusi internasional (yang ternyata merupakan alat skrining terselubung milik pemerintah), terpilih sebagai delegasi sipil mandiri untuk menghadiri Upacara Pertemuan Antarnegara.

"Ini pasti seminar internasional, Fan! Kamu bakal dapat sertifikat, bisa buat melamar kerja di perusahaan multinasional!" seru Bramantyo bersemangat, melihat tiket pesawat gratis yang disertakan.

Laivisfan hanya menatap segel emas itu dengan firasat buruk. Pikirannya melayang pada Putri Anindya. Ada benang merah yang tidak kasat mata, dan ia tahu ia harus berangkat.

BAB VI: Aliansi yang Terpaksa

Dalam penerbangan menuju lokasi pertemuan—sebuah wilayah terisolasi di pulau terpencil—Laivisfan terkejut saat mendapati siapa yang duduk di kursi sebelahnya.

Raditya Kresna.

Lelaki parlente, anak orang kaya yang dulu menjadi musuh bebuyutan Laivisfan semasa sekolah; orang yang tiada hari tanpa mengejek kemiskinan Laivisfan. Namun, Raditya yang sekarang tampak berbeda. Wajahnya kusut, matanya merah karena kurang tidur.

"Kamu? Ngapain anak miskin kayak kamu ada di penerbangan kelas bisnis ini?" desis Raditya, mencoba mempertahankan keangkuhannya.

"Aku delegasi. Kamu sendiri?"

Raditya terdiam lama, jemarinya meremas sandaran kursi. "Kekasihku... dia salah satu putri yang diculik. Pemerintah bilang, kalau aku ikut pertemuan ini sebagai perwakilan pemuda, aku bisa mendapat informasi akses langsung ke penculik."

Laivisfan menatapnya lurus. "Putri Anindya juga diculik. Aku ke sana untuk dia."

Raditya menoleh, rasa terkejut kilat melintas di matanya, diikuti oleh keheningan yang panjang. "Aku tetap tidak menyukaimu, Laivisfan."

"Aku juga tidak sudi berteman denganmu, Radit."

"Lalu?"

"Kita kerja sama sampai mereka aman," kata Laivisfan sambil mengulurkan tangannya yang kasar.

Raditya menatap tangan itu, lalu menyambutnya dengan cengkeraman kuat. Permusuhan masa kecil mereka hangus, digantikan oleh keputusasaan yang sama.

BAB VII: Rahasia di Balik Upacara

Setibanya di kompleks kuno yang dikelilingi hutan pekat, kebenaran pahit langsung menghantam mereka. Upacara Pertemuan Antarnegara bukanlah forum diplomasi atau seminar dunia. Itu adalah kedok dari turnamen hidup-mati yang dikelola secara klandestin selama berabad-abad.

Setiap sepuluh tahun, perwakilan yang dipilih dari berbagai negara dipaksa bertarung dalam arena brutal untuk menentukan dominasi pengaruh ekonomi dan politik bawah tanah global. Pemenang membawa kejayaan dan miliaran dana cair untuk negaranya. Pecundang pulang di dalam peti mati.

"Dan para putri yang diculik..." Raditya berbisik dengan tubuh gemetar saat melihat proyeksi hologram di aula utama.

"Mereka adalah sandera," potong Laivisfan dengan rahang mengeras. "Selama para putri berada di tangan Dewan Penjaga Upacara, negara-negara peserta tidak akan berani menarik diri atau membocorkan kegilaan ini kepada publik."

BAB VIII: Pertemuan di Balik Tirai

Malam sebelum turnamen dimulai, para peserta diizinkan mengunjungi area sosialisasi di taman tengah. Di sanalah, di bawah rintik hujan tipis, Laivisfan melihat seorang gadis bergaun putih dengan syal rajut yang sangat ia kenali dari deskripsi foto di forum internet.

"Laivislaip?" panggil Laivisfan ragu.

Gadis itu berbalik. Wajahnya cantik, namun memancarkan keletihan yang amat sangat. Matanya membelalak mendengarkan nama samaran itu. "Kau... Kantong Kering? Laivisfan?"

Dunia seolah berhenti berputar. Teman curhatnya di balik layar, jiwa yang menguatkannya selama setahun terakhir, kini berdiri nyata di hadapannya. Mereka menghabiskan malam itu dengan berjalan di sepanjang koridor batu, berbicara tanpa henti, menyatukan potongan-potongan teka-teki digital mereka ke dalam realitas.

Untuk pertama kalinya, Laivisfan menyadari getaran di dadanya bukan lagi sekadar rasa terima kasih antar sahabat fiksi. Ada rasa cinta yang tumbuh subur di sana. Dari binar mata Laivislaip, ia tahu gadis itu merasakan hal yang sama. Namun, di bawah bayang-bayang kematian turnamen esok hari, tak satu pun dari mereka berani mengucapkannya.

BAB IX: Benang Merah Konspirasi

Malam itu juga, Bramantyo tiba-tiba muncul di barak mereka dengan napas terengah-engah. Menggunakan sisa uang tabungannya, ia nekat menyusul sebagai staf logistik gelap demi menjaga nyawa sahabatnya.

Bertiga dengan Raditya, mereka melakukan investigasi kilat terhadap sistem keamanan digital kompleks tersebut. Menggunakan keahlian retas amatir Laivisfan dan alat komunikasi yang diselundupkan Bramantyo, mereka berhasil menembus dokumen rahasia.

"Kelompok Putri Lovers itu omong kosong!" Bramantyo menunjuk layar gawai. "Mereka cuma faksi buatan yang sengaja diciptakan untuk menjadi kambing hitam. Dalang aslinya adalah Dewan Penjaga Upacara—para elite global yang ingin mempertahankan tradisi taruhan nyawa ini demi mengontrol roda kapitalisme dunia!"

BAB X: Tragedi yang Mengubah Segalanya

Hari pembukaan turnamen tiba dengan atmosfer yang mencekam. Ribuan penonton bertopeng dari kalangan elite duduk di tribun melingkar. Laivisfan berdiri di koridor pembatas bersama Laivislaip yang memberikan senyum penyemangat terakhirnya.

DOR! DOR! DOR!

Suara tembakan gencar memecah keriuhan, bukan dari arena, melainkan dari arah menara pengawas. Dewan Penjaga mendeteksi adanya kebocoran data dan melakukan pembersihan instan terhadap peserta yang dicurigai sebagai pembangkang.

Tubuh Laivislaip terjerembap ke depan. Gaun putihnya dengan cepat ternoda oleh warna merah pekat yang berhamburan.

"Tidak! Tidak!" Laivisfan berlutut, menangkap tubuh gadis itu yang terasa mendingin dengan cepat. Tangannya gemetar hebat, mencoba menahan darah yang terus mengalir dari dadanya. Lelaki yang biasanya penuh kata-kata itu kini mendadak bisu oleh rasa syok.

Laivislaip tersenyum lemah, jemarinya yang berdarah menyentuh pipi Laivisfan. "Aku... senang... akhirnya bisa menatap matamu langsung, Fan."

"Bertahanlah, kumohon, aku belum sempat bilang kalau aku—"

"Aku sudah tahu," bisik gadis itu, napasnya memendek, menyisakan binar redup di matanya. "Selamatkan mereka... hancurkan tempat ini..."

Tangan itu terjatuh. Napasnya berhenti. Di tengah kekacauan raung sirine, air mata Laivisfan jatuh membasahi wajah sahabat layarnya. Sesuatu di dalam diri Laivisfan patah, dan dari patahan itu, lahir kemarahan yang membakar habis rasa takutnya.

BAB XI: Sumpah di Masjid Al-Muchtar

Malamnya, turnamen ditunda akibat insiden tersebut. Kompleks diselimuti ketegangan. Di sudut terjauh area penahanan, terdapat sebuah bangunan ibadah tua yang dibangun oleh pekerja lokal puluhan tahun lalu: Masjid Al-Muchtar.

Di bawah pendar lampu gantung yang temaram, seluruh peserta dari berbagai negara berkumpul dalam kesunyian yang mencekam. Mereka berdoa menurut keyakinan masing-masing demi keselamatan yang semu.

Laivisfan bersujud lama di atas karpet hijau yang berdebu. Di dalam rumah ibadah yang damai itu, ia melafalkan sumpah di dalam hatinya. Ia tidak lagi peduli pada medali, kejayaan, atau uang taruhan. Ia bersumpah demi darah Laivislaip yang tumpah untuk menghancurkan seluruh sistem biadab ini hingga ke akar-akarnya.

BAB XII: Neraka di Sumber Pocong

Fase final turnamen dipindahkan ke Sumber Pocong, sebuah situs pemandian kuno beraliran air belerang panas yang diselimuti kabut tebal abadi di dasar lembah. Tempat itu sunyi, mistis, dan mematikan.

Pertarungan jarak dekat pecah di antara bebatuan berlumut. Asap belerang mengaburkan pandangan, sementara raung kesakitan menggema. Satu per satu peserta berguguran, darah mereka mengalir, bercampur dengan mata air panas yang mengepulkan uap putih. Laivisfan bertarung bagai kesurupan, hanya bermodalkan pisau taktis dan keteguhan hati yang keras kepala.

BAB XIII: Bahu-Membahu

Dalam satu kepungan kabut, seorang pembunuh bayaran sewaan Dewan berhasil menyudutkan Laivisfan. Bilah pedang hampir saja menebas lehernya ketika sebuah balok kayu besar menghantam kepala sang pembunuh hingga pingsan.

Raditya berdiri di sana, napasnya memburu dengan baju yang robek-robek. Ia baru saja mempertaruhkan nyawanya sendiri demi menarik Laivisfan dari ambang maut.

Keduanya jatuh terduduk di atas tanah basah, saling memandang dengan napas terengah-engah, lalu entah mengapa, mereka tertawa bersama di tengah desing peluru yang masih terdengar di kejauhan.

"Kita waktu sekolah dulu bodoh banget ya, Dit," ujar Laivisfan sambil menyeka darah di sudut bibirnya.

"Sampai sekarang pun kita masih bodoh, Fan. Mau-maunya mati di tempat kayak begini," balas Raditya sambil tersenyum kecut.

"Benar juga. Tapi setidaknya kita bodoh bersama."

BAB XIV: Menembus Sangkar besi

Memanfaatkan kekacauan di permukaan, Bramantyo berhasil meledakkan panel kontrol pintu generator utama menggunakan bom rakitan sederhana. Pintu baja di balik dinding batu Sumber Pocong terbuka, memperlihatkan fasilitas bawah tanah tempat para putri disekap di dalam sangkar-sangkar kaca.

Laivisfan berlari menerobos asap, matanya liar mencari hingga akhirnya ia berhenti di depan sebuah sangkar bernomor dua belas.

Putri Anindya ada di sana, terduduk lemas namun matanya langsung menyala saat melihat siluet lelaki yang sangat ia kenali. Laivisfan menghantam kaca tebal itu dengan tabung pemadam api hingga retak dan hancur berantakan.

Mereka saling menatap. Jarak waktu tiga tahun dan sekat keraguan yang dulu membentang luas di antara mereka menguap begitu saja dalam hitungan detik.

"Aku sempat mikir kamu nggak bakal datang, anak kos," kata Putri Anindya dengan suara serak, mencoba bercanda di tengah tangisnya.

"Aku emang datang," Laivisfan mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri, "tapi maaf, aku selalu telat."

BAB XV: Pengakuan di Tengah Runtuhan

Alarm bahaya melengking tinggi, lampu-lampu merah berputar liar menandakan fasilitas tersebut mulai runtuh akibat sabotase Bramantyo. Di tengah lorong yang berguncang dan dipenuhi kepulan asap tebal, Laivisfan mendadak menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuh Putri Anindya agar menghadapnya.

Ia tahu, jika ia tidak mengatakannya sekarang, dunia mungkin tidak akan memberinya kesempatan lagi.

"Aku mencintaimu, Putri. Sejak sore-sore di perpustakaan itu. Sampai hari ini."

Di sekeliling mereka, langit-langit beton mulai runtuh, namun bagi mereka berdua, waktu kembali melambat. Putri Anindya tersenyum di balik air matanya yang mengalir.

"Aku tahu, Fan."

"Hah? Kok tahu?" Laivisfan melongo di tengah situasi genting.

"Aku juga menulis surat yang sama waktu itu."

"Tapi... suratku kan nggak pernah aku kirim?"

"Suratku juga nggak pernah dikirim. Kita berdua sama-sama penakut," Putri Anindya tertawa bebas, lalu menggandeng erat tangan Laivisfan. "Sekarang ayo keluar dari neraka ini."

BAB XVI: Runtuhnya Dinasti Topeng

Dengan bantuan keahlian taktis Raditya, sisa data enkripsi yang berisi seluruh nama anggota Dewan Penjaga, bukti transaksi keuangan hitam, dan rekaman pembunuhan berhasil diunggah oleh Bramantyo ke jaringan satelit global yang tidak bisa diblokir.

Dunia gempar malam itu juga. Gelombang protes masif pecah di berbagai negara. Pasukan militer gabungan internasional yang digerakkan oleh desakan publik mengepung kompleks turnamen.

Dewan Penjaga Upacara runtuh dalam semalam; para anggotanya diseret ke pengadilan internasional. Faksi Putri Lovers ditumpas habis, dan tradisi berdarah ratusan tahun itu akhirnya resmi dihapus dari sejarah manusia.

EPILOG: Mereka yang Tetap Berdiri

Enam bulan berlalu semenjak badai internasional itu mereda.

Laivisfan kembali ke kota asalnya. Ia tidak mendapatkan medali kehormatan yang berkilau, tidak juga mendadak menjadi miliarder. Ia masih tinggal di kamar kos sempit berukuran dua kali tiga meter yang sama. Masih harus memutar otak setiap akhir bulan untuk membayar tagihan warung.

Namun, ada banyak hal yang telah berubah di sekelilingnya. Bramantyo kini bisa bernapas lega karena seluruh biaya pengobatan ibunya dan kuliah adiknya ditanggung oleh beasiswa penuh dari yayasan rehabilitasi korban. Raditya, sang mantan musuh, kini sering memarkir mobil sport mewahnya di depan gang sempit hanya untuk mengajak Laivisfan makan mi ayam di pinggir jalan.

Dan Putri Anindya? Gadis itu kini tak lagi berjarak. Ia sering berkunjung ke kosan dengan pakaian kasual sederhana, membawa rantang makanan, dan duduk di tikar pandan tanpa sedetik pun merasa risi.

Sore itu, sebelum bersiap pergi keluar, Laivisfan berdiri di depan cermin retak yang tertempel di dinding kosnya. Ia merapikan kerah kemeja murahnya, menatap pantulan dirinya sendiri, lalu melakukan ritual lamanya.

"Masih ganteng," bisiknya sambil tersenyum simpul.

Mungkin aslinya tidak. Tapi itu tidak lagi menjadi masalah baginya. Karena pada akhirnya, jalannya dunia ini tidak diubah oleh orang-orang berwajah sempurna atau mereka yang memiliki kuasa mutlak sejak lahir.

Dunia diubah oleh orang-orang biasa yang memilih untuk tetap tegak berdiri, melangkah maju, dan menolak untuk menyerah ketika seluruh semesta memberi mereka alasan untuk kalah. Dan Laivisfan, si anak kos kantong kering itu, adalah salah satu dari mereka.


TAMAT.

 

Note: Ini hanyalah cerita fiksi, jadi jangan terlalu diambil hati.

 

0 komentar:

About