Rantai Tanpa
Ujung
Sebuah Cerpen Islami Kontemporer
oleh: alidnobilem.co.id
——————————————————————————————
I. Istidraj
dan Jerat Semu
Semuanya bermula dari satu klik bertuliskan:
“Beli Sekarang, Bayar Nanti.”
Amanda
Wijaya tidak pernah menyangka bahwa ambisinya mengejar validasi duniawi akan
berujung pada kehancuran. Sebagai mahasiswi tingkat akhir sekaligus content
creator kecantikan, ia terbuai oleh gaya hidup mewah. Demi tuntutan estetika
visual, ia tergiur membeli kamera premium dan kosmetik mahal menggunakan fitur
pay later. Awalnya ia merasa aman, berpikir bahwa rezeki dari endorsement akan
selalu mengalir untuk menutup cicilan. Ia lupa bahwa kemudahan yang melalaikan
bisa jadi adalah istidraj—kenikmatan semu yang perlahan menjerumuskannya.
Ketika
algoritma media sosial berubah drastis dalam semalam, penontonnya anjlok, dan
kontrak kerja sama dengan beberapa merek diputus secara sepihak, Amanda panik.
Pintu rezekinya menyempit, sementara monster yang bernama riba mulai
memperlihatkan taringnya. Bunga harian berbunga lagi, menggulung seperti bola
salju.
Demi
menutup lubang pertama, Amanda mengambil pinjaman online (pinjol) ilegal
berbasis riba yang menjanjikan proses cepat. Satu aplikasi melahirkan aplikasi
lain. Dalam empat bulan, utang yang semula hanya beberapa juta rupiah
membengkak secara eksponensial menjadi delapan puluh juta rupiah.
Ketenangan
hidupnya runtuh. Ponselnya diteror ratusan panggilan kasar setiap jam. Foto
ibunya yang berhijab dan adiknya yang masih sekolah disebar oleh para penagih
utang dengan narasi fitnah. Puncaknya, wajah Amanda dimanipulasi ke dalam foto
tak senonoh dan diancam akan dikirim ke seluruh kontak. Amanda berada di titik
nadir, menangis di atas sajadahnya dalam ketakutan yang luar biasa. Ia merasa
Allah sedang menghukumnya karena telah menantang perang terhadap Allah dan
Rasul-Nya melalui jalur riba.
Hingga
akhirnya, sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal masuk:
“Utang Anda telah dilunasi oleh pihak ketiga.
Sebagai gantinya, Anda terikat akad untuk menghadiri program restrukturisasi di
sektor mati Kota Lama malam ini. Ketidakhadiran berarti eksekusi keluarga.”
II. Sisi
Gelap Manusia: Program Pemutihan
Gedung
pabrik tekstil yang terbengkalai itu dikelilingi pagar kawat berduri berarus
listrik. Di dalamnya, Amanda berdiri gemetar bersama dua puluh sembilan orang
lainnya. Wajah-wajah mereka adalah cerminan dari jiwa-jiwa yang tercekik oleh
utang dan keputusasaan.
Penyelenggara
acara, seorang pria bertopeng logam, berdiri di atas panggung beton. Ketika ada
dua peserta yang mencoba kabur karena ketakutan, tanpa ampun senapan dari
kegelapan menghentikan langkah mereka selamanya. Ruangan seketika hening,
dipenuhi aroma maut. Petugas medis lalu menyuntikkan Micro-Bom yang
terintegrasi dengan sensor vital ke tengkuk setiap peserta yang tersisa.
“Selamat
datang di Program Pemutihan,” suara distorsi bergema. “Di pergelangan tangan
kalian ada marker digital. Aturannya: kumpulkan minimal 5 poin dalam 72 jam
dengan cara mengeliminasi peserta lain jika ingin utang kalian dianggap lunas
dan pulang dengan selamat. Jika dalam 24 jam poin kalian tetap nol, bom di
tengkuk kalian akan diledakkan dari jauh.”
Pintu
besi raksasa terbuka. Mereka dilepas seperti binatang buruan di distrik kosong
seluas 3 kilometer.
Malam
pertama menjadi saksi bagaimana keputusasaan menghapus fitrah kemainan. Iman
runtuh di hadapan ketakutan mati. Amanda melihat dengan mata kepala sendiri
seorang ibu yang tega mengkhianati sesama demi bertahan hidup. Manusia berubah
menjadi serigala bagi manusia lainnya. Amanda hanya bisa bersembunyi di balik
dinding retak, mulutnya tak henti-henti merapalkan istighfar, memohon ampunan
Allah atas langkah salah yang membawanya ke neraka dunia ini.
III. Aliansi
di Balik Bayang-Bayang
Pada
malam kedua, Amanda disergap oleh tiga peserta yang membawa senjata tajam. Di
saat maut mendekat, sebuah gerakan taktis dan cepat dari kegelapan melumpuhkan
para penyerang tersebut.
“Ikut
aku, cepat!” bisik pemuda itu.
Namanya
Bram. Berbeda dengan yang lain, Bram tidak punya utang. Ia menyusup ke tempat
haram ini demi mencari adiknya yang hilang enam bulan lalu setelah terjebak
pinjol. Dari Bram, Amanda mengetahui bahwa tempat ini adalah ladang judi nyawa
manusia yang dikelola oleh Bos Wirya—seorang gangster pendatang baru yang
kejam. Bos Wirya menggunakan darah orang-orang miskin sebagai bahan taruhan
bagi para taipan kaya.
Bram
membawa Amanda keluar dari perimeter inti melalui jalur bawah tanah menuju
sebuah gudang distribusi minuman keras. Tempat itu milik ayah Bram, Om Ridwan.
Om Ridwan adalah penguasa wilayah lokal yang sedang terlibat perseteruan bisnis
dengan Bos Wirya yang mencoba merebut pasarnya dan merusak tatanan kota dengan
bisnis judi manusia tersebut.
Namun,
kejutan terbesar menanti Amanda di dalam kantor Om Ridwan yang temaram. Seorang
pria paruh baya dengan baju koko yang kusut dan tasbih di tangannya langsung
berdiri dari sudut ruangan.
“Amanda...”
“Papa?”
Amanda luruh ke pelukan ayahnya, menangis sejadi-jadinya.
Ayah
Amanda, Wijaya, bukanlah seorang gangster. Dia hanyalah seorang mantan operator
bioskop tua yang kini menghabiskan masa tuanya menjadi marbot masjid. Selama
ini Amanda mengira ayahnya tidak tahu apa-apa. Namun, insting seorang ayah dan
untaian doa di sepertiga malam membimbing Wijaya. Melalui jaringan jamaah
masjid dan informasi bawah tanah, Wijaya melacak hilangnya Amanda hingga ke
wilayah Om Ridwan, bersinggungan dengan jalur yang dilewati Bram.
IV. Makar
yang Sempurna
Mengetahui
putrinya dijebak, difitnah sebagai dalang pembunuhan perwira polisi oleh anak
buah Bos Wirya yang korup, dan kini dijadikan buronan nasional, Wijaya tidak
memilih jalan kekerasan. Sebagai orang yang telah menonton ribuan struktur
cerita di ruang proyektor dan kini bersandar pada petunjuk agama, Wijaya tahu
bahwa senjata terbaik adalah kebenaran yang disusun dengan kesabaran.
“Mereka
merencanakan makar dengan secermat-cermatnya, dan Allah menggagalkan makar
mereka. Dan Allah adalah sebaik-baik pembalas makar,” bisik Wijaya menenangkan
Amanda, mengutip esensi dari ayat Al-Qur'an.
Wijaya
menyusun rencana asimetris yang sangat rapi untuk mematahkan rekayasa hukum Bos
Wirya:
Pertama,
ia memanfaatkan ketamakan musuh. Wijaya meminta bantuan Om Ridwan untuk
meniupkan isu di kalangan internal gangster bahwa Bos Wirya akan membawa kabur
seluruh uang taruhan para investor kaya. Sifat saling tidak percaya di antara
pelaku maksiat adalah kelemahan terbesar mereka.
Kedua,
Wijaya menciptakan alibi garis waktu yang mutlak dan tak terbantahkan secara
syariat maupun hukum manusia. Pada jam terjadinya pembunuhan polisi di ibu
kota, Wijaya membawa Amanda ke sebuah pesantren terpencil di kota suci yang
berjarak 5 jam perjalanan. Di sana, Amanda sengaja dilibatkan dalam kegiatan
pengajian subuh dan tercatat dalam presensi fisik. Wijaya juga sengaja membeli
obat di apotek terdekat dan membiarkan wajah mereka terekam jelas oleh kamera
CCTV, serta menjaga semua bukti fisik seperti tiket tol dengan rapi.
Ketika
polisi korup suruhan Bos Wirya datang menggerebek mereka dengan bukti-bukti
digital yang telah direkayasa, Wijaya menghadapinya dengan tawakal yang kokoh.
Di
hadapan media dan pengadilan, semua bukti fitnah Bos Wirya runtuh total. Publik
melihat kontradiksi yang nyata: bagaimana mungkin seorang mahasiswi melakukan
pembunuhan di kota A sementara di jam yang sama puluhan saksi mata dan CCTV
melihatnya sedang bersujud di masjid pesantren kota B?
Di
saat yang sama, karena rumor yang disebarkan Om Ridwan, para investor kaya
mengamuk dan menarik dana mereka. Karena panik, jaringan kepolisian yang
dibayar Bos Wirya berbalik menangkapnya demi menyelamatkan nama baik mereka
sendiri. Bos Wirya hancur oleh keserakahannya sendiri.
Epilog
Beberapa
bulan kemudian, pabrik tua yang menjadi saksi buas kebiadaban itu telah ditutup
dan dipasang garis polisi. Skandal besar itu memaksa pemerintah memberangus
ratusan aplikasi pinjol ilegal berbasis riba yang selama ini mencekik
masyarakat.
Suatu
sore di teras rumah mereka, Amanda membawakan secangkir teh hangat untuk
ayahnya yang baru saja pulang dari masjid. Bekas luka di pergelangan tangannya
akibat marker judi maut itu masih ada, namun hatinya telah sembuh.
“Papa,
bagaimana Papa bisa seyakin itu bahwa rencana kita akan berhasil?” tanya
Amanda.
Wijaya
tersenyum teduh, menatap langit senja. “Papa hanya berusaha, Nak. Selebihnya,
kejahatan yang dibangun di atas fondasi kebohongan dan riba itu seperti sarang
laba-laba—terlihat rapat, tapi sebenarnya sangat rapuh. Ketika kita kembali
kepada Allah dengan taubat yang sungguh-sungguh, Allah sendiri yang akan
mengurai benang kusutnya.”
Wijaya
menggenggam tangan putrinya. “Utang duniamu sudah selesai. Sekarang, mari kita
jaga agar kita tidak lagi berutang pada akhirat.”
Amanda
mengangguk pelan, air matanya menetes bukan karena ketakutan, melainkan rasa
syukur yang amat dalam. Rantai riba dan ambisi duniawi yang dulu membelenggunya
kini telah putus, digantikan oleh indahnya ketetapan iman yang menentramkan
jiwa.
■ TAMAT ■
Note: Ini hanyalah cerita fiksi, jadi jangan
terlalu diambil hati.

0 komentar: