Hasad: Penyakit Hati yang Menggelisahkan
by: Achrome Presents (Orang Awam)
Hasad
atau dengki adalah perasaan tidak senang melihat orang lain mendapatkan nikmat,
yang disertai angan-angan agar nikmat tersebut hilang dari pemiliknya. Penyakit
hati ini sering kali lahir dari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Kita kerap terjebak melihat kebahagiaan orang lain tampak lebih indah, seolah
membenarkan pepatah lama: "Rumput tetangga selalu terlihat lebih
hijau." Padahal, setiap manusia membawa paket ujian dan takaran
nikmatnya masing-masing.
Islam
melarang keras umatnya sibuk mengintai garis hidup orang lain. Allah ﷻ berfirman: “Dan janganlah kamu iri hati
terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian
yang lain.” (QS. An-Nisa: 32).
Rasa
dengki pada hakikatnya adalah siksaan bagi pemiliknya. Ketika orang lain
berhasil, ia sedih; ketika orang lain bahagia, ia gelisah dan marah. Akibatnya,
pikiran dipenuhi hal negatif sehingga ia kehilangan kemampuan untuk mengecap
ketenangan. Lebih jauh, dalam kitab Bahjatun-Nadhirin disebutkan bahwa
hasad melahirkan lima dampak buruk bagi pelakunya:
- Kesusahan yang
tidak terputus
- Musibah yang
tidak berpahala
- Celaan (aib)
yang tidak terpuji
- Kemurkaan dari
Allah ﷻ Terutupnya
pintu-pintu taufik (petunjuk)
Tidak
hanya merusak kedamaian mental, hasad juga menjadi rayap yang keroposkan
pahala. Rasulullah ﷺ
mengingatkan kita dalam sebuah hadits shahih: “Janganlah kalian saling
mendengki, janganlah saling tanajusy (menawar barang untuk menjatuhkan orang
lain), janganlah saling membenci, dan janganlah saling membelakangi...”
(HR. Muslim). Dalam riwayat lain yang juga populer, disebutkan bahwa hasad
dapat memakan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar. Hati yang dikuasai
iri pun akan menjadi pintu masuk bagi dosa turunan lainnya, seperti ghibah
(bergunjing), fitnah, dan permusuhan.
Sebagai
penawar dari penyakit kronis ini, Islam menawarkan konsep qanaah—yaitu
sikap merasa cukup dan rida atas pemberian Allah. Orang yang memiliki sifat qanaah
akan lebih mudah menemukan kedamaian, karena ia percaya penuh bahwa Allah
membagi rezeki dengan adil dan penuh hikmah.
Pada
akhirnya, hasad tidak pernah merugikan orang yang kita dengki, melainkan
menghancurkan hati kita sendiri. Semakin seseorang memelihara rasa iri, semakin
jauh ia dari kebahagiaan. Oleh karena itu, mari rawat hati kita dengan
memperbanyak syukur, tulus mendoakan kebaikan bagi sesama, dan menyadari bahwa
semua karunia mutlak milik Allah. Kebahagiaan sejati tidak diukur dari seberapa
banyak harta yang digenggam, melainkan dari kelapangan hati yang mampu menerima
dengan rida dan rasa cukup.
Source: Syarah Sullamut Taufiq
Note:
- Penjelasan seadanya, maklum orang awam
(mohon petunjuk), tak perlu terlalu dipikirkan (fell it).
- Intinya: Lailahaillallah
muhammadurrasulullah; patuhilah Allah (al-Qur;an) dan Rasul-Nya
(Hadits), juga Uril Amri (aturan) di antara kita (bukan orang awam).
- Dan “Tidak peduli siapa pun yang memberikan fatwa pada Anda, tanyakanlah pada hati Anda.”

0 komentar: