Batasan Tauhid dalam Mengenal Allah ( Keseimbangan antara Akal dan Wahyu dalam Keterbatasan Manusia ) by: Achrome Presents (Orang Awam) Ta...

Batasan Tauhid dalam Mengenal Allah (Keseimbangan antara Akal dan Wahyu dalam Keterbatasan Manusia)

Batasan Tauhid dalam Mengenal Allah
(Keseimbangan antara Akal dan Wahyu dalam Keterbatasan Manusia)
by: Achrome Presents (Orang Awam)

Tauhid merupakan fondasi tunggal tempat berdirinya seluruh bangunan Islam. Secara teologis, tauhid bukan sekadar pengakuan pasif atas keberadaan Tuhan, melainkan sebuah komitmen eksistensial untuk mengesakan Allah dalam ibadah, penciptaan, dan nama-nama serta sifat-sifat-Nya. Dalam perjalanan spiritual mengenal Allah (ma’rifatullah), manusia dianugerahi akal—sebuah instrumen kognitif luar biasa yang membedakannya dari makhluk lain. Al-Qur'an secara konsisten menantang manusia untuk mengoptimalkan potensi ini, menggunakan redaksi seperti afala ta'qilun (apakah kamu tidak berpikir?) atau afala tatafakkarun (apakah kamu tidak merenungkan?). Hal ini membuktikan bahwa Islam tidak menuntut iman yang buta, melainkan iman yang berbasis pada kesadaran intelektual.

Namun, tantangan terbesar dalam diskursus ketuhanan muncul ketika akal gagal mengenali batas kemampuannya sendiri. Sebagai alat yang bekerja berdasarkan ruang, waktu, dan materi yang bersifat empiris, akal manusia secara inheren bersifat terbatas. Memaksa akal untuk mengonseptualisasikan hakikat dzat Allah—Dzat Yang Maha Tak Terbatas dan tidak menyerupai apa pun (Laisa Kamitslihi Syai’un)—adalah sebuah kekeliruan epistemologis. Ketika akal melampaui batas ini, ia cenderung jatuh ke dalam dua ekstrem yang merusak: tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) karena keterikatan akal pada bentuk fisik, atau ta'thil (menolak sifat-sifat Allah) karena frustrasi ketidakmampuan akal dalam memvisualisasikannya.

Di sinilah relevansi QS. Al-Isra' ayat 36 dan adagium terkenal dari Imam Malik mengenai istiwa'. Pernyataan Imam Malik bukan sebuah upaya untuk membungkam nalar atau melarang berpikir kritis. Sebaliknya, itu adalah sebuah sikap ilmiah yang jujur (intellectual humility). Imam Malik memisahkan dengan tegas antara "makna bahasa" yang bisa dipahami akal, dengan "hakikat modalitas" (kaifiyah) yang berada di luar jangkauan persepsi manusia. Sikap ini mendidik jiwa manusia untuk bersikap tawadhu' di hadapan realitas transenden.

Oleh karena itu, cara terbaik mengenal Allah adalah melalui metodologi ganda yang harmonis: membaca wahyu (ayat qauliyah) dan merenungkan alam semesta (ayat kauniyah). Kosmos yang teratur berfungsi sebagai laboratorium visual bagi akal untuk menyimpulkan keberadaan, keagungan, dan kebijaksanaan Sang Pencipta. Namun, untuk mengetahui bagaimana cara menyembah-Nya dan bagaimana memperlakukan sifat-sifat-Nya, akal harus tunduk pada bimbingan wahyu. Akal berfungsi sebagai "hakim" untuk memvalidasi kebenaran sumber wahyu, namun setelah wahyu itu terbukti sahih, akal bertransformasi menjadi "murid" yang patuh.

Pada akhirnya, tauhid yang autentik bukanlah sebuah proyek filsafat murni untuk membedah esensi Tuhan secara spekulatif. Tauhid adalah kesadaran akan batas diri yang justru melahirkan ketundukan. Semakin manusia menyadari keterbatasan akalnya, semakin ia mampu merasakan kebesaran Allah. Dari titik hamba yang fakir dan terbatas inilah, lahir keimanan yang kokoh, ibadah yang tulus, serta penghambaan yang memerdekakan manusia dari penyembahan terhadap ego dan logikanya sendiri.

 

Source: Gus Baha à youtube.com/watch?v=tGq6QZ5LjdU&t=8s


Note:

  • Penjelasan seadanya, maklum orang awam (mohon petunjuk), tak perlu terlalu dipikirkan (fell it).
  • Intinya: Lailahaillallah muhammadurrasulullah; patuhilah Allah (al-Qur;an) dan Rasul-Nya (Hadits), juga Uril Amri (aturan) di antara kita (bukan orang awam).
  • Dan “Tidak peduli siapa pun yang memberikan fatwa pada Anda, tanyakanlah pada hati Anda.”

0 komentar:

About