Meniti Jalan Keharmonisan:
Batas Diri, Kedalaman Rasa, dan Misteri Manusia dalam Kearifan Jawa
Oleh: alidnobilem Presents
"Ora
kabeh sing bisa ditindakake iku becik ditindakake."
(Tidak semua
yang mampu dilakukan, layak untuk dilakukan.)
Kita hidup di zaman ketika kemampuan bertindak berkembang jauh
lebih cepat daripada kemampuan memahami kapan sebaiknya tidak bertindak.
Teknologi telah memperluas jangkauan suara setiap orang, tetapi tidak otomatis
memperluas kebijaksanaan dalam menggunakannya. Ini bukan sekadar klaim klise
bahwa "manusia modern telah kehilangan arah" secara umum—generalitas
semacam itu terlalu malas diucapkan dan sulit dibuktikan. Yang lebih tepat
dikatakan: ruang digital hari ini menciptakan insentif struktural baru berupa
kecepatan, jangkauan luas, dan anonimitas. Hal inilah yang membuat kegagalan
membatasi diri menjadi jauh lebih terlihat dan menyebar lebih destruktif
dibanding era sebelumnya. Persoalannya bukan manusia hari ini menjadi lebih
buruk, melainkan konsekuensi dari kegagalan menahan diri kini menjangkau lebih
jauh, lebih cepat.
Di titik kritis inilah, kearifan lokal Jawa layak untuk
didengarkan kembali—bukan sebagai bentuk nostalgia masa lalu yang romantis atau
jawaban dogmatis yang sudah jadi, melainkan sebagai sebuah cara bertanya yang
berbeda. Tulisan ini mencoba menelusuri tiga pitutur utama: ngono yo ngono ning
ojo ngono, janma tan kena kinira, serta filosofi tresna–asih–welas, sambil
tetap menempatkan diri secara kritis terhadap batas-batas etis dan
strukturalnya.
1. Etika Batas: Kebebasan yang
Membutuhkan Rem
Ungkapan ngono yo ngono
ning ojo ngono pada dasarnya memiliki dua sisi dinamis yang saling menahan.
Frasa ngono yo ngono merupakan bentuk
pengakuan bahwa setiap individu memiliki hak, kebebasan, dan ruang mandiri
untuk bertindak. Namun, frasa ning ojo
ngono segera hadir sebagai rem darurat yang mengingatkan bahwa hak personal
tidak pernah menghapuskan tanggung jawab atas dampaknya terhadap orang lain.
Dalam kajian filsafat, konsep ini sering kali disandingkan
secara longgar dengan golden mean
(jalan tengah) milik Aristoteles—sebuah kebajikan yang berada di antara dua
titik ekstrem. Kesamaan keduanya memang ada pada tataran struktural: sama-sama
menolak gagasan bahwa "lebih banyak selalu lebih baik". Namun,
penting untuk dicatat bahwa kesejajaran ini bukanlah kesamaan substansial. Golden mean lahir dari sistem etika
teleologis Yunani yang mengukur kebajikan lewat rasio formal dan tujuan akhir (telos) sang individu. Sebaliknya, ngono yo ngono ning ojo ngono lahir dari
kosmologi Jawa yang menautkan tindakan manusia dengan keseimbangan semesta (hamemayu hayuning bawono) serta kepekaan
kompas batin (roso). Menyamakan
keduanya secara tergesa-gesa berisiko membuat kearifan Jawa terdengar seolah
baru "sah" secara akademis ketika sudah dicocokkan dengan filsafat
Barat—padahal ia berdiri kokoh di atas logikanya sendiri.
Filosofi Kebablasan dan Ambiguitas
Operasional
Kebanyakan kerusakan di dunia nyata tidak lahir dari niat
buruk yang murni, melainkan dari sebuah kebaikan yang kehilangan tapal
batasnya: kepedulian yang bergeser menjadi posesif, keberanian yang memuncak
jadi arogansi, atau kedisiplinan yang mengeras menjadi perfeksionisme yang
menyiksa. Psikologi modern menyebut fenomena ini sebagai kegagalan regulasi
diri (self-regulation failure),
sementara masyarakat Jawa menamainya kebablasan—sebuah
kondisi yang bukan sekadar "kelewatan", melainkan hilangnya kesadaran
akan batas kepatutan itu sendiri.
Kearifan ini mengamanatkan empat batas yang harus dijaga:
moral, kemurnian niat, kepatutan situasi, dan dampak relasional. Namun, di
sinilah letak titik lemah yang harus diakui secara jujur: konsep ini kuat
secara deskriptif, tetapi tampak lemah secara operasional. Ia menjelaskan apa yang perlu dijaga, tetapi tidak
memberikan algoritma kaku tentang bagaimana
seseorang mengenali batas itu ketika berhadapan dengan situasi yang
ambigu—misalnya, kapan kritik yang jujur bergeser menjadi penghinaan, atau
kapan kepatuhan pada norma sosial justru berubah menjadi pembungkaman suara
keadilan.
Namun, apakah ketidakpastian operasional ini sebuah cacat?
Jika dibedah lebih dalam, sifat non-preskriptif ini justru merupakan fitur utama etika Timur. Berbeda dengan
etika Deontologis Barat yang bertumpu pada hukum tekstual yang kaku, instrumen
operasional Jawa bersifat berbasis situasi (situation-bound).
Alat ukurnya bukan teks hukum, melainkan ketajaman roso individu yang diasah melalui proses laku (kontemplasi dan pembiasaan hidup). Batas itu sengaja dibuat
tidak kaku agar manusia terus mengasah intuisinya, bukan sekadar mematuhi
pasal-pasal tertulis.
Paradoks Hierarki
Meski demikian, ada pertanyaan sosiologis yang lebih mendasar
dan sering luput: siapa yang berwenang menentukan di mana batas “ojo ngono” itu berada? Secara historis,
nasihat menahan diri ini lebih sering diarahkan secara asimetris: dari orang
tua kepada anak, bawahan kepada atasan, atau rakyat kepada penguasa—jarang
terjadi sebaliknya. Tradisi ini menyimpan fungsi ganda yang paradoksal: di satu
sisi ia berfungsi sebagai etika pengendalian diri yang tulus, namun di sisi
lain berpotensi menjadi alat pelestarian hierarki feodal yang tidak selalu
adil. Kearifan yang mengajarkan batas tanpa berani mempertanyakan siapa yang
menetapkan batas tersebut berisiko menjadi alat penundukan, bukan pembebasan.
2. Janma Tan Kena Kinira: Misteri Jiwa
dan Bahaya Pelabelan Instan
Di era modern ketika satu kesalahan di masa lalu atau satu
unggahan media sosial dapat menentukan reputasi seseorang selamanya, falsafah janma tan kena kinira—bahwa manusia
tidak sepenuhnya dapat diduga secara utuh—menjadi kritik yang sangat relevan
terhadap fenomena cancel culture dan
penghakiman instan.
Masyarakat Jawa memandang manusia sebagai kesatuan kompleks
yang bergerak dalam lima lapisan dimensi diri: raga (fisik), rasa
(batin), cipta (pikiran), karsa (kehendak), dan sukma (roh). Kompleksitas
multidimensional inilah yang membuat perilaku seseorang tidak pernah bisa
direduksi oleh satu faktor tunggal saja. Pandangan ini beririsan erat dengan
konsep psikologi kontemporer mengenai kepribadian yang dinamis, sekaligus
menjadi penawar bagi fundamental
attribution error—kecenderungan manusia untuk menilai kesalahan orang lain
berdasarkan watak bawaannya, sementara kesalahan diri sendiri selalu dimaklumi
sebagai akibat dari tekanan situasi.
Dinamika batin ini bergerak di atas hukum alam seperti cakra manggilingan (roda nasib yang
berputar) dan pepesten (batas kodrat
Tuhan). Sejarah spiritual manusia pun membuktikan bahwa batin tidak pernah
statis; ia dapat mengalami pembalikan drastis. Seseorang bisa mendapatkan momen pletik—kilatan pencerahan batin
yang seketika mengubah pribadi kelam menjadi mulia—atau sebaliknya, terjerumus
dalam momen peteng, di mana kabut
kekhilafan meruntuhkan integritas yang telah dibangun bertahun-tahun.
Namun, sikap rendah hati (andhap
asor) dan penundaan penghakiman yang diajarkan di sini memiliki batas etis
yang tegas: memahami bukan berarti
membenarkan. Ajakan untuk tidak mudah menghakimi sering kali disalahgunakan
untuk menunda akuntabilitas publik. Dalam relasi kuasa yang timpang, pihak yang
kuat sering kali menuntut untuk "dipahami dulu latar belakangnya sebelum
dihakimi", sementara korban pelanggaran justru diminta menahan diri demi
menjaga stabilitas dan "keharmonisan" semu. Falsafah janma tan kena kinira yang sejati harus
berjalan dua arah: ia menuntut kehati-hatian batin dalam menilai, tanpa boleh
menghilangkan hak sosiologis seseorang untuk menuntut pertanggungjawaban hukum
yang adil. Manusia memang tidak pernah sekadar hitam atau putih, namun kabut abu-abu
di dalam jiwanya tidak boleh dijadikan kedok untuk menyembunyikan kejahatan.
3. Cinta sebagai Laku: Dari Hasrat
Personal hingga Etika Ekologis
Dalam lansekap emosional Jawa, cinta tidak dipandang sebagai
letupan perasaan yang pasif, melainkan sebuah spektrum spiritual yang bergerak
melalui tiga tingkat pendewasaan rasa: tresna
(hasrat/passion), asih (ketulusan
tanpa pamrih), dan welas (belas kasih
universal kepada semesta).
Filosofi terkenal “tresna
jalaran saka kulina” (cinta tumbuh karena terbiasa) secara mengejutkan
sejalan dengan temuan psikolog relasi modern seperti John Gottman. Hubungan
yang bertahan puluhan tahun tidak dibangun di atas fondasi romantisme besar
yang datang sekali-sekali, melainkan melalui akumulasi tindakan-tindakan kecil
yang konsisten setiap hari. Kesejajaran ini jauh lebih sahih dan dapat
dipertanggungjawabkan secara empiris daripada memaksakan analogi Barat-Timur
pada konsep etika batas sebelumnya.
Cinta yang matang ini kemudian dioperasionalkan dalam tiga
tindakan nyata: ngayomi (melindungi),
ngayemi (menentramkan), dan nguwongke (memanusiakan). Dalam tradisi
tutur, nilai-nilai ini sering kali disimbolkan lewat kisah kesetiaan absolut
Rama dan Shinta. Walau simbol ini indah, teks kebudayaan ini tidak boleh
ditelan tanpa saring. Narasi Rama-Shinta berisiko mewariskan pembagian peran
yang timpang secara gender, di mana beban "melindungi" dilekatkan
secara mutlak pada figur laki-laki, sementara tuntutan "kesetiaan suci
tanpa syarat" (bahkan melalui ujian bakar diri) dibebankan pada perempuan.
Menariknya, kebudayaan Jawa sebenarnya memiliki mekanisme
dialektika internal untuk mendekonstruksi ketimpangan ini. Ketika masyarakat
Jawa mulai jenuh dengan domestifikasi pasif figur seperti Shinta, ingatan
kolektif mereka merayakan figur alternatif seperti Srikandi yang berdaulat sebagai prajurit, atau Dewi Kunti yang memegang kendali keputusan politik. Oleh karena
itu, reaktualisasi cinta ideal Jawa hari ini harus dilepaskan dari bias
patriarki: ia bukan lagi soal siapa melindungi siapa, melainkan sebuah
kemitraan yang setara dalam menanggung tanggung jawab merawat hubungan.
Paradoks Etika Lingkungan
Pada ranah ekologis, prinsip ngrumat udu nguras (merawat, bukan menguras atau mengeksploitasi)
tampil sebagai etika lingkungan yang sangat kuat menolak logika kapitalisme
ekstraktif. Di wilayah ini, kearifan Jawa berbicara secara universal. Namun,
kita juga tidak boleh menutup mata pada paradoks sejarahnya. Secara
ekonomi-politik, tanah-tanah di Jawa pada masa feodalisme dipandang sebagai
milik mutlak raja (glondhong
pengarep-arep). Rakyat jelata acap kali dipaksa melakukan intensifikasi
pertanian yang eksploitatif demi memenuhi upeti istana. Ada jurang yang lebar
antara teks ideal kearifan ekologis ngrumat
udu nguras dengan realitas sejarah eksploitasi agraria zaman kerajaan.
Mengakui ketegangan ini penting agar kita tidak terjebak mengagungkan teks masa
lalu sambil mengabaikan fakta strukturalnya.
Penutup: Kritik sebagai Bentuk
Penghormatan Tertinggi
Kearifan Jawa bukanlah sebuah sistem nilai yang kedap air dan
bebas cacat. Jika tidak diwaspadai, ia dapat melahirkan sikap ewuh pakewuh—sebuah kecenderungan
menghindari konflik terbuka yang sering kali menjelma menjadi penerimaan pasif
terhadap ketimpangan sosial demi menjaga "permukaan air" yang tampak
tenang.
Menghidupkannya kembali kearifan lokal di abad ke-21 bukan
berarti menelan seluruh paket tradisi secara membabi buta. Penghormatan
tertinggi pada kebudayaan leluhur bukanlah dengan cara mengawetkannya di dalam
museum sejarah sebagai benda suci yang berdebu, melainkan dengan menjadikannya mitra dialog yang hidup—mengujinya
dengan pertanyaan-pertanyaan kritis yang sama yang diajarkannya sendiri: Apakah tindakan ini benar? Apakah ini adil?
Apakah ini membebaskan manusia atau justru membungkamnya?
Nilai sejati dari kearifan Jawa bukanlah terletak pada kelengkapannya sebagai sistem etika formal yang final, melainkan pada kemampuannya yang luar biasa untuk terus membuka ruang refleksi radikal bagi manusia modern: Kapan aku harus berhenti bertindak? Siapa sesamaku yang belum cukup aku pahami? Dan apakah cinta yang aku tebar sudah adil bagi kedua belah pihak? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan pernah benar-benar selesai dijawab—dan barangkali, di dalam ketidakselesaian itulah justru terletak kegunaannya yang paling jujur.
Akhir kata, seringkali mengatakan lebih
mudah daripada melakukan (it’s all complicated)!!!
Maka dari itu, tetaplah semangat untuk melakukan setiap sesuatu Sebaik
Mungkin!!
Dan tetaplah “Menikmati Hidup!”
Source: Fahruddin Faiz (Ngaji Filsafat 495-497) à youtube.com/@mjschannel/videos

0 komentar: