Mengurai Benang Kusut Hubungan Prabowo, Gibran, dan Jokowi
(Retorika Keberlanjutan di Tengah Konsolidasi Kekuasaan)
by: alidnobilem Presents
Di
Balik Panggung Politik Pasca-2024
Setiap
transisi pemerintahan selalu membawa pertanyaan besar mengenai arah bangsa:
apakah pemimpin baru akan melanjutkan jejak pendahulunya atau membangun
jalannya sendiri? Pasca-Pemilu 2024, dinamika ini terlihat jelas dalam hubungan
segitiga antara Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming
Raka, dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Di permukaan, publik disuguhi narasi
indah tentang "keberlanjutan" dan kesinambungan pembangunan nasional.
Namun, di balik retorika tersebut, sedang berlangsung proses penataan ulang
pusat-pusat kekuasaan yang penuh dengan negosiasi politik.
Tiga
Logika Politik yang Saling Berbenturan
Dinamika
pemerintahan saat ini digerakkan oleh tiga kepentingan politik yang berbeda
dari masing-masing aktor utama:
- Prabowo
Subianto (Kebutuhan Otoritas Mandiri): Sebagai Presiden, Prabowo menghadapi tantangan untuk
membangun otoritas yang mandiri. Ia tidak bisa hanya menjadi bayang-bayang
masa lalu; ia harus menunjukkan bahwa garis komando dan keputusan
strategis berada sepenuhnya di bawah kendalinya. Pemangkasan anggaran
secara besar-besaran pada proyek era sebelumnya serta penyesuaian skema
program seperti Makan Bergizi Gratis menjadi bukti nyata dari upaya
penegasan otoritas ini.
- Gibran
Rakabuming Raka (Pencarian Legitimasi): Sebagai wakil presiden termuda dalam sejarah,
popularitas bukan lagi masalah bagi Gibran. Tantangan terbesarnya adalah
membangun rekam jejak dan legitimasi nasional yang riil untuk jangka
panjang, terutama menuju Pemilu 2029. Langkah aktifnya mengunjungi
berbagai daerah sering kali dibaca sebagai investasi politik masa depan.
- Joko
Widodo (Menjaga Warisan dan Pengaruh): Meski tidak lagi menjabat, Jokowi memiliki kepentingan
untuk memastikan proyek strategis dan warisan kebijakannya tetap berjalan.
Pengaruh ini juga dijaga secara informal melalui penempatan loyalis di
posisi strategis serta jaringan politik keluarganya.
Kritik
Terhadap Narasi "Negosiasi Wajar"
Banyak
pihak menilai gesekan kecil di kabinet sebagai hal yang lumrah dalam
konsolidasi demokrasi. Namun, pandangan ini dinilai terlalu meromantisasi
keadaan. Menilai dinamika elite sebagai "negosiasi wajar" berisiko
mengabaikan kualitas prosesnya—apakah tawar-menawar ini terjadi demi
kepentingan publik atau sekadar akomodasi elite di ruang gelap?
Lebih
jauh lagi, posisi Gibran tidak lepas dari kritik tajam karena ia melangkah ke
kursi wakil presiden melalui rekayasa yudisial di Mahkamah Konstitusi yang
merusak kepercayaan publik terhadap institusi hukum. Dalam logika demokrasi
yang sehat, seseorang seharusnya membangun legitimasi terlebih dahulu sebelum
menjabat, bukan sebaliknya.
Ancaman
Nyata: Pelemahan Institusi dan Faktor Non-Elite
Ancaman
terbesar bagi Indonesia ke depan bukanlah sekadar konflik personal antara
Prabowo, Gibran, dan Jokowi. Masalah sesungguhnya terletak pada ketidakjelasan
pembagian peran yang bisa membingungkan publik dalam menuntut akuntabilitas
kebijakan.
Selain
itu, fokus politik terlalu berpusat pada elite dan mengabaikan variabel penting
di tingkat akar rumput, seperti:
- Gerakan
Masyarakat Sipil:
Gelombang demonstrasi mahasiswa dan masyarakat sipil menolak berbagai
revisi undang-undang yang kontroversial menunjukkan bahwa publik tetap
aktif mengawasi jalannya pemerintahan.
- Tekanan
Ekonomi Real:
Inflasi, pelemahan rupiah, dan penurunan daya beli masyarakat menjadi
barometer nyata yang akan menguji legitimasi pemerintah, jauh lebih akurat
daripada sekadar hasil survei kepuasan.
Tiga
Skenario Masa Depan Politik Indonesia
Melihat
variabel-variabel di atas, ada tiga skenario yang mungkin terjadi dalam peta
politik ke depan:
- Skenario
A (Konsolidasi Harmonis):
Prabowo berhasil memimpin secara mandiri, Gibran fokus pada peran
substantifnya, dan Jokowi menarik diri menjadi tokoh bangsa yang netral.
Skenario ini membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang stabil.
- Skenario
B (Equilibrium Tegang):
Tiga pusat kekuatan tetap ada dan saling mengunci. Tidak ada konflik
terbuka, tetapi jalannya pemerintahan menjadi kurang efisien karena
kebijakan sering terhambat oleh negosiasi internal yang tidak transparan.
- Skenario
C (Fraktur Terbuka):
Jika terjadi krisis ekonomi atau politik yang hebat, koalisi akan retak.
Para aktor akan saling melempar kesalahan, dan persaingan menuju Pemilu
2029 akan dimulai jauh lebih awal.
Melampaui
Drama Personal
Dinamika
hubungan Prabowo, Gibran, dan Jokowi sebenarnya hanyalah gejala (symptom)
dari masalah yang jauh lebih besar. Penyakit struktural politik Indonesia yang
sesungguhnya adalah institusi demokrasi yang kian melemah, belum mandirinya
lembaga pengawas seperti KPK dan MK, serta cengkeraman oligarki yang kuat di
balik topeng narasi pembangunan.
Pada
akhirnya, pertanyaan krusialnya bukan lagi "Apakah ketiga tokoh ini
bisa akur?" , melainkan "Apakah sistem politik kita sedang
bergerak menuju demokrasi yang substantif, atau justru mundur ke dalam
konsolidasi oligarki?" Jawaban atas pertanyaan inilah yang akan
menentukan masa depan Indonesia menuju 2045.
Source: Tempo à youtube.com/watch?v=_NtJxj9c9iw&t=504s

0 komentar: