Taubat itu "Sebanding" dengan Kesalahan by: Achrome Presents (Orang Awam) Di tengah zaman yang penuh godaan ini, berbuat dosa...

Taubat itu Berbanding Lurus dengan Kesalahan

 

Taubat itu "Sebanding" dengan Kesalahan
by: Achrome Presents (Orang Awam)

Di tengah zaman yang penuh godaan ini, berbuat dosa seolah menjadi hal yang mudah. Itulah mengapa Islam sangat menganjurkan taubat. Jangankan kita manusia biasa, Rasulullah yang terjaga dari dosa saja mencontohkannya dengan beristighfar puluhan kali setiap hari:

"Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari." (HR. Bukhari)

Dalam Islam, puncak tertinggi dari penghapusan dosa adalah taubatan nasuha—yaitu taubat yang sebenar-benarnya dan tidak mengulangi kesalahan yang sama, sebagaimana yang Allah perintahkan dalam QS. At-Tahrim ayat 8.

Namun, ada satu dimensi taubat yang sering kita lupakan: Konsep taubat yang berbanding lurus dengan kesalahan. Hal ini ditegaskan oleh kisah para sahabat nabi terdahulu yang mengungkapkan bahwa hal buruk di masa lalu harus ditebus dengan hal baik yang setara di masa depan:

  • Umar bin Khattab: Dahulu, ia adalah orang yang paling keras mendatangi kaum Muslimin untuk memusuhi mereka. Begitu masuk Islam, ia melakukan hal yang sebanding: mendatangi tokoh-tokoh Quraisy secara terang-terangan untuk membela Islam.
  • Khalid bin Walid: Kejeniusan militernya pernah membuat kaum Muslimin kalah telak di Perang Uhud. Setelah bertaubat dan memeluk Islam, ia tidak membuang keahliannya. Ia justru mempersembahkan seluruh strategi perangnya untuk memenangkan Islam hingga dijuluki "Pedang Allah yang Terhunus".

Problema hari ini adalah banyak orang bertaubat namun dampaknya hanya berhenti di dalam masjid. Sebagai contoh, ada seorang preman pasar yang bertaubat lalu memilih mengasingkan diri menjadi marbot masjid. Menjadi marbot tentu mulia. Namun, taubatnya akan jauh lebih nasuha jika ia juga kembali ke pasar untuk memastikan pasar yang dulu ia buat mencekam, kini berubah menjadi tempat yang aman dan damai.

Prinsip perimbangan ini selaras dengan janji Allah:

"Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan-kebaikan." (QS. Al-Furqan: 70)

Taubat adalah wujud dari indahnya Islam yang membawa rahmat bagi alam semesta (Rahmatan lil 'Alamin), sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Anbiya ayat 107. Taubat yang sejati bukan sekadar membuat diri kita menjadi saleh di atas sajadah, dan berhenti berbuat buruk, tetapi menghadirkan kebaikan yang dapat menghapus jejak keburukan tersebut.

 

Source: youtube.com/watch?v=tGq6QZ5LjdU&t=8s

 

Note:

  • Penjelasan seadanya, maklum orang awam (mohon petunjuk), tak perlu terlalu dipikirkan (fell it).
  • Intinya: Lailahaillallah muhammadurrasulullah; patuhilah Allah (al-Qur;an) dan Rasul-Nya (Hadits), juga Uril Amri (aturan) di antara kita (bukan orang awam).
  • Dan “Tidak peduli siapa pun yang memberikan fatwa pada Anda, tanyakanlah pada hati Anda.”

 

0 komentar:

About