Menjemput Sangkan Paraning Urip
Melawan Reduksionisme Modern dengan
Memori Kewalian dan Jalan Zuhud
Oleh: Āchrome Presents
Modernitas
telah mengantarkan peradaban manusia pada puncak pencapaian saintifik dan
teknologis yang luar biasa. Sistem birokrasi menata ketertiban administratif,
efisiensi ilmu pengetahuan membuka rahasia alam, dan digitalisasi mempercepat
interaksi lintas ruang. Namun, di balik seluruh keberhasilan material tersebut
tersimpan sebuah paradoks eksistensial yang dalam: semakin canggih peradaban
fisik dibangun, semakin rentan manusia kehilangan arah hakiki kehidupannya.
Dunia menjadi semakin terukur dan efisien, tetapi jiwa manusia mengalami
alienasi—menjadi asing terhadap dirinya sendiri dan penciptanya.
Perlu
ditegaskan sejak awal: tulisan ini bukanlah bentuk romantisme utopis untuk
menolak kemajuan zaman atau memusuhi efisiensi birokrasi. Tata kelola
administrasi modern, dengan segala batasannya, lahir dari niat mulia untuk
melindungi hak-hak publik dari kesewenangan penguasa. Yang patut dipersoalkan
secara kritis bukanlah keberadaan sistem modern itu sendiri, melainkan
reduksionisme epistemologisnya—kecenderungan sistemis yang hanya mengakui
hal-hal terukur dan empiris sebagai satu-satunya realitas yang sah, sembari
mengeliminasi nilai-nilai spiritual, keteladanan moral, serta memori kolektif
dari ruang hidup publik.
1.
Haul dan 'Nguri-Uri' Memori Kolektif: Keabsahan di Luar Verifikasi Akademis
Keterbatasan
kerangka teknokratis dalam memahami aspek rohani terlihat jelas ketika kita
mengamati tradisi keagamaan lokal. Majelis majelis haul—seperti haul Mbah Sayid
Abdullah di Pelemwatu, Menganti, Gresik—memiliki kedalaman makna yang melampaui
ritus tahunan formal. Dalam ingatan lisan masyarakat setempat, Mbah Sayid
Abdullah diyakini sebagai sosok wali penyebar Islam pada era transisi Majapahit
abad ke-14. Secara metodologi akademis-positivistik, narasi ini sering
dipandang skeptis karena minimnya bukti fisik bertarikh atau dokumen arsip
tertulis.
Namun,
di sinilah letak persimpangan epistemologis yang mendasar. Metodologi akademis
modern berfokus pada verifikasi dokumen tertulis. Sebaliknya, tradisi majelis
haul bekerja dalam logika nguri-uri—yakni merawat dan mengaktualisasikan memori
ingatan kolektif melalui ritual, Doa bersama, serta pengingat sejarah lisan
yang diwariskan lintas generasi. Tradisi lisan ini bukanlah bentuk pengetahuan
'kelas dua', melainkan ekspresi kebenaran autentik yang teruji melalui
keberlanjutan makna dan nilai moral di tengah masyarakat.
|
“Memori kewalian bukan lawan dari ilmu
pengetahuan modern, melainkan pengisi kekosongan batin yang tidak sanggup
dijangkau oleh metodologi kuantitatif. Keduanya dapat berjalan berdampingan:
pendekatan akademik mengoreksi bias simplifikasi, sementara memori tradisi
mencegah sains kehilangan jiwanya.” — Refleksi Epistemologi Kewalian |
2.
Talbis Modernitas: Membedah Dialektika Kata 'Maling' dan 'Koruptor'
Ketika
memori spiritual dan nilai nubuwah (kenabian) memudar dari ruang publik,
peradaban dengan cepat digerogoti oleh fenomena talbis—pencitraan munafik yang memoles penampilan luar agar tampak
saleh dan berintegritas, tetapi di dalamnya menyimpan kebusukan batin. Era
media digital kian memperparah hal ini, memberi panggung bagi figur figur
politik dan pejabat publik untuk tampak melayani rakyat, padahal secara culas
mengkhianati amanah.
Ditinjau
dari perspektif moral-substansial, korupsi adalah kejahatan transendental.
Namun, fenomena ini diperhalus oleh istilah teknis birokrasi. Mengapa sebutan “maling” terasa jauh lebih menghujam
nurani dibandingkan kata “koruptor”?
Perbedaannya terletak pada artikulasi bahasa dalam menghakimi nilai kejahatan:
·
Istilah 'Koruptor': Lahir dari kerangka hukum prosedural. Istilah
ini membawa serta mekanisme teknis yang panjang: praduga tak bersalah,
negosiasi pasal, banding, hingga celah hukum. Secara tidak sadar, istilah ini
membius kemarahan moral publik, mengubah tindakan pencurian rakyat menjadi
sekadar 'sengketa administratif' yang steril.
·
Istilah 'Maling': Bahasa rakyat yang jujur dan lugas. Kata 'maling'
langsung menelanjangi hakikat perbuatan tanpa celah kompromi: seseorang telah
mengambil milik orang lain secara haram. Tidak ada kerumitan jargon yang
memproteksi rasa malu pelaku.
Melalui
modifikasi bait-bait selawat dan doa, jamaah di akar rumput diingatkan untuk
berkaca pada keteladanan para nabi, sekaligus menyentil tiga penyakit moral
zaman ini: orang kaya yang kikir bersedekah, orang miskin yang enggan
beribadah, serta penguasa yang tega mencuri hak rakyatnya.
3.
Sangkan Paraning Urip: Menggugat Pendidikan Berorientasi Materialisme
Akar
dari kebangkrutan moral tersebut bersumber pada orientasi hidup yang
semata-mata diukur oleh materi. Sistem pendidikan modern kini terjebak menjadi
'pabrik tenaga kerja', sibuk melatih manusia agar kompetitif di pasar industri,
tetapi lalai membekali mereka menghadapi kepastian terbesar dalam hidup:
kematian dan pertanggungjawaban akhirat.
Falsafah
adiluhung Jawa mengingatkan kita pada prinsip sangkan paraning urip—pemahaman
mendalam tentang dari mana manusia berasal dan ke mana ia akan kembali. Manusia
sejatinya berasal dari kemuliaan spiritual (surga) dan diutus ke bumi untuk
menjalankan amanah, sebelum akhirnya kembali menemu-Nya. Ketika dimensi akhirat
ini dicabut dari kurikulum kehidupan, manusia kehilangan kompas etis dan mudah
menghalalkan segala cara demi akumulasi keduniaan.
4.
Keterbatasan Negara Modern dan Martabat Spiritual Daerah: Kasus Tanah Mandar
Ketidakmampuan
sistem administrasi modern memahami dimensi spiritual juga berdampak pada tata
kelola daerah. Negara Republik Indonesia, yang usianya belum genap satu abad,
kerap menggunakan kerangka tunggal berorientasi kapitalistik. Wilayah-wilayah
dengan akar sejarah spiritualitas yang sangat kuat—seperti Tanah Mandar di Sulawesi Barat—Sering kali hanya dipandang dalam
kacamata 'potensi ekonomi' atau 'objek wisata'.
Padahal,
jauh sebelum lahirnya struktur negara modern, Tanah Mandar telah dibentuk oleh
peradaban spiritual yang kokoh melalui jejak keteladanan para wali seperti Imam Lapeo. Jika masyarakat Mandar
mengekor begitu saja pada pola pembangunan nasional yang mendewakan fisik dan
materi, mereka akan kehilangan martabat spiritualnya.
Dalam
kontekstualisasi pariwisata daerah, warisan leluhur tidak boleh dikomodifikasi
menjadi sekadar objek fisik atau tontonan eksotis. Komunitas lokal harus mampu
menerapkan prinsip Hasbunallah wa ni'mal wakil (cukup Allah menjadi penolong
kami)—artinya, pariwisata bukanlah tujuan mencari pengakuan atau keuntungan
finansial semata, melainkan media untuk menyampaikan narasi sejarah, etika, dan
nilai-nilai keimanan yang menyentuh jiwa pengunjung.
5.
Keteladanan Umbu Landu Paranggi: Jalan Sunyi dan Radikalisme Zuhud
Di
tengah riuk-pikuk zaman yang mendewakan eksistensi dan popularitas, figur Umbu Landu Paranggi berdiri sebagai
oase kesucian batin. Sebagai bangsawan Sumba yang berhak atas takhta kerajaan,
Umbu memilih menanggalkan seluruh hak istimewa keduniaannya untuk menjadi
'gelandangan' spiritual di Jogja dan Bali.
|
“Umbu Landu Paranggi adalah cermin
radikal bagi kebudayaan modern yang kecanduan validasi. Ia menyabotase
penerbitan karya puisinya sendiri di majalah Horison hanya demi menghindari
pujian publik. Bagi Umbu, karya adalah persembahan sunyi kepada Sang Pencipta,
bukan komoditas untuk memburu nama besar.” — Jalan Zuhud Penyair Sufi |
Dalam
kesaksian para muridnya, khususnya Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Umbu mendidik
tidak melalui ceramah lisan atau doktrin kurikuler formal. Ia mendidik melalui penciptaan atmosfer batin, keheningan, dan
latihan melampaui kesepian. Kebiasaannya berjalan kaki membisu selama
bertahun-tahun serta disiplin pribadinya yang eksentrik—seperti enggan
mengikatkan batinnya pada kepemilikan tanah atau properti—merupakan bentuk sufi
total. Umbu mengajarkan bahwa esensi kehidupan terletak pada keheningan cinta
yang murni kepada Allah, bukan pada formalitas panggung duniawi.
Penutup:
Merajut Keseimbangan Antara yang Terukur dan yang Transenden
Menghubungkan
Mbah Sayid Abdullah di Gresik, Imam Lapeo di Mandar, dan Umbu Landu Paranggi di
jalur kebudayaan bukanlah upaya menyatukan tiga figur dalam satu ketaatan
dogmatis yang kaku. Persamaan mendasar dari ketiganya adalah keteguhan untuk
tidak menyerahkan nilai kemuliaan manusia pada standar materialistis dan
administratif semata.
Peradaban
Indonesia tidak akan maju hanya dengan menumpuk infrastruktur fisik sembari
membiarkan jiwanya kerdil. Melawan reduksionisme modern bukan berarti kembali
ke masa lampau, melainkan meletakkan sains yang terukur dan memori spiritual
yang transenden secara sejajar. Dengan memegang teguh prinsip sangkan paraning urip, pembangunan fisik
berjalan beriringan dengan penyucian jiwa—menuntun manusia berjalan di dunia,
sembari senantiasa bersiap melangkah kembali menuju Allah.
Note:
- Penjelasan seadanya, maklum orang awam (mohon
petunjuk), tak perlu terlalu dipikirkan (fell it).
- Intinya: Lailahaillallah muhammadurrasulullah;
patuhilah Allah (al-Qur;an) dan Rasul-Nya (Hadits), juga Uril Amri
(aturan) di antara kita (bukan orang awam).
- Dan “Tidak peduli siapa pun yang memberikan fatwa
pada Anda, tanyakanlah pada hati Anda.”
Source:
Cak Nun à
youtube.com/@caknundotcom/videos

0 komentar: