SAPI, CINTA, DAN DENDAM
Sebuah Cerita tentang Mereka
yang Memilih Diam dan Bertindak
karya: alidnobilem.co.id
Bagian
I: Pernikahan di Bawah Pengawasan Sapi
Pernikahan
itu tidak dihadiri banyak orang. Hanya beberapa teman lama dari dinas
pemerintahan, dua orang kerabat jauh, dan tentu saja, tujuh saksi berkaki empat
yang berdiri rapi di balik pagar halaman gereja tua desa. Bu Rini—sekarang
istriku—mengenakan kebaya biru yang sama dengan yang ia pakai saat peluncuran
bukuku beberapa tahun lalu. Sinar matahari pagi menembus celah-celah daun pohon
mangga, memantulkan warna perak di rambutnya yang kini dikepang lebih rapi.
"Kamu
yakin tidak menyesal menikahi janda tua yang bicaranya hanya dengan
mamalia?" bisiknya pelan, hampir tak terdengar di antara desau angin, saat
aku menyematkan cincin emas sederhana di jari manisnya.
Aku
menatap matanya yang hitam, dalam, dan tenang. "Aku tidak menikahi seorang
janda tua, Rini. Aku menikahi pendengar terbaikku, dan satu-satunya orang yang
tahu cerita mana yang pantas diselamatkan dari kepalaku," jawabku
tersenyum manis.
Namun,
kedamaian bulan madu kami dipotong dengan kejam oleh dua hal yang datang hampir
bersamaan di meja kerja teras rumah.
Yang
pertama adalah sepucuk surat dinas rahasia bersampul cokelat tebal dengan cap
Garuda Merah dari Markas Besar—sebuah panggilan tugas ke Timur yang tidak
mungkin kutolak.
Yang
kedua, dan yang paling mengejutkan, adalah sebuah berkas otopsi lama yang
ditemukan secara tidak sengaja oleh Napoleon ketika sapi jantan itu menggesekkan
tanduknya hingga meruntuhkan papan lantai kandang yang membusuk. Berkas itu
adalah laporan medis asli milik almarhum Mas Bowo. Di sana tertulis dengan
tinta merah yang mulai memudar: terdapat jejak racun pelumpuh saraf golongan
keras di pakaian olahraga yang ia kenakan pada malam kecelakaan tunggal itu.
Mas
Bowo tidak mati karena rem blong atau kelalaian berkendara di jurang bukit.
Seseorang telah meracuninya sebelum mobil itu jatuh. Kebenaran yang tertimbun
selama bertahun-tahun kini mencuat ke permukaan, menuntut sebuah penyelesaian
yang tak lagi bisa didebat.
Bagian
II: Dua Garis Depan
Malam
sebelum keberangkatanku, suasana teras rumah terasa sangat pekat. Teh melati
yang mengepul di antara kami tidak mampu mencairkan ketegangan yang merayap
dari arah kandang sapi. Rini menatap berkas otopsi itu tanpa air mata, namun
matanya memancarkan kilatan dingin yang belum pernah kulihat sebelumnya—sebuah
tekad mutlak yang mengingatkanku pada karakter fiksi yang haus akan pembalasan
dendam yang presisi.
"Kita
membagi tugas, Dani," kata Rini malam itu, suaranya terdengar sangat datar
namun menusuk hingga ke tulang. "Tugasmu adalah negara. Selamatkan para
peneliti botani yang disandera kelompok teroris di Timur. Biarkan senjatamu
bicara di sana. Tapi di desa ini, urusan Mas Bowo adalah urusanku. Aku dan
anak-anak yang akan menyelesaikannya sampai ke akar." Yang ia maksud
dengan 'anak-anak' tentu saja adalah tujuh ekor sapi yang saat itu berdiri
tegak dalam formasi melingkar di kegelapan kandang.
Keesokan
harinya, aku sudah berada di dalam helikopter tempur menuju pedalaman hutan
sagu di Indonesia Timur. Tugas taktisku sangat berat: memimpin tim kecil untuk
membebaskan tiga peneliti botani yang disandera oleh kelompok kombatan
bersenjata ekstrem. Di tengah desingan peluru, bau mesiu, dan lumpur yang
mengisap sepatu laras, aku harus menggunakan seluruh insting bertarungku.
Menembak, merayap, dan bertarung tangan kosong di bawah guyuran hujan tropis,
sembari terus mengingat pesan Rini di halaman buku lamaku: orang yang pandai
bertahan hidup harus tahu kapan harus bergerak.
Sementara
aku bertaruh nyawa di Timur, di tanah Jawa, Rini memulai spionase lokalnya
dengan metode yang sangat tidak biasa. Pejabat korup yang suaranya terekam di
ponsel tua Mas Bowo dikabarkan kembali ke desa untuk meresmikan proyek
perluasan tambang ilegal di bukit belakang. Pejabat itu tidak pernah menyadari
bahwa sekelompok sapi yang sering terlihat merumput di tepi bukit adalah
jaringan pengintai yang sangat peka. Margaret diposisikan di dekat jalur lintas
ajudan untuk membaca rutinitas mereka, sementara Napoleon dan Arjuna dilatih
untuk mengenali getaran suara mesin mobil sang pejabat dari kejauhan.
Bagian
III: Ketika Sapi Berbicara dengan Tindakan
Rencana
pembalasan itu dieksekusi pada malam musim hujan yang sangat lebat. Berkat
sabotase cerdik dari Dewi Persik yang dilepaskan di dekat gardu genset
utama—sapi itu menyenggol tiang penyangga hingga memutus kabel distribusi utama
seluruh kamp proyek tambang ilegal mendadak gelap gulita dan dilanda kepanikan
massal.
Sang
pejabat yang ketakutan segera masuk ke dalam jip hitamnya, mencoba melarikan
diri sendirian melewati jalan setapak perbukitan yang licin dan sepi. Namun, di
tengah tikungan tajam yang diapit jurang, jip mewah itu terpaksa mengerem
mendadak hingga rodanya tersendat di lumpur.
Di
depan lampu sorot mobil yang menembus tirai hujan, berdiri Rini dengan anggun
mengenakan kebaya hitam pekat. Di tangan kanannya, ia memegang sekop tua milik
Mas Bowo yang berkarat. Di kiri dan kanannya, tujuh ekor sapi berdiri kokoh
membentuk formasi barikade hidup yang mengunci seluruh ruang gerak kendaraan.
"Siapa
kamu?! Singkirkan hewan-hewan sialan ini dari jalanku!" teriak pejabat itu
dari jendela jip, wajahnya pucat pasi dikejar ketakutan.
Rini
berjalan mendekat dengan langkah yang teratur, membiarkan air hujan membasahi
wajahnya yang tanpa ekspresi. "Aku adalah cerita yang lupa kamu selamatkan
delapan tahun lalu," kata Rini dingin, suaranya mengalahkan gemuruh petir.
Sebelum
pejabat itu sempat memundurkan mobilnya, Napoleon mendengus sangat keras dan
menghantam kap mesin jip dengan sundulan kepalanya yang sekeras baja hingga
mesin mati seketika. Arjuna menyusul dengan sepakan kaki belakangnya yang
menghancurkan pintu kemudi hingga engselnya lepas terlempar. Pejabat itu
merangkak keluar dengan gemetar, menangis di atas tanah lumpur yang dingin,
dikelilingi oleh tujuh pasang mata besar hitam yang menatapnya tanpa ampun dari
kegelapan. Malam itu, tanpa perlu ada senjata api, sebuah keadilan ditegakkan
dalam keheningan yang mencekam.
Bagian
IV: Kepulangan dan Cerita Baru
Dua
minggu setelah operasi militer di Timur dinyatakan sukses besar, aku akhirnya
pulang. Langkah kakiku agak pincang, seragam tempurku robek di beberapa bagian,
dan lengan kiriku dibalut perban putih akibat serpihan granat musuh. Namun,
saat taksi menurunkanku di depan pagar kayu yang miring itu, rasa lelahku
menguap seketika. Bau rumput basah, tanah, dan kehangatan yang khas kembali
menyambut penciumanku.
Rini
sedang duduk tenang di teras rumah, menyesap kopi hitam dari cangkir keramik
tua. Di atas meja, selembar koran pagi menampilkan berita utama di pojok bawah:
Seorang Pejabat Tinggi Ditemukan Linglung dan Gila di Hutan Bukit Krajan,
Tubuhnya Penuh Memar Tanpa Bekas Senjata, Mengaku Disiksa oleh Hantu Sapi
Raksasa. Pihak kepolisian menutup kasus tersebut dan menganggap sang
pejabat mengalami delusi hebat akibat tekanan psikologis dari kasus korupsi
besarnya yang secara misterius bocor ke publik melalui dokumen anonim malam
itu.
Margaret
berjalan perlahan mendekatiku yang baru turun dari mobil. Sapi tua itu
mengendus lengan kiriku yang diperban, lalu menjilatnya dengan lidahnya yang
kasar namun terasa sangat hangat.
"Dia
tahu kamu terluka dan dia tahu kamu berhasil pulang dengan selamat," kata
Rini, berdiri dari kursinya dan berjalan menghampiriku dengan senyuman paling
tulus yang pernah kulihat.
"Dan
aku tahu kamu sudah menyelesaikan bagian ceritamu yang paling berat,"
jawabku sembari merengkuh tubuhnya ke dalam pelukanku.
Di
halaman belakang, enam sapi lainnya berdiri berbaris rapi menghadap ke arah
kami. Mereka tidak lagi menatap bukit yang jauh atau menunggu bayangan masa
lalu. Mereka menatap kami berdua, pelindung mereka, yang akhirnya telah
menyelesaikan dendam lama dan siap menulis lembaran cerita baru bersama-sama
dalam kesunyian yang damai.
Note: Ini hanyalah cerita fiksi, jadi jangan terlalu
diambil hati.

0 komentar: